Menculik Calon Istri Orang

Menculik Calon Istri Orang
Bab 10# Ditangkap (Hendak Dinikahkan)


__ADS_3

Pagi pagi, Petir sudah dilanda kata mules. Ia segera bangun dari bale yang sejak semalam menjadi tempat tidurnya.


Sebelum ngacir mencari toilet, ia sempat melirik bale yang di tempati Yama, tetapi bale itu sudah kosong.


"Duh, ini nggak ada kloset-nya. Bagaimana gue mau nongkrong coba?" Petir kebingungan. Di kamar mandi ala kadarnya ini hanya bisa untuk mandi dan pipis doang. Terus, kalau mau pup, di mana dong?


"Bokong sialan! Jangan main desak dong. Masa iya harus e'e di celana!"


Petir meringis sembari meninggalkan kamar mandi dengan satu tangannya berada di belakang yang bermaksud isi perutnya tidak lepas landas. Nanti bauuu...


"Yaelah, ini orang orang pada kemana lagi, ah," monolognya. Vay, Lona dan Yama pun tidak ada di rumah di waktu sepagi ini.


Kemana mereka? Dan kenapa ia malah ditinggal?


Dengan mules di ujung tanduk, Petir mencoba keluar rumah yang terbuat dari kayu itu.


Cerahnya sinar mentari pagi serta udara sejuk langsung menyapa kulit putihnya.


"Eeeh, bocah!" Petir menyapa songong dua anak kecil yang kebetulan lewat. Satu cewek dan satu cowok tanpa menggunakan baju.


Dua bocah berkulit eksotis itu pun berhenti sembari saling pandang, lalu kompak menatap Petir dengan cengong.


Kok ganteng? Begitulah sorok mata kedua bocah itu yang membandingkan kulit Petir dengan kulitnya yang wow banget.


"Kalian tau Yama ada di mana?"


Bocah itu menggeleng.


"Kalau Lona?"


Si bocah cewek, menunjuk arah.


"Apa mereka bisu atau susah berbahasa?" batin Petir. Tapi saat dua bocah itu mulai berjalan ke arah yang ditunjukkan keberadaan Lona. Petir pun mengekor.


Beberapa menit berjalan yang cukup jauh dari rumah Lona, Petir saat ini di hadapkan kumpulan warga suku yang sedang membuat lingkaran besar.


Entah apa yang mereka keribungin, dengan sorakan yang asing untuk di dengarnya. Seperti bernyanyi atau berdoa, Entahlah?


Penasaran, Petir pun mendekat. Tubuh tingginya tidak menyusahkan dirinya untuk melihat acara apa yang sedang berlangsung di tengah-tengah sana.


"Ini acara apa ya?" tanya Petir ke salah satu pria yang berdiri di depannya.


Orang itu pun mendongak ke Petir. "Ada yang meninggal sekaligus dua warga. Itu pertanda sial!"


Yaak, biasa aja kali kata 'sialnya' jangan melotot padanya.


"Sebagai gantinya, kita harus melaksanakan acara pernikahan." sambungnya.

__ADS_1


"Kok gitu?" Pertanyaan Petir tidak mendapat jawaban.


Merasa dicuekin, Petir pun memutari bulatan orang orang itu, ia sudah melihat Vay yang sedang berdiri di dekat Lona di sebelah sana.


"Hai..." bisik Petir dengan nada mesra tepat di belakang Vay.


Vay yang kaget, mendengus sembari memutar kepala ke samping. Di mana ada wajah Petir yang sedang tersenyum manis, sejurus mengedip mata lucu padanya.


"Mata lo jorok, ada beleknya..." Vay berbisik apa adanya. Membuat Petir langsung menyekanya dengan ujung jari. Lalu tercengir malu. Ia memang belum cuci muka.


"Gue lapar, Tir." Vay lanjut merengek manja membuat Petir tersenyum hangat. "Kata Lona, kita dilarang makan sampai matahari di atas kepala kalau ada orang meninggal begini," sambungnya bercerita.


"Ikut gue...!" Petir menarik tangan Vay dan pergi dari gerombolan tanpa sepengetahuan Lona yang sedang memejamkan mata sembari berdoa dalam bentuk nyanyian yang Vay dan Petir tidak tau arti bahasa mereka. Ia dan Vay kan bukan warga situ, jadi semua peraturan nggak berlaku. Begitulah pikir Petir.


"Kita mau kemana?"


"Ikut saja!" Petir terus menarik paksa tangan Vay menuju pantai yang saat ini mereka melewati semak semak. Jarak pemukiman ke pantai memang membutuhkan waktu.


"Lo nggak akan macam macam sama gue, kan, Tir?"


"Maunya sih gue cium cium dan peluk peluk, gitu." Petir cekikikan.


"Dasar mesum!" Vay mencibikkan bibir bawahnya sembari menghentakkan tangannya dari genggaman Petir.


"Canda, Vay. Elaah, gitu aja sewot. Gue cuma ngajak lo makan. Di helikopter ada makanan ringan yang katanya sudah disiapkan Angkasa." Petir baru mengingat hal tersebut saat Vay merengek lapar.


" Ish, benar-benar deh ah, ini adalah hidup tersusah gue. Pokoknya, gue benci lo, Tir. Lo yang naruh hidup mewah gue ke tempat terpencil ini." ceracau Vay mengomel yang saat ini sudah terduduk asal asalan di tanah sembari mencabut duri kering yang sempat tertancap di kakinya.


Petir hanya diam menerima omelan tersebut, karena memang benar begitu. Niat hati menculik Vay sembari ngajak berkeliling ke tempat yang indah indah menggunakan helikopter, eh malah mogok tuh heli. Kan gagal. Ini malah membuat kulit halus Vay terluka.


"Naiklah, gue gendong!" Petir memasang punggungnya.


Dengan senang hati, Vay naik begitu saja tanpa peduli kalau bekas luka luka lebam Petir masih sakit. Ia memang sengaja kok. Siapa suruh sudah membawanya ke tempat yang menyusahkan.


"Duh... Semoga gue nggak boker di celana," batin Petir resah. Kalau itu terjadi, bagaimana coba, pasti malu di depan Vay. Ia sudah menahan mules sedari tadi loh. Ini malah menambah beban di punggungnya.


"Vay...kok lo berat sih?"


"Biarin!" cuek Vay sembari tersenyum jahil. Pasti Petir itu cuma alasan saja mau mengejeknya.


Pesss...


Angin kecil tanpa ada bunyinya keluar dari lubang belakang Petir. Dan baunya itu ... Naudzubillah sekali.


"Tir, lo nyium bau bangkai nggak?" Hidung Vay kembang kempis di sebelah daun telinga Petir dengan tangan itu masih setia melingkar di leher Petir.


"Nggak, gue nggak nyium. Pasti lo salah ci__Eh, iya. Gue nyium juga. Paling ini hewan mati membusuk." Petir kembali meralat. Ia lebih memilih mengkambing hitamkan binatang yang tak nampak, dari pada mengakui bokongnya yang membuang racun alaminya. Yang ada nanti Vay makin ilfeel padanya. Dasar lubang tak tau diri.

__ADS_1


" Ihh, bau banget sih!" Vay mau muntah dibuatnya. Segera saja, ia menyembunyikan hidungnya di sela jenjang leher Petir. Mencium aroma kulit Petir rakus rakus. Membuat sang Empu kulit leher, bergidik geli.


"Vay__" Suara Petir bergetar. Ada hasrat lain yang bangun dari dalam diri nya ulah Vay terus menghembuskan nafas hangatnya ke kulit sensitifnya itu.


"Buruan jalannya ah!" Vay mana tau penderitaan Petir.


"Gue kebelet, Vay!"


"Kebelet apa? BAB atau lainnya?"


"Dua duanya, Vay!"


"Yaudah, sono buruan ke semak!"


"Be-benar lo setuju?"


Vay menaikkan satu alisnya mendengar pertanyaan aneh Petir.


"Jadi, lo uda nerima gue. Ayolah kita ke semak."


Wahh... Salah tangkap nih laki.


Vay memukul kepala Petir setelah menyadari otak kotor pria yang entah statusnya apa, musuh, sahabat atau lebih spesial?


"Sakit!" ringis Petir cemberut.


Buggh...


Dua kali Vay memukul kepala Petir, biar otaknya nggak kotor lagi maksudnya.


"Aww... Lu kasar amat sih, Sayang. Hati gue dong yang jempret."


"Ih, nyebelin! Sekali lagi mikir yang aneh aneh, gue gorok leher lu sekalian," ancam Vay sembari menarik telinga Petir.


Sontak saja Petir menjatuhkan Vay dari gendongannya membuat gadis itu mendengus kesal.


"Lo memang cemen!" Katanya sengit karena Vay merasakan bokong nya berdenyut yang menghantam pasir. Lalu berlari ke arah helikopter yang sudah terlihat di mata.


Petir membiarkan hal tersebut karena perut nya kembali terdesak mules. Secepat kilat, ia berlari ke tumbuhan mangrove yang ada di bibir pantai yang terletak jauh dari helikopter.


"Ahh, leganya!" ujar Petir sembari membuang yang seharusnya di buang.


Selesai melegahkan perut, Petir pun segera menyusul Vay. Waktunya makan!


Tapiii....


"Woiii...!" Petir berteriak marah melihat dua orang warga suku menggeret paksa Vay. Lima orang lainnya, sudah terkapar di pasir yang Petir yakini kalau Vay sempat berkelahi.

__ADS_1


"Kalian diramalkan pembawa sial di suku kami! Sebagai tolak balanya, salah satu kalian harus dinikahkan dengan salah satu warga suku." Yama berkata marah. Lona dan Dahen pun ada di antara mereka.


__ADS_2