
Tok... Tok...
Baru ingin istirahat karena capek membersihkan kontrakan berdebu yang Vay dan Petir sulap menggunakan jari jemari penuh keringat mereka, pintu rumah sudah ada yang mengetuk.
"Siapa ya?" tanya Petir ke Vay.
"Bukalah. Daripada penasaran?" Vay menjawab masih dalam pembaringannya di lantai. Ia capek, lebih tepatnya lelah pikiran.
Ceklek...
"Lautan..."
Adiknya langsung tercengir. "Hai, Bang." Ia memamerkan satu koper besar sebagai alasan kuatnya menghampiri kakaknya. Takutnya ia akan diusir karena tidak mau kesengsaraannya di tonton. "Baju dan surat surat penting ada di dalam. Mama yang menyuruhku kemari!" terangnya.
Petir masih di tengah tengah gawang pintu. Ia tidak ada niatan menyuruh adiknya masuk.
"Ngapa lo bisa tau gue di mari, eum?"
"Heheh... tadi gue nguntit taksi kalian. Elah, gitu aja sewot. Bang ganteng, mana kakak ipar gue?"
Lautan ingin masuk tetapi dihadang oleh Petir.
"Gue di sini, Utan. Ayo, masuk..." teriak Vay dari dalam sembari duduk lesehan yang sibuk bermain hape untuk mengecek lowongan kerjaan yang tertera di online. Saking kecilnya kontrakan itu, Vay bisa mendengar suara tak asing Lautan di luar.
"Kakak ipar, suamimu pelit!" Lautan mengadu sok imut yang langsung mendapat tendangan songong Petir di bagian tulang kering bin betisnya itu.
"Ish... Gue mau masuk!" desis Lautan sambil menggoyangkan betis kanannya yang ngilu. Setelahnya, ia pun berhasil menerobos Petir yang enggan sekali menyingkir.
Petir pasrah. Segera ia menarik koper yang ditinggalkan adiknya itu di depan pintu.
Vay dan Lautan kini sudah duduk lesehan bersama dengan mata adiknya itu mengamati seluruh penjuru ruangan yang bisa dibilang sangat sempit. Ia ingin berkata, 'Ini sih, gedean kamar lo, Bang.' Tetapi Lautan yang pengertian, menjaga lidahnya agar kakaknya dan Vay tidak tersinggung atau tidak berkecil hati menjalani ujian gila dari Nata.
"Apa kalian sudah makan?" tanya Lautan. Ia ingin mentraktir dua orang kaya ini tetapi lagi diuji jadi orang miskin.
"Belum!" Jawab Vay sekenanya.
"Gue pesan ya __"
"Kalau lo mau makan, sono di resto atau di mana pun. Tetapi jangan di sini."
__ADS_1
Lautan meringis mendapat celetukkan tak bersahabat kakaknya yang lagi sensi rupanya. Lebih baik, sikap tengilnya ia pendam dulu. Takut diamuk.
"Dahlah, gue pamit aja kalau gitu. Vay, lo jadi pawangnya hati-hati ya."
Vay tercengir ke adik iparnya yang takut diamuk rupanya.
"Eh, jangan pulang dulu. Tetap duduk di tempat. Dan kamu, Sayang. Setelah urusan ku selesai, aku akan keluar beli makanan untukmu."
Lautan memutar mata malas, giliran bicara sama Vay, nada nya itu sangat menderu deru lembut penuh rasa romantis. Tetapi sama dirinya ... Hem.
Setelah berucap, Petir pun membuka lebar lebar koper besar yang katanya dari Mamanya itu.
Tumpukan baju baju terlihat. Vay dan Lautan saling pandang, tidak mengerti apa yang akan dilakukan oleh Petir?
"Jangan bilang kalau baju pun, kagak mau lo terima, Abang tampan?" cicit Lautan yang tidak direspon oleh Petir. Pria itu lebih sibuk mengambil satu persatu baju yang ada di dalam koper dan ditaruhnya ke lantai keramik putih itu.
Benar dugaannya, Mamanya menyelipkan uang satu ikat bernilai sepuluh juta di sela sela lipatan baju. Ada juga laptop dan ijazahnya di sana. Namun karena laptop tersebut adalah hasil jerih payahnya, Petir mengambilnya.
"Bilang sama Mama, Papa dan siapapun itu, kalau hari ini, Petir sedang berjuang dengan tangannya sendiri. Gue nggak mau, Utan, suatu saat nanti Om Nata mengetahui kecurangan ini dan efeknya menarik Vay dari sisiku. Selama hayat dikandung badan, insyaallah gue bisa hidup. Gue ingin menang dengan rasa bangga. Itu saja. "
Di dalam hatinya, Lautan terharu melihat kegigihan kakaknya. Tanpa banyak ucap, ia pun meraih uang tersebut.
"Sebenarnya, uang ini dari gue. Sumpah, gue nggak tega lihat kalian berada di titik ini. Namun melihat tampang nyebelin tapi penuh kata kegigihan lo, gue tarik lagi deh rasa iba gue. Lo kan kuat, Bang. Nama lo aja Petir, iya kan? Eh... Vay, tolongin, gue." Lautan segera bersembunyi di belakang Vay karena kakaknya ini mau menjitak kepalanya.
" Udahlah, Bang. Biarkan Utan bertamu layaknya tamu adalah raja." Seru Vay membuat Petir tercenung. Bagaimana tidak, panggilan 'Bang' dari Vay ini layaknya magic yang menghangatkan hatinya.
Tok... Tok... Tok...
Ketiganya saling pandang. Siapa lagi tamunya yang sedang gedor gedor tak sabaran di luar sana.
" Nah, pasti The kembar berikut Guruh sudah datang." celetukkan Lautan membuat Petir dan Vay terpekik bersama.
"Mereka juga kemari?" kompak sekali suami istri baru ini bertanya dengan intonasi kaget.
"Hehehe... Iya. Katanya, mereka kan belum ngasih doa pernikahan untuk kalian." Lautan cengengesan bak orang bodoh mendapat plototan horor dari Petir. "Jadinya mau bikin syukuran makan makan di sini."
"Hah..." Petir mendesah kasar. Lalu beranjak ke arah pintu. Vay dan Lautan pun mengekor.
Ceklek...
__ADS_1
"Hai, pengantin baru." Enam sahabatnya menyapa dengan nada menggoda.
Petir dan Vay membulatkan matanya karena semua tangan sahabatnya masing-masing menenteng wadah yang Petir duga isinya makanan seperti yang diceritakan Lautan.
"Party time!" Angkasa terpekik girang.
"Nggak ada namanya pesta. Nanti kalau gue uda bikin resepsi besar-besaran, baru kalian wajib merayakan apa yang harusnya di party time-kan. Sono lu pada pulang." Usir Petir.
"Tapi kami bawa amplop undangan yang isinya tebal tebal loh. Kalau gue kawinan eh nikahan baru lu balikin deh." celetuk Bhumi dengan tampan polosnya.
Mendengar bau bau uang, Vay dan Lautan meringis diam. Pasti Petir yang lagi sensi ini akan mengamuk. Keduanya menghitung dalam hati, satu detik, dua detik, tiga__
"Gue tau kalau kalian peduli sama keadaan terpuruk gue. Tetapi tolonglah, jangan tempatkan gue yang seakan akan gue itu pria pengemis yang tidak bisa berdiri kokoh tanpa uang banyak__ hah, lebih baik kalian pulang."
Braak...
Petir menutup pintu. Melihat wajah tertekuk para sahabatnya, ia jadi tidak tega mengomel. Jadinya, ia gantung separuh kalimatnya dan lebih memilih menutup pintu.
" Hehehe, Bang. Gue tidur di mana?" Lautan tercengir bodoh. Kakaknya ini tidak sadar kalau ia ada di samping Vay.
"Utaaaannn!"
Daripada disepak bokongnya, Lautan segera membuka pintu dan kabur.
Enam orang yang ada diluar, tadinya cemberut kecewa karena Lautan diijinkan masuk. Tetapi melihat Lautan gelagapan, akhirnya mereka tertawa puas.
"Senasib, Bro. Hahahah... Diusir juga loh." Kekeh Badai. Semuanya masih tergelak.
"Yuk, ah. Kita pergi. Tapi makanan banyak ini mau di apakan."
Lautan segera menyambar wadah tersebut di tangan Angkasa. Lalu menaruh di depan pintu kontrakan Petir.
Tok tok...
Setelah mengetuk pintu, ia pun ngebirit ke arah mobilnya, sembari berteriak." Ayo pergi, Bego. Atau kalian akan dilempar pakai makanan itu. Abang gue kan lagi haid..."
Dan pada akhirnya, mereka pontang panting setelah suara pintu perlahan dibuka.
"Woiiii..." Jerit Petir. Ia geleng geleng kepala. Betapa isengnya semua sahabatnya itu.
__ADS_1
"Kalau Abang nggak mau makan, biarin Neng Bule mu yang makan ya, Bang. Please, aku lapar. Dan ini cuma sekadar makanan. Toh, nggak baik buang buang makanan, Bang. Boleh ya?"
Lain lagi ceritanya kalau Vay lah yang sudah merengek.