
Yoga dermawan dan mau berbagi kepada Eno yang masih menempuh jalur pendidikan. Hubungan mutualisme pun terjalin baik di antara mereka. Berharap persahabatan ini abadi selamanya.
Esok harinya...
Cuaca cerah tanpa ada awan mendung berarak di angkasa. Tampak suasana di ibu kota padat merayap dengan lalu lintas kendaraan. Untungnya saja Yoga sudah sampai di apartemen kakaknya. Jika tidak, ia akan terkena macet yang parah. Dan kini ia pun masuk ke apartemen sang kakak dengan menggunakan kunci cadangan yang ia punya.
Semalaman Yoga merenung dan menimbang ulan saran dari Eno untuk tetap bekerja seperti biasanya, walau nyatanya Zeon sudah bersikap kurang menyenangkan hatinya. Tapi kepulangan Yoga kali ini bukan untuk beristirahat di apartemen kakaknya. Melainkan karena ingin mengambil pakaiannya. Yoga sudah mempunyai tempat tinggal yang baru walaupun masih berstatus sewa. Ia ingin hidup mandiri tanpa bayang-bayang sang kakak dan juga kekasihnya. Yoga ingin melupakan kejadian sebelumnya.
Kenapa apartemen tampak sepi? Apakah mereka sudah pergi semua?
Yoga pun melangkahkan kakinya menuju kamar. Ia melihat keadaan apartemen yang begitu sepi. Tanpa suara, tanpa kehadiran sang kakak ataupun Tania di sana. Namun, saat mendekati kamarnya, Yoga seperti mendengar suara seorang wanita sedang menangis. Ia pun menuju ke asal suara untuk memperjelas pendengarannya. Dan ternyata suara itu berasal dari kamar kakaknya.
__ADS_1
Tania?!
Lantas Yoga pun membuka pintu kamar kakaknya. Dan ternyata memang benar jika ada Tania di sana. Terlihat Tania yang sedang menangis di pinggir kasurnya. Yoga pun segera mendekatinya.
"Tania, apa yang terjadi?!"
Yoga berjalan cepat hingga membuat Tania menyadari jika adik dari kekasihnya itu sudah pulang. Ia pun segera berlari ke Yoga. Memeluk Yoga sambil mengeluarkan isak tangisnya.
Begitulah yang Tania katakan kepada Yoga saat ini. Yoga pun tampak terheran-heran dengan sikap Tania. Ia kemudian memegang lengan Tania lalu menjauhkan tubuhnya. Yoga melepaskan pelukan Tania.
Yoga menatap Tania. "Apa yang terjadi padamu? Apakah ada orang yang berbuat jahat padamu?" tanya Yoga ke Tania.
__ADS_1
Tania mengusap air matanya. Ia kemudian menunduk sedih di hadapan Yoga. "Aku ... aku ingin pergi saja dari sini. Zeon sudah tidak lagi memedulikanku." Tania mengatakannya.
Yoga menelan ludahnya. "Apakah terjadi sesuatu pada kalian?" tanya Yoga kembali.
Tania pun segera menceritakan apa yang terjadi semalam. Di mana Zeon tidak lagi memedulikannya dan malah mengantarkan Naira pulang. Sontak Yoga merasa miris mendengar kejadian ini.
Jadi kakak benar-benar kepincut Naira? Mengapa dia sampai segila ini dan tidak memikirkan bagaimana perasaan Tania yang sudah bertahun-tahun bersamanya?
Yoga merasa kesal. Hatinya terasa panas kala mendengar cerita Tania. Ia kemudian mencoba menenangkan Tania. Meminta Tania untuk tetap bertahan sampai di ujung kesabaran. Karena saat ini Yoga belum bisa menyelidiki apa yang sebenarnya diinginkan kakaknya.
"Tania, tolong menunggu kakak sebentar. Mungkin kakak masih banyak urusan dan sedang pusing menghadapi masalah di kantornya. Lebih baik kau beristirahat saja." Yoga menenangkan.
__ADS_1
Tania mengangguk. Ia kemudian mencoba menerima saran dari Yoga walau kenyataannya hatinya masih sakit dengan perlakuan Zeon semalam. Tania mencoba berlapang dada. Sedang Yoga kembali ke tujuan awalnya. Ia datang ke apartemen untuk mengambil pakaiannya. Yoga akan pisah rumah dengan sang kakak dan Tania.