Menculik Calon Istri Orang

Menculik Calon Istri Orang
Bab 44


__ADS_3

"Gila, lo...!"


Bukan Vay yang memaki Dika, tetapi Purnama lah orangnya. Wanita itu baru bergabung dan mendengar persyaratan Dika.


Vay sendiri masih diam sembari berpikir keras. Kalau menang, itu tandanya ia bisa terbebas dari jeratan penjara. Tetapi kalau kalah? Alamak... Vay meringis ngilu dalam hatinya membayangkan dirinya di bawah kungkungan pria lain yang suaminya pun sampai saat ini masih sangat menjaga kesuciannya.


"Ayo pulang, Vay. Jangan berpikir lagi. Intinya, gue nggak izinin lo sampai kenapa kenapa." Purnama menarik tangan Vay sampai sahabatnya itu berbalik kasar.


"Ya, seorang pecundang memang bisanya kabur." Dika sengaja mempertanyakan nyali Vay dengan cara mencongkel harga diri perempuan itu.


Purnama berhenti dan tentu saja Vay pun sama. Mereka kompak berbalik. Gege, Rafael serta pengunjung lainnya sudah membuat variasi membundari tiga orang yang saling berhadapan hadapan.


"Cuih, dua hari lalu aja lo itu kalah balapan sama gue. Harusnya kemarin sih, gue nyuruh lo nyium jempol kaki gue yang bau kos kaki satu minggu nggak di cuci , dari pada nerima uang taruhan," Celetukan Purnama membuat orang orang yang membundar itu tertawa lucu.


Tetapi tidak dengan Dika. Dua mantan teman sekolah dasar ini memang dari kecil selalu kompak. Dulu, ia kira Vay adalah anak desa yang sok sokan masuk sekolah berbasis internasional nyatanya, anak konglomerat. Dan usaha Papanya pernah menjadi bulan bulanan oleh ayah Vay waktu lampau, karena ia sering membuat ulah ke Vay. Itulah sebabnya, ia masih menaru dendam dan mumpung punya kesempatan malam ini, ia tidak akan melepaskan anak Dinata ini.


"Diam lo, Ama. Jangan ikut campur atau __"


"Atau apa, eum? Atau lo mau balik minta segelas susu ke nyokap lo? Atau lo akan bersembunyi di ketek Papa lo?" Purnama berhasil lagi membuat bibir orang orang menertawai Dika.


Pria itu menggertak giginya, kesal setengah mati ke Purnama. Awas saja. "Gue itu tau kelemahan lo, Ama. Yaitu, Abian." Kali ini, Dika lah yang tersenyum jumawa saat melihat wajah Purnama memucat seketika.


Cekrek...


"Eh, lo main foto gue mau apa, hah?" Purnama murka. Ia ingin merebut hape Dika yang berniat menghancurkan hape itu, tetapi pria jangkung itu mengangkat tinggi tinggi tangannya.


Send.


"Foto dan lokasi kita saat ini sudah masuk ke chat Abian. Tunggu saja, nanti pria gila itu juga datang menjemput lo."

__ADS_1


"Biadab!" Purnama berpindah ke belakang Dika. Lalu dengan cepat menendang kuat bokong Dika dan jatuh tepat di depan ujung sepatu Vay yang masih sibuk berpikir keras.


Suara tawa kembali membahana.


Setelahnya, Purnama kabur tanpa mengingat keselamatan Vay karena ancaman Dika bukan omong kosong. Wanita itu kalut sendiri karena benar-benar takut dinikahi secara paksa oleh Abian yang sebenarnya mau balas dendam doang padanya. Ia masih ingin seperti burung liar yang jauh dari kata sangkar emas.


"Eh, Ama..." Panggil Vay yang sudah tersadar dari lamunannya. Namun tangannya segera dicekal oleh Dika.


"Jangan memaksa, Bro." Rafael yang berteman oleh Ama, akhirnya berniat baik untuk membantu Vay. Pria itu menepis tangan Dika yang tidak mau melepaskan pergelangan tangan Vay.


"Ini urusan gue!" ketus Dika melotot musuh ke Rafael membuat nyali pria itu menciut.


"Lo itu benar-benar mau jadi banci nantangin seorang cewek ya. Baiklah kalau begitu, gue mau."


Keadaan semakin riuh bertepuk tangan akan kesediaan Vay.


Inilah yang ditunggu-tunggu oleh Dika.


"Ada motor gue, Vay. Ama tadi sudah sedikit bercerita tentang kedatangan lo ke mari." Rafael yang tadinya melerai Dika, berujung bersemangat. Ia juga penasaran skill sahabat Purnama ini.


"Mesin, kecepatan dan secara keseluruhan aman nggak?" Vay tentu harus mengecek kendaraan yang akan dipakainya demi keselamatan dan kemenangannya.


"Kamu boleh mencobanya satu putaran." Dika berseru. Di susul Rafael melempar pelan kunci kawasaki yang sudah di taksir Vay sejak awal kedatangannya.


Dengan senang hati Vay menangkap kunci itu. Kefungsian rem dan lainnya memang harus di pastikan olehnya. Ia pun segera menumpaki motor itu, lalu menancapkan kuncinya.


"Nyalain motornya, bagaimana, Rafael?"


Hahaha... Semua orang menertawakan Vay yang tidak bisa menyalakan motor tersebut katanya. Termasuk Dika. Dan Gege yang mendengar itu jadi berniat ikut taruhan dengan nilai seratus juta juga. Kapan lagi akan mendapatkan kesempatan menikmati cewek yang benar-benar jelita seperti Vay.

__ADS_1


Namun, Vay sebenarnya hanya berpura-pura bodoh. Ia memang sengaja membuat kesan kalau ia sama sekali tidak mempunya skill naik motor.


"Vay, lo yakin mau taruhan? Lo mempertaruhkan tubuh lo, loh. Gue nggak mau diamuk oleh Ama nanti karena tidak bisa ngelidungi lo di saat dia tidak ada." bisik Rafael sembari mengajari Vay menyalakan mesin motor kesayangannya itu dan kuda besi tersebut pun yang sering dipinjam Purnama untuk balapan. Ia jadi ragu mendadak karena Vay memang terlihat bodoh hanya menyalakan mesin saja tidak bisa. Lah, balapannya piye toh, Mbok?


" Gue yakin, Rafael. Lagian, kalau Ama datang nyalahin. Lo hardik aja dia, 'Kenapa kabur ninggalin Vay, gitu.'" Vay sebenarnya kesal juga sama Ama yang langsung kalang kabut mendengar nama Abian saja.


"Buruan cobain motornya, Vay. Gue nggak sabar lagi ngalahin lo." Dika merasa di atas awan.


Vay tidak bersuara lagi. Setelah mesin menyala dan Rafael menjauh dari motor, gadis itu sengaja memutar seratus delapan puluh derajat agar knalpotnya tertuju ke arah Dika dan Abian, dan itu terlihat wow dan mengejutkan dipandang orang.


Dika dan Gege yang berdiri bersisihan, melongo kaget.


"Eh, tadi gerakan apa namanya? Gue nggak sengaja lakuinnya." Vay pura pura polos. Dan setelah itu, Vay menggas kuat motornya untuk menciptakan asap tebal ke wajah dua pria yang akan menjadi rivalnya.


"Sialan!" maki Dika dan Gege secara kompak. Tetapi Vay malah melajukan motor Rafael dengan kecepatan santai untuk mencoba bersahabat motor tersebut.


Setelah mencobanya, Vay kembali dan menghentikan lajunya di tengah tengah motor Dika dan Gege yang sudah stay di garis star.


"Vay..." Rafael maju ke depan motornya. Lalu memberi helmnya ke Vay. "Pakai ini sebagai antisipasi keselamatan lo."


"Thanks, Rafael. Dan fungsi motor lo memang oke. Doain gue menang, Bro." Vay bertutur sembari memasang helm hitam yang bertulis monster di sisi kanan.


"Pasti!"


Setelah mengumandangkan peraturan balapan ke tiga joki di depannya itu, Rafael pun keluar dari jalur. Digantikan masuknya seorang wanita dengan membawa kain merah yang diangkat tinggi tinggi.


"Three ... two ... And go...!"


Broomm...

__ADS_1


***


Hai semua 😘 Jangan lupa mampir di misi kepenulisan Tata yang masuk seleksi. Judulnya, "Sistem Anak Jenius (Jadi Ibu Anak Jalanan) Di tunggu semuanya... 🙏😍😘


__ADS_2