
Siapa pria itu? Apakah kekasihnya?
Eno sendiri memerhatikan temannya yang gelisah. Sudah lewat dini hari temannya itu masih belum tidur juga. Eno pun menanyakannya.
"Ga. Kau baik-baik aja?" tanya Eno segera.
"Em, ya. Aku baik-baik aja," jawab Yoga.
Eno memiringkan tubuhnya ke arah Yoga yang tidur di kasur bawah. "Dari tadi gelisah. Mikirin apa?" tanya Eno lagi.
Yoga menelan ludahnya. Ternyata kegelisahan itu tersirat darinya. "Nggak kenapa-napa, kok. Mungkin hanya lelah saja." Yoga pun berusaha menutupinya.
"Ya udah. Kalau perlu apa-apa, bangunin aja ya," pesan Eno kepada Yoga.
Yoga mengangguk. Eno pun segera memejamkan matanya, membelakangi Yoga. Ia ingin beristirahat segera. Waktu juga sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Berbeda dengan Yoga yang masih diliputi kegelisahannya.
Sepertinya aku harus menemuinya.
__ADS_1
Lantas Yoga pun ingin mencari kebenaran tentang siapa pria yang dilihatnya. Ia tidak ingin terus-terusan dilanda penasaran. Yoga akan menemui Naira segera.
Esok harinya...
Yoga diantarkan Eno sampai ke depan sebuah toserba yang berseberangan dengan toko bunga Naira. Ia rela menunggu toko bunga itu dibuka. Yoga pun menanti Naira datang untuk membuka toko bunganya. Rasa penasaran begitu menyelimuti hatinya.
Yoga memesan kopi hangat sambil bermain ponsel di teras toserba. Tak berapa lama ia pun melihat seseorang datang ke toko bunga itu lalu memarkirkan motornya. Dan ternyata Naira lah yang datang. Sontak Yoga pun bergegas menyeberangi jalan raya. Ia ingin menemui Naira di sana.
Naira datang mengenakan blus berlengan panjang. Ia juga memakai celana pensil hitam yang dipadukan dengan sepatu ketsnya. Ia segera membuka toko bunga dengan kunci yang ia bawa. Ia pun segera masuk ke dalamnya. Menaruh helm dan juga tasnya.
"Pagi yang cerah. Semoga ramai pembeli hari ini."
Yoga telah sampai di depan pintu. Ia pun melihat Naira yang sedang menata bunga di atas meja kasir yang panjang. Yoga tersenyum. Ia melihat Naira sebagai sosok perempuan pekerja keras. Yoga pun menyapanya.
"Permisi. Apakah di sini menjual bunga hati?" tanya Yoga yang sontak membuat Naira menoleh ke arahnya.
"Kau?!" Naira pun terkejut melihat kedatangan Yoga.
__ADS_1
"Sepertinya toko ini baru dibuka." Yoga berbasa-basi sebentar.
Naira mengangguk. "Apakah bunga kemarin salah dibeli?" tanya Naira lagi.
Yoga tersenyum. Ia menggelengkan kepalanya. "Kedatanganku kali ini bukan karena ingin membeli bunga. Tapi karena ingin berkenalan dengan pemilik tokonya," kata Yoga terus terang.
"Eh?!" Seketika itu juga Naira terkejut. "Anda ingin berkenalan dengan bibiku, Tuan?" tanya Naira segera.
Sontak Yoga juga terbatuk-batuk. Ia seperti tersedak udaranya sendiri. "Em, maksudku bukan itu." Yoga segera menglarifikasinya.
"Jadi?" tanya Naira lagi.
"Em ...," Yoga tersipu malu. Ia ragu untuk mengatakannya.
Naira menunggu. Tatapan bola mata Naira seakan meminta Yoga untuk segera jujur padanya. Yoga pun akhirnya menjulurkan tangannya kepada Naira.
"Aku Yoga." Yoga memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
Naira melihat tangan Yoga yang dijulurkan kepadanya. Ia pun tersenyum seketika. "Jadi ini alasan datang ke sini?" tanya Naira lagi.
Yoga mengangguk malu. Naira pun tertawa. Ia segera menyambut uluran tangan itu. "Aku Naira. Senang berkenalan denganmu, Tuan." Mereka pun akhirnya berjabatan tangan.