
Dokter? Jadi pacarnya seorang dokter?
Zeon pun menyakini jika sang adik sudah mempunyai pacar seorang dokter. "Em, baiklah. Mungkin sekarang adikku sudah berpikir ke depan. Katakan saja apa yang kau butuhkan, aku akan mencoba memenuhinya. " Zeon bersedia membantu sang adik.
"Aku masih bersedia menerima misi. Dan aku juga ingin bekerja di kantormu. Itu saja," pinta Yoga kepada kakaknya.
Zeon mengangguk-angguk. "Tapi kau akan kelelahan. Apa tidak apa?" tanya Zeon lagi.
"Aku siap." Yoga pun bersedia menerima pekerjaan ganda dari kakaknya.
"Baiklah. Senin kau bisa mulai bekerja di kantorku. Tapi, kau harus ingat. Di kantor aku adalah bosmu, bukan kakakmu." Zeon mengingatkan.
Yoga mengangguk. Kesepakatan pun akhirnya terjadi di antara keduanya. Yoga akan mulai bekerja di kantor kakaknya pada Senin nanti.
Beberapa hari kemudian...
Semilir angin siang ini mengantarkan mobil hitam mewah berhenti di seberang toko bunga Naira. Ialah Zeon bersama supir pribadinya yang beberapa hari ini mencari tahu siapa sosok yang telah membuat sang adik berubah. Mereka sengaja mengikuti Yoga makan siang di luar kantornya. Dan Zeon melihat sendiri gadis yang disukai adiknya.
Jadi gadis itu yang telah merubah adikku menjadi pekerja keras seperti sekarang?
Tentu saja Zeon tidak akan tinggal diam jika terjadi sesuatu kepada adiknya. Ia juga diam-diam memerhatikan perubahan yang terjadi pada Yoga di tengah kesibukannya. Zeon mampu mengatur waktunya dengan baik. Ia pun berhasil menjalankan laju perekonomian perusahaannya. Yang mana perusahaan itu diberikan oleh seseorang yang telah berutang budi kepadanya. Dan seseorang itu kini telah pensiun dari pekerjaannya.
__ADS_1
"Kita ke toko bunga itu!"
Lantas Zeon pun ingin melihat secara langsung bagaimana gadis yang disukai adiknya. Selepas Yoga pergi, Zeon pun memutar arah untuk ke toko bunga tersebut. Ia ingin menemui Naira di sana.
Beberapa menit kemudian...
"Selamat datang!"
Seorang gadis berblus tosca menyambut kedatangan Zeon yang membuka pintu toko bunganya. Zeon pun melihat sendiri bagaimana keadaan toko bunga Naira yang besarnya hanya 6x6 itu. Zeon tersenyum kepada Naira yang menyambutnya.
"Em, maaf. Apakah di sini ada bunga dandelion? Aku ingin membelinya?" tanya Zeon kepada Naira.
"Dandelion? Bunga itu tidak kami jual, Tuan." Naira pun segera menjawabnya.
"Bagaimana jika bunga tulip saja? Kami mempunyai bunga tulip beraneka warna," tawar Naira.
Zeon pun memerhatikan Naira yang memberikan penawaran kepadanya. Ia kemudian mengalihkan pandangan untuk melihat bunga tulip yang ditujukan Naira. Tapi entah mengapa Zeon merasakan sesuatu hal yang aneh saat berdekatan dengan Naira.
Parfumnya menenangkan sekali.
Ternyata Zeon mencium aroma parfum yang Naira pakai. "Ehm, Nona. Kau memakai parfum apa? Aromanya menenangkan sekali," tanya Zeon.
__ADS_1
"Aku?" Naira pun segera mencium dirinya sendiri. "Ini aroma bunga tropis. Ada apa, Tuan?" tanya Naira kembali.
Zeon tersenyum. "Tak apa. Aku menyukainya. Apakah sang pemilik parfum masih sendiri?" Zeon mulai memancing kesetiaan Naira.
Naira tersenyum. "Anda bisa saja, Tuan. Bagaimana dengan bunganya? Apakah tertarik?" Naira langsung mengalihkan pembicaraan.
Dia ternyata pintar.
Zeon pun mengakui jika Naira adalah sosok gadis yang pintar. "Aku beli semua bunga yang ada di sini," kata Zeon.
"Hah? Apa?!" Naira pun terkejut seketika.
"Apakah bisa? Aku membutuhkan banyak bunga untuk acara pesta pernikahan pemilik perusahaan," tutur Zeon lagi.
...... ...
...Zeon...
...Naira...
__ADS_1