Menculik Calon Istri Orang

Menculik Calon Istri Orang
Bab 42


__ADS_3

Kehadiran Nata di tengah tengah perseteruan Vay dan karyawan toko membuat keadaan semakin menarik saja ditonton oleh para pengunjung toko itu.


"Ayah..." lirih Vay dalam hati. Entah harus senang atau bersedih di pertemukan Nata dalam waktu yang memalukan dirinya. Ia hanya bergeming di tempat sembari menundukkan pandangannya, tidak berani lebih lama menatap wajah berkharisma Ayahnya untuk yang pertama kalinya.


"Maaf, Pak. Tetapi mbak ini sudah merusak barang toko," tutur karyawan itu ke Nata dengan nada sopan, tidak seperti berbicara ke Vay barusan yang terkesan membentak gadis itu.


Nata menatap nanar Putrinya. "Vay," panggilnya. Vay memberanikan diri membalas pandangan Nata, tetapi enggan untuk bersuara. Dan itu membuat Nata bersedih dalam diamnya karena Vay yang di lihatnya sekarang ini seperti bukan anaknya lagi yang terkesan menghindarinya.


"Ayah akan menggantinya, tapi Ayah minta kamu pulanglah. Kamu tidak pantas menjadi gembel di jalan bersama suamimu yang entah kapan bisa membuktikan persyaratan Ayah."


Itu tandanya, ayahnya ini akan memisahkannya lagi dengan suaminya. Vay tersenyum kecut ke ayahnya. Tanpa satu kata pun, ia mengeluarkan dompet dan menarik KTP-nya untuk diberikan ke karyawan toko sembari berkata, "Kalau dalam waktu tiga hari saya belum bisa melunasi kerugian ini, maka Mas atau pemilik toko ini boleh membawa saya ke jalur hukum. Tapi ingat, Mas. Hanya saya yang bayar, bukan uang orang lain."


Bukan uang orang lain... Empat kata itu berhasil menampar ego Nata. Pria itu hanya mampu menatap nelangsa kepergian anaknya.


" Hiks hiks hiks... " Sampai di parkiran mall, Vay terisak isak tangis yang sebenarnya sudah ia tahan sedari awal bertemu Nata. Ia menangis karena Ayahnya masih kekeuh ingin memisahkan dirinya dengan Petir. Perasaannya semakin gusar manakala memikirkan uang dari mana untuk membayar kerugian guci yang pecah itu dalam jangka waktu tiga hari doang.


Vay lebih memilih masuk ke dalam penjara daripada meninggalkan Petir yang pasti akan berdampak menyakiti hati suaminya yang begitu dalam. Ia tidak tega melihat kehancuran suaminya yang sudah berkorban banyak untuknya.


Vay yang kacau melampiaskan kekesalannya dengan cara menendang pelan ban mobil orang lain. Seketika, peringatan verbal alarm berbahaya mobil mewah itu berbunyi.


Vay gelagapan. Sejurus ingin kabur tetapi pemilik mobil yang kebetulan sudah selesai ngemall langsung menahan kuat pergelangan tangannya.


"Kamu mau maling, hah?" tuduh pria muda itu yang belum jelas melihat wajah Vay, karena tertutup oleh rambut.


Masalah lagi. Vay yang tidak mau menambah beban hidupnya, menghentak tangannya yang berniat kabur, tetapi kekuatan pria tersebut tidak bisa disepelekan juga.


Tangan Vay malah dipiting ke belakang tubuhnya, membuat gadis itu melolong sakit.


"Gue bukan maling, Sialan! Alarm mobil lo yang murahan. Bannya ditenggor aja langsung rusak!"

__ADS_1


Mendengar suara Vay, pria itu melepaskan cekalannya. Dia tersenyum miring melihat wajah gadis indo ini.


"Dika...!" seru Vay terbelalak. Lalu memutar mata malas.


"Lama nggak jumpa, Vay. Dan ah, apa kamu masih ingat bekas luka ku ini?"


Vay berdecak sembari membuang pandangan ke samping tatkala pria itu mendekatkan wajah songongnya. Dika-bekas teman sekolahnya yang nakal itu rupanya masih menaruh dendam padanya karena dulu ia pernah tidak sengaja melukai dahi Dika sampai robek dan meninggalkan bekas meski tinggal seperti sehelai benang.


"Itu salah lo sendiri dulu. Gue cuma membela diri dari kejahilan lo. Uda ah, gue mau cabut!"


Vay pergi. Ia tidak berminat meladeni mantan teman sekolahnya yang dulunya sering mencari gara gara padanya.


Tiiiing...


Vay yang berniat masuk ke dalam mall untuk menghampiri Petir, seorang pemotor menyalakan klakson padanya.


Purnama!


"Vay...!" Panggil ceria Purnama.


Vay mendekat. Ia memang butuh tempat curhat dan kebetulan ada sahabat terbaiknya ini.


Vay langsung naik ke boncengan Purnama. Lalu mengambil selfie asal asalan.


"Jangan bilang foto barusan mau lo unggah di sosmed?" beo Purnama yang cemas kalau Abian melihatnya. Bisa gawat hidup damainya kalau itu terjadi.


"Bukan, Ama. Gue mau kirim ke Petir. Cepat jalan. Bawa gue ke tempat yang ada pohon duitnya!" Vay bertutur sembari membuka aplikasi hijaunya. Ia mengirim bukti kebersamaan Purnama dan note minta izin-nya.


Send...

__ADS_1


***


"Hah ... Tujuh puluh juta?" Purnama terpekik setelah Vay menceritakan permasalahannya. Mereka berdua saat ini berada di sebuah taman kota.


"Bantu gue, Ama. Kalau nggak, mati membusuk deh gue di penjara." Vay menjambak rambutnya frustasi. Kalau dulu, uang segitu tidak seberapa baginya, tetapi kalau sekarang ... Hah.


"Ya ampun, Vay. Masalah lo udah kayak diberi pupuk kompos, subur beut. Gue mana bisa ngasih lo uang segitu banyaknya. Kan lo tau sendiri kalau gue juga miskin, Papi masih membekukan aset gue sampai gue bersedia pulang ke rumah. Tapi gue ada sepuluh juta sih, itu pun semalam habis menang balapan motor. Eh, tapi lo uda cerita belum ke laki lo?"


Vay menggeleng-gelengkan kepalanya, pelan. "Gue nggak tega beri dia beban lagi, Ama. Tau sendiri kan kerjaan laki gue sekarang, kuli bangunan." Meski Petir baru saja mendemo aplikasi buatannya, namun Vay tau betul kalau hasilnya juga tidak bisa dipetik dalam waktu tiga hari. Itu pun kalau pak Ganis benar-benar setuju bekerja sama, kalau gagal... Alamak, semakin lama dirinya itu menjadi orang terbuang bersama suaminya.


Tunggu dulu, sepertinya Purnama sudah memberi solusi kepalanya yang pusing tujuh keliling tentang persoalan uang.


"Tadi, lo bilang dapat uang sepuluh juta dari mana, Ama?" tanya Vay memastikan. Ia kurang fokus, apa kah ianya itu salah dengar.


"Balapan motor__"


"Bravo ... Love you..." Cup...


Mulut Purnama hanya bisa melongo akan kelakuan tidak jelas Vay yang mencium pipinya secara tiba tiba. Lanjut, sahabatnya itu menarik dirinya dan mengajaknya berputar putar.


"Sinting lo, Vay. Kepala gue kliyengan ini..." Purnama terpekik kesal. Vay malah terbahak bahak.


"Ajak gue balapan, Ama."


"Hah... Nggak, nggak. Lo nggak ada skill yang namanya aspal panas." Purnama menolak.


"Si anying. Lo ngeremehin cucu mantan Wildflower si ratu ngetrack pada masanya. Lo lo aja pada yang nggak tau skill gue. Main trail aja gue sanggup, Ama."


Purnama masih ragu. Memang, Vay itu cucu dari Yolanda dan Kemal yang dulu sering membelah aspal panas. Dua orang tua itu aja ketemu pertama kalinya saat balapan, tetapi untuk Vay, sungguh ia tidak mengetahui bakat Vay.

__ADS_1


" Lo mau bukti? Sini kunci motor lo."


Purnama langsung menyembunyikan kunci motor kesayangannya. "Nggak, nanti lo ditilang atau nabrak orang karena ugal ugalan di tempat yang salah. Nanti malam lo atur aja deh. Pokoknya, jam dua dini hari rombongan biasanya ngumpul."


__ADS_2