
...Naira...
.........
"Zeon!"
Tania memanggil Zeon. Sontak Zeon pun menoleh ke arah Tania. Ia tidak jadi masuk ke dalam mobilnya.
"Tania?" Zeon terlupa jika masih ada Tania di acara pesta.
"Siapa dia? Kenapa kau meninggalkanku untuknya?" tanya Tania yang mulai marah.
"Nanti kuceritakan. Aku antar dia pulang dulu." Zeon berniat masuk ke mobilnya.
"Tunggu!" Tania pun segera menahannya. "Kau meninggalkanku tanpa memikirkan bagaimana keadaanku yang sendiri di pesta ini?" Tania tak menyangka. "Aku ikut!"
Tania memegang tangan Zeon. Tak membiarkan Zeon pergi dari hadapannya. Tampak Naira yang melihat kejadian itu dari dalam mobil Zeon. Ia pun tidak enak hati sendiri. Namun, karena tidak mempunyai perasaan apa-apa, Naira bersikap biasa saja.
Zeon pun melepaskan tangan Tania. "Nanti aku kembali. Tunggu aku di sini."
__ADS_1
Pada akhirnya Zeon masuk ke dalam mobilnya lalu segera melajukan kendaraan keluar halaman parkir pesta. Tania pun kesal sejadi-jadinya.
"Zeon! Zeon!"
Namun, Zeon tidak menggubrisnya. Tania ditinggalkan begitu saja di acara pesta. Ia seolah tidak memedulikan bagaimana perasaan Tania.
"Tuan, tadi itu kekasihmu?" tanya Naira sambil menahan rasa lelahnya.
"Bukan. Kami hanya teman dekat." Zeon pun berkata seperti itu sambil terus melajukan mobilnya.
Naira tampak bertanya-tanya. "Tapi dia kelihatan marah sekali." Naira pun berkata lagi.
Naira mengangguk. Ia pun tidak mempermasalakannya. Ia sudah sangat lelah sehingga ingin beristirahat saja. Pada akhirnya Naira pun menantikan sampai di rumah bibinya. Sedang Zeon terus melajukan mobil untuk mengantarkan Naira pulang. Ia mengabaikan getaran ponsel yang ada di saku celananya. Yang mana ada sebuah telepon masuk untuknya. Yang tak lain adalah dari Tania.
Dua puluh menit kemudian...
"Jadi di sini rumahmu?" tanya Zeon ke Naira saat sudah tiba di depan rumah bibi Naira.
"Ini rumah bibiku. Aku belum punya rumah, Tuan," jawab Naira polos.
Zeon tersenyum. Naira pun bergegas turun dari mobil. Tapi, saat itu juga Zeon menahan tangan Naira.
__ADS_1
"Naira." Zeon memegang tangan Naira. Ia mengeluarkan kartu nama dari saku jasnya. "Jika perlu apa-apa, hubungi aku." Ia berpesan kepada Naira.
Naira pun mengangguk karena sudah terlalu lelah. "Terima kasih telah mengantarkanku, Tuan. Selamat malam." Naira pun segera keluar dari mobil Zeon.
Zeon mengangguk. Naira pun lekas masuk ke halaman rumah bibinya. Sedang Zeon masih memerhatikan Naira dari jauh.
Dia cantik, polos, dan juga masih harus banyak belajar dariku.
Pada akhirnya Zeon pun segera melajukan mobilnya dari depan kediaman bibi Naira. Ia berniat kembali ke acara pesta untuk menjemput Tania. Ya, Zeon dan Tania akan pulang ke apartemen bersama. Dengan wajah Naira yang terbayang-bayang di benaknya. Zeon mulai memikirkan Naira.
Satu jam kemudian...
Zeon dan Tania sudah kembali ke apartemen bersama. Dan kini keduanya baru saja sampai. Di sepanjang perjalanan pulang, Tania diam kepada Zeon. Zeon pun tidak berkata apa-apa. Ia membiarkan Tania dalam rasa kesalnya.
"Tolong buatkan aku teh," pinta Zeon kepada Tania saat melepas jasnya.
"Aku lelah. Aku ingin tidur segera." Dan untuk yang pertama kalinya Tania menolak permintaan Zeon.
"Tania, kenapa kau seperti itu?" Zeon pun bertanya kepada Tania.
Tania mengembuskan napas kesalnya. "Aku lelah. Memangnya tidak boleh aku lelah?" tanya Tania dengan nada melawan. Zeon pun tersadar jika Tania sedang marah kepadanya.
__ADS_1