
Beberapa hari kemudian...
Hari terus berlalu tanpa henti. Meninggalkan suka atau duka yang pasti. Begitu juga dengan perasaan Tania saat ini. Yang mana Zeon belum juga memberi kabar kepadanya. Tania pun memutuskan untuk pergi dari apartemen Zeon. Ia tidak lagi ingin tinggal di sana.
Perasaan sedih bercampur amarah itu menggerogoti hatinya. Ia tak mengerti mengapa semua bisa terjadi. Andai waktu bisa terulang, mungkin ia akan menurut saja tanpa mengungkapkan rasa cemburunya. Tapi kini semua sudah terjadi. Zeon pun tak lagi memedulikannya. Dan kini hanya sesal yang tertinggal di hati. Tania kehilangan kepercayaan diri.
Zeon, janjimu ternyata palsu. Kau bilang akan menghubungiku, tapi sampai saat ini tak ada juga kabar darimu.
Sambil membawa koper besar, Tania keluar dari apartemen Zeon. Ia berniat menyewa apartemen baru sebagai tempat tinggal. Ia ingin melupakan semua kenangannya bersama Zeon. Tania tidak lagi mempunyai alasan untuk bertahan. Ia telah kehilangan arah tujuan.
__ADS_1
Tak lama sebuah mobil pajero hitam pun menjemputnya. Seorang pria paruh baya datang untuk menjemputnya. Tania pun tersenyum kepada pria itu. Ia telah menandatangani kontrak bersama.
Beberapa menit kemudian...
Tania bersama pria paruh baya itu sedang berada di perjalanan. Tampak Tania yang diam tanpa bisa berkata apa-apa manakala melihat lembaran foto yang diterimanya. Tania tak percaya jika pria di dalam foto itu adalah Zeon. Tania terbelalak melihatnya.
"Aku mengabarkan hal ini karena merasa kasihan padamu, Nona. Wanita secantikmu harus tergeser oleh daun muda. Aku tak mengerti mengapa Zeon menyia-nyiakanmu. Padahal yang kutahu kau sangat setia." Pria paruh baya itu menghasut Tania.
Sedih, kacau, marah, putus asa, itulah yang Tania rasakan. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Tapi sepertinya pria paruh baya itu mengerti apa yang Tania inginkan.
__ADS_1
"Aku bisa membantu menghilangkan kesedihanmu. Terimalah kotak pemberianku ini. Ini akan sangat membantu."
Pria paruh baya itu memberikan sebuah kotak hitam kepada Tania. Tania pun menerimanya. Tak lama ia pun meremas semua foto yang diterimanya. Tania tak terima Zeon melakukan hal ini padanya.
Ibu kota pukul dua siang waktu sekitarnya...
Cuaca cerah mengiringi kedatangan seorang gadis yang baru saja masuk ke kelasnya. Namun, ia datang dengan wajah lesu dan sendu. Tampak dirinya yang tidak mengindahkan panggilan masuk di ponselnya. Gadis cantik yang merupakan calon seorang dokter itu seperti tidak memedulikan siapa yang meneleponnya. Yang mana Yoga lah yang meneleponnya. Ialah Naira yang membiarkan ponselnya terus bergetar tanpa mengangkat teleponnya.
Yoga sendiri mulai khawatir karena Naira tidak mengangkat teleponnya lagi. Sejak semalam ia berusaha menghubungi Naira. Tapi Naira tidak mengindahkannya juga. Yoga pun mulai kepikiran dengan Naira. Ia merasa bersalah. Lantas ia bertekad untuk menemui Naira segera.
__ADS_1
Pasti dia marah karena aku baru bisa menghubunginya. Naira, maafkan aku. Aku terlalu banyak urusan di sini.