
Yoga senang. Ia merasa Naira memberi lampu hijau untuk memulai pendekatan. "Kau bisa memanggilku dengan sebutan Yoga. Jangan tuan lagi ya." Yoga pun meminta.
"Baiklah, Tuan Yoga," kata Naira.
"Eh?!" Yoga pun terbelalak seketika.
Naira tertawa. "Yoga?" Dengan intonasi penuh tanya Naira mengatakannya.
Yoga mengangguk. "Aku sedang senggang hari ini. Boleh kubantu membuka tokonya?" tanya Yoga memberanikan diri.
"Boleh. Asal tidak minta bayaran saja," jawab Naira lagi.
"Hahahaha."
__ADS_1
Yoga tertawa. Ia pun segera membantu Naira menyusun bunga pagi ini. Yoga akan memulai pendekatannya kepada Naira. Ia ingin mengisi kekosongan yang ada di hatinya. Naira pun seperti tidak keberatan menerima Yoga. Alhasil pertemanan mereka pun dimulai hari ini.
Pukul satu siang waktu ibu kota dan sekitarnya...
Yoga pulang ke apartemen kakaknya dengan hati riang dan gembira. Ia pun bersiul dengan nada yang indah. Sesampainya di apartemen ia juga tidak lagi menemukan Zeon atau Tania di sana. Apartemen sudah sepi dan saatnya Yoga untuk beristirahat segera.
Belum lama ini Yoga berhasil berkenalan dengan Naira. Dan belum lama ini juga Yoga berhasil mendapatkan nomor ponsel Naira. Dan kini keduanya saling menyimpan nomor masing-masing. Yoga pun segera masuk ke kamarnya. Merebahkan diri di kasur lalu mengirimkan pesan ke Naira.
/Selamat bekerja, Naira./
/Tadi katanya mau tidur. Kenapa masih mengirim pesan padaku?/
Yoga pun membaca pesan dari Naira. Ia segera membalasnya.
__ADS_1
/Kirim pesan saja tidak boleh. Lalu apa yang boleh kulakukan? Melamarmu?/
Yoga mulai membuai dengan kata-katanya. Yang mana membuat dirinya seperti orang gila. Baru berkenalan sudah ingin melamar. Naira pun tertawa menerima pesan tersebut. Tapi ia tidak membalasnya.
Biarkan saja.
Sementara Yoga sendiri masih menunggu balasan Naira. Ia pun mengingat kembali pertemuannya hari ini. Bagaimana dirinya yang membantu membuka toko bunga Naira. Yoga juga ikut menyusun bunga dan mengelap meja kasirnya. Yoga menunjukkan kepeduliannya terhadap Naira.
"Dia cantik, imut dan juga lucu. Tapi apakah dia belum punya pacar? Aku sampai lupa menanyakan siapa pria berbaju tentara yang menjemputnya semalam. Dia begitu ramah dan membuka banyak obrolan. Sepertinya aku bisa mengalihkan perhatianku dari Tania ke dirinya. Ya semoga saja."
Yoga masih berusaha melupakan Tania yang begitu memukau pandangan matanya. Yoga mengakui jika ia menyukai Tania. Tapi ia juga sadar jika Tania adalah kekasih kakaknya. Dan Yoga tidak mungkin memilikinya. Ia cukup tahu diri untuk mendahului kakaknya. Maka dari itu ia membuka hatinya untuk Naira. Berharap Naira melakukan hal yang sama padanya. Tapi Yoga sendiri masih diliputi rasa kekhawatirannya akan Naira. Yoga takut Naira sudah mempunyai pacar.
Lantas AC yang dinyalakan di kamar pun mulai membuatnya mengantuk setelah semalaman tidak bisa tidur. Kedua matanya perlahan terpejam untuk beristirahat sebentar. Dengan ponsel yang masih standby di sampingnya. Yoga berharap dapat memimpikan Naira. Seorang gadis yang ditemuinya secara tak sengaja.
__ADS_1
Sore harinya...
Dering ponsel terdengar berulang kali. Layar ponsel juga menyala kembali. Terlihat ada panggilan masuk di ponsel Yoga. Yoga yang sedang tertidur pun tersadar jika ada telepon masuk untuknya. Ia segera meraba-raba kasur untuk menemukan ponselnya. Lalu kemudian segera mengangkat teleponnya.