
Lantas apakah Yoga bisa menemukan gadis impiannya? Yang bisa membuat hatinya teralihkan dari Tania?
Esok harinya, pukul sepuluh pagi waktu ibu kota dan sekitarnya...
Yoga berangkat menggunakan motor sport menuju sebuah toko bunga terdekat dari apartemennya. Setelah berkeliling, akhirnya ia menemukan toko bunga tersebut yang jaraknya lumayan jauh dari apartemen. Ternyata tidak ada toko bunga yang dekat dari apartemennya. Dan setelah menemukannya, Yoga pun segera memarkirkan motornya. Ia lekas masuk ke toko tersebut untuk memilih bunga.
"Permisi."
Namun, sesampainya di sana, Yoga melihat seseorang yang dikenalnya sedang menyemprot bunga-bunga hidup itu. Seseorang itupun berbalik menghadapnya.
Dia?!
Saat itu juga Yoga teringat dengan kejadian yang pernah dialaminya di supermarket ibu kota. Di mana ada seorang anak kecil yang menabraknya, lalu sang bibi dari anak kecil itu meminta maaf kepadanya.
"Selamat pagi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang penjaga toko bunga tersebut.
Yoga pun merogoh saku jaketnya. Ia mengeluarkan tanda pengenal yang sudah disimpan sejak lama. Yoga pun membandingkannya.
__ADS_1
Ternyata benar dialah orangnya.
Yoga pun semakin yakin jika penjaga toko adalah gadis yang memiliki tanda pengenal di tangannya. Yoga segera menanyakannya.
"Em, maaf. Apakah ini milikmu?" Yoga menunjukkan tanda pengenal itu kepada gadis penjaga toko. "Aku menemukannya terjatuh di supermarket. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Yoga lagi.
Sontak gadis penjaga toko bunga itu pun melihat tanda pengenal yang Yoga tunjukkan. Ia memegangnya lalu memerhatikannya. Gadis itu pun terkejut saat menyadari siapa yang ada di hadapannya.
"Anda ...???" Namun, ia ragu untuk memastikamnya.
"Aku Yoga. Waktu itu keponakanmu menabrakku saat berlarian di supermarket. Apakah kau mengingatku?" tanya Yoga kemudian.
Sepuluh menit kemudian...
Perbincangan terjadi antara Naira dan Yoga tentang bagaimana tanda pengenal itu bisa berada di tangan Yoga. Naira pun berterima kasih karena Yoga telah menyimpannya. Naira sudah mencari-carinya tapi tidak ketemu juga. Alhasil ia pun harus menunggu waktu yang lama untuk menunggu tanda pengenal baru. Tapi kini ia tidak perlu merisaukannya lagi. Tanda pengenalnya sudah kembali.
"Aku tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikan Anda, Tuan." Naira pun tak enak sendiri.
__ADS_1
Yoga tersenyum. "Tak apa. Mungkin salahku juga karena tidak cekatan mengejarmu kemarin," kata Yoga kepada Naira.
"Eh, ya. Ada perlu apa Anda kemari? Apakah hanya sekedar ingin mengembalikan tanda pengenal ini?" tanya Naira segera.
"Astaga." Saat itu juga Yoga tersadarkan. "Aku sampai lupa jika harus membeli bunga." Yoga pun teringat tujuan awalnya datang ke toko bunga ini.
"Untuk kekasih Anda, Tuan? Atau istri?" tanya Naira lagi.
Yoga tertawa. "Ah, kau bisa saja. Aku belum punya istri. Pacar pun tidak punya." Entah mengapa Yoga menjawab begitu polos kepada Naira.
Naira tersenyum. Senyum manis yang membuat hati Yoga berdetak keras entah mengapa.
"Kalau begitu bunga untuk acara apa? Kami memiliki banyak bunga hidup di sini," tutur Naira kembali.
"Untuk ulang tahun pacar kakakku," jawab Yoga segera.
Naira mengangguk. Ia kemudian memilihkan bunga apa saja yang pantas diberikan saat ulang tahun seseorang.
__ADS_1
"Ini ada bunga mawar merah, lily dan juga anggrek. Anda tinggal memilihnya saja." Naira pun mempersilakan Yoga memilihnya sendiri.
Yoga tampak berpikir. "Em, sepertinya ... mawar saja," kata Yoga lagi.