
"Maaf, kami bukan orang jahat!" Petir berusaha menenangkan keadaan yang ia pun tidak tahu, kejahatannya di mana?Kecuali, kejahatan menculik Vay. Itu jangan dibahas lagi.
"Kami hanya orang luar yang terdampar di pulau ini." Seru Petir kembali. Vay hanya diam datar di tempat sembari menunggu apa yang sebenarnya orang orang di depannya itu permasalahkan? Padahal jujur, ia sedikit ngeri melihat orang orang pedalaman yang sedang mengepungnya saat ini. Seram uih...
"Jangan bohong! Kalian pasti pelaku yang sering menaruh potas dan bom untuk menangkap ikan berlebihan di laut ini. Apa kalian tidak memikirkan kami? Terumbu karang pada mati karena ulah kelicikan kalian yang maunya untung sendiri, tanpa memikirkan kami yang tinggal dipedalaman ini! Kami kekurangan bahan pokok makanan karena hasil laut untuk di barter semakin minim. "
Mulut Petir kembali tertutup tatkala mau membantah tuduhan pria yang mungkin kepala suku tersebut. Pasalnya, Vay tiba-tiba mengakui dengan berkata," Benar! Dia memang pelakunya, Bapak bapak. Dia pula orang jahat yang menculik saya. Saya adalah korbannya. Tolong saya!"
Vay tersenyum sinis ke Petir. Kapan lagi coba membalas Petir. Rasain dapat hukumannya dari orang orang pedalaman tersebut.
"Bukan__"
Bagh bugh Bagh buhg...
Vay tercengang melihat Petir langsung dihajar ramai ramai. Duh... Ia rupanya salah bermain-main kali ini. Petir bisa saja mati di tangan tangan yang mungkin hanya mengenal hukum rimba. Ia kira hanya akan mendapat pukulan satu atau dua kali. Tapiiii....
Bagaimana ini? Bagaimana woi?!
Vay kebingungan sendiri, ia menyesali mulut lemesnya yang membuat Petir sekarang babak belur. Hidung dan sudut bibir sudah berdarah darah.
"Lawan, Petir!" kata Vay berteriak. Ia juga geregetan pada pria itu yang begitu pasrah dihajar. Padahal beladiri Petir itu tidak bisa dianggap sepele. Tapi... Kenapa Petir malah memasang tubuh dan pasrah saja dioper sana sini seperti bola?
"Yamaaa!" Teriakan seorang wanita mudah berkulit eksotis manis, datang menghentikan orang-orang yang menghajar Petir tanpa ampun.
"Kami sudah menemukan pelakunya," kata pria yang dipanggil Yama bin Bapak oleh anak gadisnya itu.
Gadis itu menatap nanar korban warga dari sukunya. Lanjut menatap Vay yang bermuka cemas akan keadaan Petir.
"Kalian salah sasaran. Dehen dan kelompoknya sudah berhasil meringkus pelaku serta bukti buktinya. Dan pelakunya adalah wakil suku kita sendiri." terang gadis itu.
__ADS_1
"Iya, kami bukan orang yang kalian incar. Kami benar-benar terdampar di sini." Vay berkata penuh sesal. Kepala Petir sekarang berada di pangkuannya yang sudah lemah dan hanya sesekali membuka matanya karena kelopak itu sudah biru keuangan membengkak.
"Tapi kamu tadi mengakuinya!" seru satu dari yang lainnya. Mereka tidak mau di salahkan.
Vay menunduk sesal. "Saya hanya bercanda." jawabnya bersalah.
Sorakan kesal dari beberapa orang, menghadiahi Vay.
"Cepat, bawa dia ke rumah." Ketua suku itu berseru sembari menatap dua warganya secara bergantian. Lalu, tatapannya berhenti ke anak gadisnya. "Lona, beri obat orang itu. Yama akan pergi ke rumah pelaku yang sudah menyusahkan penghasilan utama warga."
"Baik, Yama."
Dan Petir pun di papah oleh dua orang pria yang tadi ikut menghajarnya ulah keisengan Vay, di temani Vay dan gadis bernama Lona dari belakang. Sedang ketua suku dan sisa rekannya berjalan ke arah barat.
Beberapa menit perjalanan meninggalkan pantai, Lona pun sampai di rumahnya yang bangunnya terbuat dari kayu. Vay tidak banyak kata, ia hanya sibuk memindai semak semak dan segala sesuatunya yang ia lewati sepanjang perjalanan.
"Ternyata ada kehidupan di tengah pulau terpencil ini," gumamnya dalam hati. Ia merasa takjub sekaligus was was di tempat asing tersebut. Biasanya kan, hal hal mistis masih kental bila menyangkut kehidupan pedalaman?
"Terimakasih bantuannya!" Gadis itu menunduk sopan kepada ke dua pria yang sudah menaruh Petir di atas bale bale. "Saya akan membuat ramuan untuk__" Lona menggantung ucapannya sembari menatap bergantian dua orang rupawan di depannya. "Maaf, apa kalian sepasang suami istri?" tanyanya ingin tahu.
"Bukan! Kami hanya teman. Nama saya Petir dan dia adalah Vay." Petir-lah yang menjawab dengan nada lemah. Dan entah kenapa, jawaban itu mengusik sedikit hati Vay perihal 'hanya teman'.
"Di depan cewek lainnya aja, ngakunya hanya teman. Cih, kalau berdua sok sokan ngaku cinta mati." dumelnya dalam hati. Dan rasa bersalahnya yang sempat menjahili Petir sampai babak belur, menguap begitu saja.
"Oh, baiklah. Panggil saya Lona. Kalau begitu, saya buat obat dulu." Lona beranjak meninggalkan dua tamunya.
Hening, Petir memilih memejamkan mata. Sungguh, sekujur tubuhnya terasa remuk.
"Apa lo marah?" ujar Vay membuka suara.
__ADS_1
Petir membuka matanya. Lalu tersenyum ke gadis yang sedang menatapnya serius. "Nggak kok, Vay. Selagi lo senang, maka gue nggak apa!"
Duh... Itu gombalan bujuk rayu atau memang pasrah sesungguhnya?
"Benaran nih, nggak apa-apa? Kok gue ngerasa__"
"Apakah gue harus mati, baru lo-nya mau ngelihat kesungguhan gue?"
Jleb...
Untaian penuh nada kecewa Petir, mampu mencubit cubit hati Vay.
"Katanya cintaaaa... Masa baru dijahili segitu uda ngambek sih?"
Petir tersenyum masam. Sudut bibirnya yang robek, terasa perih. "Demi ngelihat lo senang, gue sampai nggak mengelak dari pukulan orang orang tadi, Vay. Tenang saja, nyali gue masih banyak buat ngeraih hati lo. Percayalah, kalau suatu saat gue menghilang, maka itu tandanya nyali gue uda habis tak tersisa."
"A__" Vay kembali kehilangan kata katanya. Ia sangat tau kalau binar mata Petir tidak bermain main, tetapi... Ada sudut hatinya yang memberatkan untuk menerima Petir. Dan percayalah, itu sangat sulit bagi Vay terima. Ia tidak mau kecewa lagi hanya dengan nama cinta, seperti Cole-mantannya yang pernah memecahkan hatinya yang utuh menjadi berkeping keping.
"Lo mau tau, kenapa gue hampir nikah sama Abian?" tanya Vay tiba tiba. Petir yang tadinya lemah karena bonyok bonyok sekujur tubuhnya, mendadak semangat. Rasa sakitnya ia tahan dan segera duduk bersila di bale itu. Inilah cerita salah satunya yang ia ingin ketahui yakni hubungan Vay dan Abian secara sesungguhnya. Ia yakin kok, kalau Vay itu tidak mencintai Abian.
Tap Tap Tap...
Astaga, kenapa Lona datang dalam waktu tidak tepat. Jadinya, Neng Bule-nya nggak jadi berdongeng.
"Apa saya mengganggu kalian?" tanya Lona sembari menaruh sebuah piring yang berisi ramuan tumbuk dari tanaman obat. Ia menyadari tatapan Petir yang sepertinya memang terganggu.
"Ini obatnya?" Vay merubah topik. Ia menarik piring yang isinya sangat menyengat.
"Eum. Harus dibaluri ke kulitnya yang terluka." terang Lona ramah. Sejurus wajahnya merona malu karena harus mengatakan hal yang tidak pantas dilontarkan.
__ADS_1
"Maaf, Bu-buka bajumu. Saya akan mengobati mu." Katanya terbata bata. "Dan ah, kalian harus tau tradisi di suku kami, yaitu kalian tidak akan diijinkan pergi dengan selamat sebelum salah satu dari kalian menikahi salah satu orang pedalaman sini."
Huapaaa? Petir dan Vay menganga kaget. Masalah ini mah, masalah!