MENCINTAI KEKASIH KAKAKKU

MENCINTAI KEKASIH KAKAKKU
Kepergok


__ADS_3

"Siapa dia, Naira?" tanya paman Naira yang memergoki Naira diantar pulang oleh seorang pria.


"Paman? Dia temanku," jawab Naira.


"Teman? Jangan bilang dia menyukaimu." Paman Naira menduga.


Naira tersenyum. "Tidak, Paman. Kami hanya sebatas teman. Jikalau dia serius, pasti juga akan langsung bilang ke Paman. Naira berbenah dulu ya." Naira pun berpamitan kepada pamannya.


Naira merupakan anak dari kakak pamannya. Sehingga ia tinggal di rumah sang paman untuk sementara. Naira mengambil kuliah kedokteran di ibu kota untuk menggapai cita-citanya. Karena ia ingin sekali menjadi seorang dokter yang mengharumkan nama desanya. Dan Naira sedang berjuang untuk itu semua. Sehingga sang paman sangat melindunginya.


Naira sendiri merupakan anak ke dua dari pasangan ayah ibunya di desa. Sedang kakaknya seorang pria yang juga bekerja sebagai tentara. Naira kuliah kedokteran dengan menjual hasil kebun ayah dan ibunya. Sehingga ia harus baik-baik memanfaatkan kesempatan yang ada. Karena kuliah jurusan kedokteran tidaklah murah.


Kini Naira meletakkan tas kuliahnya lalu bergegas mandi. Ia akan bergantian menjaga anak sang paman yang baru lahir ke dunia. Ia tidak keberatan membagi waktunya untuk merawat sang bayi. Karena Naira menyukai anak kecil. Ia juga merupakan seorang penyayang kepada keluarganya.

__ADS_1


Malam harinya...


Malam ini langit cerah berbintang tanpa awan mendung yang berarak di angkasa. Di sana, di apartemen Zeon tampak Yoga yang sedang menunggu kakaknya keluar dari kamar. Zeon baru saja pulang bekerja. Sedang Tania masih sibuk di sebuah acara.


Zeon mengenakan kaus oblongnya lalu mendekati sang adik yang sedang duduk di sofa. "Kau mau bicara apa?" tanya Zeon kepada adiknya.


Yoga menunggu kakaknya duduk di sofa. "Aku ingin pekerjaan tetap. Bisakah Kakak memberikannya?" tanya Yoga kepada Zeon.


"Berapa?" Yoga pun segera menanyakannya.


"Staf gudang hanya berkisar tiga sampai empat juta per bulannya. Sedang staf pemasaran bisa sampai lima juta tergantung besar penjualannya. Jika ingin bekerja di kantor, kau bisa mendapatkan empat juta setiap bulannya. Hanya saja sering lembur dan tidak bisa pulang cepat ke rumah. Kau bisa mempertimbangkannya." Zeon memberi gambaran kasar akan pekerjaan tetap yang Yoga inginkan.


"Apakah tidak bisa bekerja di kantor dengan gaji yang ditambahkan dua atau tiga juta?" Yoga bernegosiasi.

__ADS_1


Zeon mengangguk. Ia meniup kopi yang sudah tersedia di atas meja. Zeon mulai meneguknya. Ia juga menyadari jika sesuatu telah terjadi pada adiknya sehingga sang adik meminta pekerjaan tetap. Yang mana hal itu membuat Zeon menimbang ulang gaji adiknya.


"Baiklah. Kau bisa mendapatkan tujuh juta dalam setiap bulan. Tapi harus lembur tiga kali dalam seminggu." Zeon memutuskan.


Yoga menyetujuinya. "Baiklah. Aku setuju. Tapi apakah masih bisa menerima misi darimu?" Yoga ingin mendapatkan lebih.


Zeon tersenyum simpul mendengar ucapan adiknya. Ia kemudian meletakkan kopinya ke atas meja. "Apa kau sedang ingin melamar seseorang?" Ia menduganya.


Yoga menarik napas dalam-dalam. "Tidak. Aku hanya ingin mempunyai tabungan lebih saja." Yoga menuturkan.


"Bukankah tabunganmu sudah ada ratusan juta selama dua tahun terakhir ini?" tanya Zeon kembali.


Yoga mengangguk. Ia mengakuinya. "Hanya dua ratus juta. Itu belum cukup untuk melamar seorang dokter," kata Yoga yang membuat Zeon terperanjat seketika.

__ADS_1


__ADS_2