
Satu helikopter mendarat sempurna yang tak jauh dari posisi berdiri Vay dan Petir.
Tidak butuh waktu lama, penumpang transportasi udara itu pun turun. Nata dan Eldath-si Opa yang tak kenal ampun di masa mudanya.
"Ayah, Opa!" seru Vay. Tangan yang berada di genggaman Petir, sontak terlepas karena Vay berlari kecil untuk menghampiri kedua keluarganya.
Sedang Petir, ia masih terpaku di tempatnya. Menjadi penonton yang saat ini, gadisnya itu begitu asyik melepas rindu.
"Apa kamu tidak kenapa kenapa?" tanya Nata di sela pelukan Vay yang amat erat itu. Tatapannya lurus lurus ke pria yang sudah membawa kabur anaknya.
"Aku baik-baik saja, Ayah." Vay melepaskan pelukannya. Lalu melirik Opa-nya yang sama saja menatap mangsa ke arah Petir. Vay menelan ludahnya susah payah sesaat menyadari tatapan dingin dua pria berbeda umur di depannya itu, seperti mengisyaratkan akan ada roman roman yang tidak nyaman.
Oleh sebab itu, Vay dengan cepat berbalik badan dan berniat mengikis jaraknya ke Petir. Namun tiba tiba, tangannya spontan dicengkeram kuat oleh Paman dari Ayahnya ini.
Petir sontak mendekat. Namun kembali terpaku akan seruan Nata, "Diam di tempat!"
"Opa El, lepas!" ronta Vay sembari menatap punggung sang Ayah yang sudah berada di depan Petir. Tetapi Eldath sengaja menulikan telinganya. Perasaannya semakin tidak enak.
"Om, aku minta maaf__"
Bugh bugh bugh...
Ucapan Petir hanya angin kosong doang. Nata langsung saja memberi tinju demi tinjunya untuk memberi pelajaran pada orang yang sudah mencoreng nama baiknya dikhlayak umum.
__ADS_1
"AYAAAAH...! JANGAN! " Jerit Vay sembari meronta di cengkeraman kuat Opanya. Bukannya terlepas, Opanya ini semakin kuat saja menahannya. "Opa El, nanti Petir bisa terluka!"
"Itu yang kami inginkan, Anevay!"
"Tapi, Opa__"
"Kamu berani melawan Opa?"
Vay terpaku sembari menatap nanar kekasihnya yang terus di hajar oleh Ayahnya. Sekuat tenaga ia melawan Opanya ini, maka rasanya percuma saja. Vay sangat mengenal watak keras Opanya ini. Jangankan orang lain, Yolanda- omanya saja dulu wareg mendapat cambukan dari Opanya sebagai efek jera.
Bugh bugh...
Merasa memang patut mendapat pelajaran, Petir hanya pasrah menerima pukulan demi pukulan yang sudah berhasil membuatnya tersungkur ke pasir. Cecap asin asin amis sudah terasa di lidahnya, sudut bibirnya itu memang sudah robek. Hidungnya pun sudah mimisan. Darah segar itu menetes beberapa kali ke pasir.
"Cinta tai kucing!" Bukannya mengerti, Nata semakin muak dan semakin bersemangat memukuli anak muda itu dengan membabi buta.
Vay semakin meraung raung, karena kesadisan sang Ayah di atas tingkat kewajaran. Perut Petir kini menjadi bulan bulanan kaki Ayahnya, tanpa peduli kalau korbannya itu sudah merinti kesakitan.
"Saya menerima se-semuanya, Om. Ta--tapi restui aku dan Va-Vay..." Petir terbata bata. Matanya sudah buram dengan kasadaran nyaris hilang.
Mendengar itu, Nata hanya menyeringai.
"Ayah... Hiks hiks, kami saling mencintai... Jangan, Ayah!" mohon Vay di sela sela tangisnya tatkala kaki Nata hendak menendang wajah Petir. Orang tuanya itu benar-benar dititik emosi yang tak bisa ditahan tahan.
__ADS_1
"Ayo pergi!" seru Eldath dan Nata pun tidak jadi menendang telak wajah itu. Setelah bertutur, Eldath segera menggeret geret Vay yang enggan beranjak. Gadis itu malah melawan dalam tarikannya dengan cara menggigit lengan sang Opa.
Dan terlepas! Vay berlari ke arah Petir yang bermaksud ingin menolong kekasihnya. Akan tetapi, ia kembali dicekal dari tangan sang Ayah.
"Biarkan dia merenungi kesalahannya di pulau terpencil ini!" Nata benar-benar mementingkan kepuasan hatinya. Tidak peduli kalau Petir itu adalah anak Langit dan Senja yang notabenenya mereka menjalin persahabatan dan bisnis sedari dulu. Salah tetap salah tanpa ada toleransi.
"Ayah... Lepas! Jangan tinggalkan Petir di sini! Ku mohon, Ayah. Bawa dia bersama kita!" Vay mencoba memohon di sela sela tarikan kuat Nata. Namun sang Ayah hanya bungkam dengan cengkeraman semakin menyakitkan pergelangannya. Ayahnya pun dengan tega menghempaskan tubuhnya itu masuk ke heli.
Nata semakin muak karena Vay malah membela Petir. Dan apa katanya tadi? Mereka saling mencintai? Bajingan sekali anak Langit itu yang mungkin menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hati anak semata wayangnya.
"Haris... Cepat jalan!" Titah Eldath pada pria yang mengendalikan sistem kemudi helikopter.
"Jangan Haris! Ayah... Opa, Petir bagaimana?" Vay semakin gusar. Sekuat tenaga ia mencoba membuka pintu helikopter tetapi sudah terkunci otomatis dari sistem kemudi. Opanya itu lah pelakunya.
Dan apa boleh buat, Vay hanya bisa meraung raung isak sembari memukul pintu dengan pandangan tertuju ke arah tempat Petir yang sudah tidak sadarkan diri.
"Vay tidak menyangka kalau Ayah begitu jahat!" Vay meracau frustasi dengan isak pilu terdengar.
"Kirim sinyal ke helikopter Topan, Haris." Mendengar perintah sang Ayah, Vay sedikit lega. Namun urung tangisnya berhenti. Ia semakin tergugu gugu pilu. Tidak menyangka sebelumnya, kalau ia dan Petir malah ditentang hubungannya oleh sang Ayah yang sebelumnya terkenal hangat dan begitu sangat menyayanginya.
"Diamlah, Vay. Kamu tidak tahu apa yang kami alami setelah hari H pernikahanmu hancur. BUNDAMU, OMAMU juga sangat sangat memprihatinkan kesehatannya! Dan itu karena memikirkan mu. Gara gara kelakuan pecundang Petir lah akan kekacauan ini!" Nata terus mengomel dengan dada bergerumuh.
Bukannya berhenti menangis, Vay semakin tergugu mendapat kabar buruk itu.
__ADS_1