
"Di mana?" Zeon segera menanyakannya.
"Em, aku di toko. Ada apa, Tuan?" tanya Naira segera.
Terdengar deru suara kendaraan dari arah sana. "Aku ingin mengajakmu makan malam. Kau ada waktu luang?" Zeon menanyakannya.
"Em." Sontak Naira merasa kaku ntuk menjawab pertanyaan dari Zeon. Ia akhirnya beralasan. "Aku tidak boleh keluar malam, Tuan. Jika mau bertemu sebelum petang saat pulang kuliah." Naira menuturkan.
Zeon menganggukkan kepalanya di sana. "Baiklah. Aku akan menjemputmu di kampus. Berikan aku alamatnya." Zeon berkata lagi.
"Baik."
Naira pun segera menyebutkan di mana ia kuliah tanpa ada rasa curiga sama sekali. Zeon pun mencatatnya untuk segera menjemput Naira nanti. Pada akhirnya Naira membuka peluang bagi Zeon untuk bertemu dengannya lagi.
Entah mengapa Zeon ingin bertemu dengan Naira kembali. Apakah ada suatu alasan atau memang ada kepentingan lainnya? Tapi yang jelas Naira mau bertemu dengan Zeon karena ingin menanyakan Yoga. Lalu apakah Naira bisa mendapatkan informasi tentang Yoga nantinya?
__ADS_1
Menjelang petang...
Pria berompi jas hitam itu tampak menunggu Naira keluar dari kampusnya. Ia berdiri di sisi mobil dengan embusan angin sore yang menerpanya. Zeon tampak gagah dan rupawan. Ia juga terlihat elegan. Sontak kedatangan Zeon yang menunggu di parkiran menjadi bulan-bulanan pembicaraan para mahasiswa yang pulang. Pada akhirnya yang ditunggu juga datang.
Dia ternyata benar-benar menjemputku.
Ialah Naira yang segera berjalan mendekati Zeon. Ia kemudian menyapa kakak dari Yoga itu. Zeon pun tersenyum kepada Naira dengan senyum yang menarik perhatian kaum wanita.
"Mari. Kita harus cepat sebelum kena marah."
Zeon pun membukakan pintu mobilnya untuk Naira. Naira juga segera masuk ke dalamnya. Keduanya lalu duduk bersama di dalam mobil.
"Terima kasih, Tuan. Aku masih kenyang." Naira pun segera menjawabnya.
"Kau kenal dengan Yoga?" Zeon akhirnya menanyakannya. Sontak Naira teringat dengan tujuan utamanya mau dijemput Zeon.
__ADS_1
"Bisa dibilang begitu. Tapi apakah benar dia adik Anda, Tuan?" Naira menanyakannya.
Zeon mengangguk. Ia kemudian melajukan mobilnya keluar dari parkiran kampus menuju jalan raya ibu kota. "Ya. Dia adikku. Aku juga tak mengerti mengapa bisa seperti ini. Bertemu dengan teman adikku sendiri. Seperti sebuah suratan takdir saja." Zeon mulai merayu Naira.
Naira pun tersenyum dibuatnya. "Apakah Tuan tahu di mana Yoga bekerja?" tanya Naira segera.
Zeon menoleh ke arah Naira sejenak. "Jadi selama ini dia tidak menceritakan padamu di mana dia bekerja?" Zeon balik bertanya lalu fokus kembali menyetir mobilnya.
"Tidak." Naira pun menggelengkan kepalanya.
Zeon tersenyum tipis. "Dia bekerja di perusahaanku. Gedung LFS lantai lima. Dia juga tinggal bersamaku. Tapi sudah beberapa hari ini tidak pulang ke rumah. Kudengar dia sudah menyewa tempat tinggal yang baru." Zeon mengatakannya.
Menyewa tempat tinggal yang baru? Naira pun bertanya-tanya dalam hatinya.
"Aku belum sempat berbicara banyak padanya karena masih sibuk untuk launching gerai terbaru. Kami mempunyai tugas dan tanggung jawab masing-masing. Perusahaan juga membutuhkan model untuk memasarkan produk. Apa kau berminat?" Zeon menawarkan Naira untuk menjadi modelnya.
__ADS_1
"Ap-apa?" Naira pun seperti salah mendengarnya.
"Ya, benar. Kami membutuhkan model baru secepatnya. Tentunya yang sesuai dengan kriteria kami. Mungkin kau berminat," kata Zeon lagi.