
"Ngapa lo nyulik gue, hah?"
Mengetahui ia berada di helikopter, akhirnya Vay sadar seratus persen kalau saat ini ia sedang dalam keadaan diculik tepat hari H pernikahannya. Dan kemana pakaian indahnya? Ah, sial! Kesal Vay dalam hati karena ingatannya disegarkan oleh Pelangi dan Purnama yang menjadi sekutu pria pecundang ini.
"Karena gue nggak mau nunggu janda lo! Selain itu, lo itu terlahir hanya untuk gue seorang! Bukan si upil kerbau itu!" sahut Petir bersungguh-sungguh. Abian ia anggap kerbau sesuka hatinya.
Vay menganga. Ada ya manusia otaknya sebesar biji merica? contohnya Petir ini. Enak saja main nge-klaim seenak jidat. Dan sikap pecundangnya ini sangat luar biasa. Luar biasa memuakkan, maksudnya.
"Gue mau balik!" ketus Vay merecoki tangan Petir yang sedang mengontrol sistem kemudi.
"Eehh, Vay. Nanti helinya jatuh bagaimana?" Satu tangan Petir menahan tangan lincah Vay yang berniat membelokkan asal asalan transportasi udara itu.
"Nggak peduli!"
"Vay!" seru Petir dengan nada dua oktaf. Vay menulikan telinganya. Ia terus menekan tombol sembarangan yang bisa di jangkau tangannya.
Tidak mau celaka yang mungkin saja jatuh ke dasar laut, Petir menargetkan mendarat di sebuah pulau yang masih sedikit jauh di bawah sana.
"Gue mau pulang, Petiiiirrrr!" pinta Vay berseru kesal. Pasti semua keluarganya itu mencemaskan dirinya.
Tidak ada respon, Petir semakin mempercepat kemudinya dan akhirnya mendarat sempurna di pesisir pantai, meski sedikit repot karena Vay terus mengganggu sistemnya.
"Tunggu apalagi? Buruan turun dan nikmati hidup bersama ku di tempat indah ini. Anggap saja kita sedang nyicil bulan madunya. " Petir sengaja memajukan wajah nya ke arah bibir Vay yang mengerucut akut.
__ADS_1
Plaaak... Di gampol kuat oleh Vay dan segera melompat ke pasir putih. Itu lah maksud Petir menggoda tuh cewek, agar menghindar dan turun dari kabin.
" Lo adalah pria terjahat yang gue kenal. Lo bukan sahabat gue lagi semenjak __"
Makian Vay tiba tiba tergantung. Membuat Petir penasaran setengah mampus. Pasalnya, Vay memang sudah lama menghindari dirinya. Setelah putus dari Cole, Ia sempat maju memperjuangkan cintanya, tetapi Vay terus saja menolaknya mentah mentah dengan alasan masih trauma melabuhkan hatinya ke pria mana pun. Tetapi apa? Ia pulang pulang, Vay malah mau menikah. Kan kesal.
"Karena apa, Vay?" Tanya Petir seraya membalikkan tubuh Vay yang tiba tiba memberi punggungnya.
"Lepas! Jangan sentuh gue!" Vay menepis kuat tangan Petir. Lalu berjalan cepat cepat ke arah bayang pohon kelapa untuk berteduh dari paparan sinar pantai yang terik sekali.
Jekas Petir setia mengekor, ia ingin bicara serius ke Vay.
"Gue mau balik, Tir! Bunda, Ayah dan semuanya pasti cemas!" kata Vay setelah menaruh bokongnya di pasir. Kali ini, nadanya tidak ngegas lagi, melainkan meminta dengan baik baik. Dari kecil bersama Petir, tentu saja ia banyak tau karakter pria tersebut.
Lama Petir berpikir sembari menatap wajah Vay yang konsen menatap laut lepas di depan sana.
Vay menoleh dengan satu alis terangkat satu.
"Gue mau berjuang sekali lagi merebut hati lo. Kalau pun gue gagal, maka detik itu juga gue akan mundur selama lamanya. Gue akan ngebalikin lo ke keluarga lo tanpa menoleh lagi ke belakang," pinta Petir bersungguh-sungguh. "Pegang janji gue kali ini."
Hening, Vay malah merebahkan tubuhnya di atas pasir dengan satu lengan menopang di atas mata untuk menghalau silaunya sang surya.
"Gue lapar. Makan hasil laut sepertinya enak," ujar Vay dengan posisi masih sama.
__ADS_1
Petir tersenyum manis, ia mengira Vay memberinya kesempatan. "Siap Tuan Putri," katanya penuh semangat. Lalu membuka baju serta celananya yang hanya menyisakan kolor di atas lutut.
Vay jelas tidak melihat pemandangan setengah bugi* tersebut, karena masih setia memejamkan mata.
Tapi... Saat keadaan kosong di sampingnya. Mata itu terbuka lebar sembari menarik tubuhnya untuk duduk.
"Hehehe, lo masih bodoh, Sayang." gumamnya mengejek Petir yang semakin menjauh menuju semak mangrove tepat di bibir pantai ujung sana.
"Cari ikannya yang banyak ya! Gue mau pulang!" Vay berteriak lalu dengan cepat berlari ke arah helikopter. Ia berniat meninggalkan pria menyebalkan itu.
"Kenapa Vay lari lari ya?" Petir memang berbalik saat mendengar teriakan Vay yang tidak jelas karena angin pantai serta deburan suara ombak yang mendominasi.
"Apa jangan jangan dia mau__?" Petir menggantung ucapannya dengan tangan menepuk bodoh jidatnya. Ia di tipuuuu!
"NENG BULEEEEE! AWAAAAS LO!" Petir ngebirit ke arah helikopter yang baling balingnya sudah mulai berputar.
"Mampus gue di tinggal," katanya di sela larinya.
"Hahahaha... Emang enak. Vay mau di culik konon. Adanya lo yang sial! Sono pacaran sama duyung. Hahahaha... !"
"Jangan tinggalin gue, Vaaaaayyyy!"
"Emang gue peduli? Lo aja tega hancurin hari gue. Kenapa gue harus baik hati ngeberi lo kesempatan yang sudah nggak ada buat lo. Mati mati lo di pulau ini."
__ADS_1
Vay sudah merasa jumawa. Sistem sudah On semua dan siap terbang.
***