
Kini aku sendiri. Zeon yang tidak lagi memedulikanku dan Yoga yang pergi. Ke mana aku harus mengadu sekarang?
Dua tahun kebersamaan bersama Yoga bukanlah waktu yang sebentar. Yoga terus menjaga dan menemani Tania ke manapun Tania pergi. Dan kini Tania merasa kehilangan. Keputusan bulat untuk tinggal sendiri tak lagi bisa dilarang. Tania pun hanya bisa menunduk sedih di sofa ruangan. Ia bak seorang diri dalam mengarungi kehidupan.
Sementara itu...
Yoga segera melajukan mobilnya meninggalkan apartemen sang kakak. Ia akan segera menempati hunian baru yang telah disewa untuk beberapa bulan ke depan. Yang mana jarak dari apartemen Zeon ke tempat tinggalnya sekitar lima belas menit perjalanan. Yoga pun mengambil sebuah rumah kontrakan dengan dua kamar di dalamnya. Mirip seperti hunian di perumahan.
Kini adik dari Zeon itu tampak memikirkan apa yang terjadi barusan. Di mana Tania memeluknya dari belakang sambil mengucapkan kata jangan pergi kepadanya. Dan entah mengapa hati Yoga merasa teriris mengingatnya. Ia terus memikirkannya. Sampai akhirnya ia memasuki sebuah kawasan perumahan. Di saat itulah ia kurang fokus melajukan mobilnya. Dan tiba-tiba saja ada seseorang gadis yang menyeberang di depannya.
"Akh!"
Gadis itu pun terkena badan mobil Yoga. Sontak ia terjatuh di depan mobil Yoga. Yoga pun segera mengerem mendadak mobilnya. Ia terkejut melihat apa yang terjadi di depannya.
__ADS_1
"Astaga!" Yoga pun segera keluar dari mobilnya. "Nona!" Yoga mendekati gadis itu yang sedang memegangi lututnya. "Kau tak apa?' Yoga pun merasa bersalah.
Gadis itu tampak kesakitan. "Tuan, mengapa Anda tidak melihat-lihat lagi saat berkendara? Jelas-jelas aku ingin menyeberang, tapi Anda malah menginjak gas!" Gadis itu menggerutu kesal.
Menginjak gas?! Astaga ....
Saat itu juga Yoga tersadar jika ia kurang fokus dalam melajukan mobilnya. "Kita ke rumah sakit, ya? Aku akan mengobatimu."
Tapi Yoga adalah pemuda yang bertanggung jawab. Ia berniat mengantarkan gadis itu ke rumah sakit untuk diobati. Tanpa ada rasa curiga sama sekali terhadap gadis yang baru dikenalnya. Yoga menjalani kewajibannya.
Yoga tampak tak enak hati sendiri. "Kalau begitu kita ke apotek saja. Aku akan membelikan desinfektan untuk lukamu. Mari." Yoga berniat memapah gadis itu ke dalam mobilnya.
Gadis itu pun setuju. Mereka akhirnya menuju ke apotek terdekat untuk membeli obat luka gadis tersebut. Seorang gadis cantik bak boneka berbie dengan bulu mata yang lentik.
__ADS_1
Satu jam kemudian...
Luka-luka pada gadis itu telah diobati. Dan kini Yoga berniat mengantarkan gadis itu ke tempat tujuannya. Tapi ternyata mereka mempunyai arah tujuan yang sama.
"Jadi kau berniat ke gedung LFS?" Yoga menyinggung gedung tempat Zeon memimpin perusahaan.
Gadis itu mengangguk. "Aku mendapat panggilan dari CV yang kukirimkan ke sana. Aku berniat mencari kerja." Gadis itu menceritakan sambil duduk di samping Yoga.
"Kau ingin melamar sebagai karyawan perusahaan?" tanya Yoga lagi kepada gadis itu.
Gadis cantik itu menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku masih kelas tiga SMA. Aku masih sekolah," jawab gadis itu.
Yoga pun mengernyitkan dahinya. "Jadi maksudmu?" tanya Yoga memastikan.
__ADS_1
"Aku ingin melamar jadi model. Kudengar perusahaan itu membutuhkan model untuk mendukung pemasaran produknya." Gadis itu menjelaskan.