
Malam ini menjadi saksi Naira yang pulang ke rumah bibinya dengan derai air mata yang ingin tumpah. Tampak gadis cantik yang merupakan calon seorang dokter itu sedang menahan rasa sakit di hatinya. Sang bibi pun mencoba bicara padanya. Tapi Naira tidak menghiraukannya.
"Naira, ada apa? Tolong bukakan pintunya." Sang bibi pun meminta.
Naira tidak menjawab bibinya. Ia terus saja memendam perasaan sakit di hatinya. Tapi nyatanya ia tak sanggup lagi menahan deraian air mata yang ingin tumpah. Naira pun menangis di atas kasurnya. Ia tak menyangka akan melihat kejadian ini di depan matanya.
Jadi dia sudah punya pacar? Kenapa aku bodoh sekali? Kenapa aku menyukai pria yang sudah mempunyai pasangan? Bodoh kau, Naira. Bodoh!
Naira pun mencerca dirinya. Ia sakit hati. Kecewa yang luar biasa terhadap dirinya sendiri. Harus ia akui jika mulai jatuh hati kepada Yoga. Tapi ia tak menyangka akan seperti ini jadinya. Naira melihat jelas bagaimana Yoga yang berpelukan dengan seorang wanita di kamar hotel. Hatinya kacau seketika.
"Naira, tolong buka pintunya! Bibi mau bicara!"
__ADS_1
Sedang sang bibi terus memintanya untuk membukakan pintu. Naira pun tersadar sedang berada di mana. Ia lekas mengusap air matanya yang jatuh. Naira membukakan pintu untuk bibinya.
"Bibi." Naira pun menyapa bibinya.
Sang bibi tampak khawatir. "Ada apa? Kenapa pulang dengan tergesa-gesa?" tanya bibinya. "Lalu ini apa?" Bibi Naira melihat mata Naira yang memerah. Sang bibi tahu jika Naira baru saja menangis.
Naira merasa sedih sekali. Ia kemudian memeluk bibinya. Naira tidak bisa menanggung sendiri penderitaan di hatinya. Ia butuh teman untuk berbagi cerita.
"Jadi begitu."
Naira menceritakan kepada sang bibi apa yang terjadi malam ini. Tentu saja bibi Naira terkejut. Tapi ia mencoba untuk tidak melihatnya hanya dari satu sisi saja. Kebenaran akan siapa wanita itu belum diketahui olehnya. Bibi Naira pun berusaha mendinginkan hati keponakannya.
__ADS_1
"Bibi rasa kita tidak bisa memandang seseorang hanya dari satu sisi saja. Mungkin yang kau lihat itu adik Yoga atau saudaranya. Berbaik sangkalah." Sang bibi meminta.
Naira menghirup napas panjang-panjang agar tidak lagi bersedih. Tapi matanya yang memerah karena tangisan itu tidak bisa membohongi. Jika hatinya benar-benar terluka saat ini.
"Yoga tidak pernah bercerita jika dia mempunyai adik, Bi. Dia juga tidak pernah bilang jika mempunyai saudara perempuan. Naira rasa itu memang pacarnya. Dia meninggalkan Naira begitu saja di taman kota demi wanita itu. Rasa-rasanya Naira tidak berharga." Naira mengungkapkan unek-unek di hatinya.
Sang bibi mengusap kepala Naira. "Bibi mengerti perasaanmu. Tapi ada kalanya cinta memang harus diuji. Jadi anggaplah ini ujian cinta kalian. Bibi rasa Yoga juga menyukaimu. Dari gerak-geriknya dia tertarik padamu. Jadi jangan berpikir yang tidak-tidak sebelum mendengar sendiri apa alasannya. Kau harus bisa mengerti keadaannya." Sang bibi berusaha menengahi.
Naira mengusap air matanya. "Mungkin Naira juga yang salah, Bi. Terlalu cepat tertarik padanya. Padahal Naira belum tahu siapa dia sebenarnya." Naira mengaku salah.
Sang bibi menggelengkan kepalanya. "Sudahlah. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ikuti saja jalan ceritanya. Jika dia memang jodohmu, pasti akan kembali. Sekarang beristirahatlah dan tenangkan pikiranmu." Sang bibi menyarankan.
__ADS_1