
"Delapan belas tahun," jawab Naira segera.
Saat mendengarnya, saat itu juga Yoga membenarkan isi pikirannya. Jika Naira memang berusia lebih muda darinya. Yoga pun tersenyum kepada Naira.
"Kau sudah punya pacar?" tanya Yoga lagi.
Naira tertunduk malu di samping Yoga. "Kenapa menanyakan hal itu?" Naira bertanya balik kepada Yoga.
"Em ...," Yoga berpikir sejenak agar tidak salah bicara. "Aku khawatir saat makan seperti ini, dia datang lalu salah paham padamu. Maka dari itu aku menanyakannya lebih dulu." Yoga menuturkan.
Naira menghela napasnya. "Aku tidak boleh pacaran oleh paman. Kalau serius langsung saja bilang sama paman." Naira menuturkan.
"Paman???" tanya Yoga lagi.
"He-em." Naira mengangguk. "Tapi dia pulang ke rumah jarang sekali. Mungkin dua bulan sekali." Naira menceritakan.
"Apakah pamanmu seorang tentara?" tanya Yoga kembali.
"Eh?!" Naira terkejut. "Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Naira yang membuat Yoga menyadari siapa pria yang menjemput Naira malam itu.
__ADS_1
Ternyata itu pamannya.
Yoga pun merasa lega. Akhirnya ia mengetahui siapa pria yang menjemput Naira malam itu. Tak lain tak bukan adalah paman Naira sendiri. Yoga pun jadi berbesar hati untuk mendapatkan Naira kembali.
"Em, aku juga masih sendiri." Yoga mengungkapkan status hubungannya.
"Kau kuliah? Atau bekerja?" tanya Naira ingin tahu.
Yoga tersenyum. "Aku tidak kuliah. Aku juga tidak bekerja," jawab Yoga.
Saat itu juga Naira menelan ludahnya.
"Em, tidak. Bukan begitu. Tapi paman bilang jika ingin serius menjalin hubungan dengan seseorang, maka carilah pria pekerja," kata Naira lagi.
"Mengapa seperti itu?" tanya Yoga kembali.
"Karena kehormatan seorang lelaki ada di pekerjaannya. Jika dia bisa menjaga kehormatannya, maka dapat dipastikan dia juga bisa menjaga kehormatan pasangannya." Naira berkata lagi yang membuat Yoga terdiam seketika.
Dia ....
__ADS_1
Yoga merenungkan kata-kata Naira. Ia pun membenarkan apa yang diucapkan Naira. Semangat di dalam dirinya mulai berkobar untuk mencari pekerjaan tetap, seperti yang dimaksudkan Naira.
"Sebenarnya ... aku bekerja paruh waktu. Katakanlah freelance. Waktu bekerjaku tidak seperti kebanyakan pria kantoran. Namun, uang yang kudapatkan lumayan. Tapi sepertinya setelah ini aku akan mencari pekerjaan tetap." Yoga menerima ucapan Naira.
Naira terheran dengan maksud Yoga. "Jadi ... kau ingin ...???" tanya Naira lagi.
Yoga mengangguk. "Aku ingin serius. Dan aku akan memperjuangkannya." Yoga meyakinkan Naira.
Yoga ....
Entah mengapa saat mendengarnya, saat itu juga Naira tersentuh. Tapi ia juga khawatir tidak bisa membalas perasaan Yoga karena pesan dari pamannya. Yang mana melarang keras dirinya untuk pacar-pacaran selama kuliah.
Apakah dia serius? Tapi paman bukanlah tipikal orang yang mudah menerima pria untuk dekat-dekat dengan keponakannya. Bisa-bisa dia malah jadi bulan-bulanan paman. Apakah dia mampu meyakinkan hati paman?
Sore ini pun menjadi saksi perbincangan keduanya yang semakin dalam. Yoga beniat untuk mengenal Naira lebih jauh. Tentang bagaimana keluarga dan Naira sendiri. Ia sudah memantapkan hati untuk mendapatkan Naira. Ia mencoba mengalihkan perasaan di hatinya dari Tania. Tapi apakah Naira tidak akan marah jika mengetahuinya?
Sepulang dari taman...
Tepat pukul enam petang, keduanya baru tiba di depan rumah paman dan bibi Naira. Naira pun lekas turun dari mobil dan mengucapkan rasa terima kasih kepada Yoga karena telah mengantarkannya. Yoga pun segera melaju setelah memastikan Naira masuk ke rumahnya. Tampak paman Naira melihat hal itu dari balik jendela rumahnya.
__ADS_1