
"Seriously?" Petir bertanya untuk meyakinkan kembali dirinya. Takut takut ini hanya mimpi indah. Tapi anggukan kepala Vay sungguh membuatnya ingin jingkrak jingkrak senang.
"Aaaaa senangnya punya pacar!"
"Idihh, lebay banget deh. Kayak ABG aja pakai tinju tinju udara gitu!" Vay mencibir. Tapi dalam hatinya tertawa lucu melihat kegembiraan Petir.
"Hehehe...!" Petir yang diejek, tertawa renyah sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Namun sejurus, ia lebih mendekat ke Vay. Lalu mengangkat kedua sisi pinggang ramping itu. Membuat Vay terpekik kaget karena saat ini, Petir berputar putar membawa diri nya pun dan jelas itu pusing rasanya.
"Tir...ish, kalau gue jatuh bagaimana? Turuniiiinn...!"
Kruyuk...
Perut Vay berbunyi. Membuat Petir segera berhenti dan segera menurunkan Vay. Ia sangat jelas mendengarnya karena perut itu berada tepat di depan wajahnya.
"Pacar Abaaaang, lapar ya?" Tanyanya menggoda yang sengaja sekali mendayu-dayu manjakan kata 'Abang' itu.
Vay yang mendengar panggilan tersebut, jadi tersipu sendiri. Biasanya hanya pakai Lo Lo gue gue, eh ini Abang dan pasti pakai Eneng Bule.
"Iya Abaaang bakso!" Vay terkekeh sembari berjalan ke arah ransel yang teronggok di tanah. Petir tentu saja mengekor. Jangan sampai jauh jauh pokoknya, nanti basi eh kabur.
"Ish, kok ada Baksonya sih? Pakai 'Abang Ayang' gitu!"
"Jangan lebay deh ah! Lebih baik kita makan." Vay membuka ransel tersebut. Dan terlihatlah ada beberapa pasang baju serta makanan. Tangan lentik itu meng-unboxingnya satu demi satu pakaian serba baru yang ukurannya oblong semua kaosnya. Tapi tunggu, ada yang menarik di mata Vay.
"Lo benar-benar niat nyulik gue ya! Baju sampai dalaman pun lengkap semua. Astaga, ini ********** kok kecil banget. Kita kira dong, Tir. Ini ukuran anak SD." Kain kecil itu di pamerkan di depan wajah Petir. Agar pria itu sadar, betapa bodohnya kalau memilih barang cewek.
Vay jelas mendadak emosi. Kok bokongnya dianggap kecil sama Petir? Picekkah matanya? Panggul bohay bohay seksi begitu malah dibelikan ukuran M untuk usia anak-anak. Nyebelin kan. Baru juga resmi jadi pacar beberapa menit yang lalu. Ini uda dibikin jengkel. Haloha, perempuan itu paling sensitif kalau masalah postur tubuhnya disepelekan.
" Duh, Neng. Sumpah ini itu kelakuan Angkasa dan Bhumi. Pasti si Twins beli buat anak kita nanti." Petir menyumpahi dua sahabatnya itu dalam hati karena asal asalan sekali membeli barang perempuan. Jadi apa boleh buat, ia pun beralasan untuk anaknya yang entah kapan akan di beri. Nikah aja belum.
"Udalah ya, lupakan ini. Dan mari kita makan." Demi suasana tercipta hangat kembali, Petir menarik kain berwarna pink itu di tangan Vay yang masih saja dipandangnya heran oleh si Neng Bule ini.
Vay yang ususnya memang berdemo pun, jadi melupakan perihal kain segitiga yang masih ada brandnya.
" Nanti kalau gue ketemu si kembar, gue mau balikin ke mereka. Kalau perlu gue masukin ke kepalanya. Muat apa kagak? Dasar ya mereka."
Petir sekuat tenaga menahan senyumnya agar tidak lepas. Vay ini meski ngomel, tetapi lucu di mata. Apalagi membayangkan Angkasa atau Bhumi akan dijejeli kepalanya pakai segitiga merah muda itu katanya.
" Aaaa... Ayo makan. Jangan ngomel melulu. " Setelah membuka separuh plastiknya, Petir pun menyodorkan roti sandwich rasa keju itu ke mulut Vay.
Vay tertegun sejenak. Tersenyum manis ke Petir lalu menggigit makanan tersebut tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Petir.
" Lo itu tampan, tetapi kadang kadang nyebelin dan nekatan orangnya." komentarnya berceletuk.
__ADS_1
Petir tersenyum uda dipuji meski berujung dikatai. Lalu menyikut mesra lengan Vay yang memang mereka duduk bersebelahan. "Tapi lo cinta juga kan ujung ujungnya." Godanya sembari menaik turunkan alisnya.
"Eum, itu tandanya gue uda sinting. Hehehehe..." Vay tertawa sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Cinta memang rumit, lucu, manis, menyedihkan dan semuanya ada di dalam lima huruf itu."
Hening, Petir yang ingin menyahut. Jadi tertahan karena kepala Vay tetiba bersandar di pundaknya.
"Lo janji jangan seperti pohon pisang ya!"
"Hah... Kok disamain pohon pisang? Apa hubungannya, Neng?" Petir bertanya heran.
"Ada! Pisang punya jantung tapi nggak punya hati. Sedang manusia punya jantung dan hati tapi kadang-kadang menyakiti tanpa punya hati seperti pisang." Kali ini, nada Vay sangat serius. Ia memang tidak meragukan cinta Petir padanya, tetapi ke depannya kan hanya Tuhan yang tahu.
" Lo mau bukti keseriusan gue, Neng?"
Vay menarik kepalanya yang sempat di elus elus sayang oleh Petir. "Apa tuh buktinya? Jangan bilang manjat pohon lalu mau terjun bebas. Itu sih namanya bunuh diri." Vay tersenyum ejek. Dapat putaran mata malas dari Petir.
"Bukan itu. Gue eh Abang ogah mati dulu." katanya dengan smirk nakalnya.
"Terus?"
"Perkosa gue!" kata Petir lalu terkekeh geli karena Vay sudah melotot horor padanya.
"It's oke, buka celana lo sekarang?" Vay menarik ranting kering yang ada di sebelah kirinya. "Gue mau lihat, seberapa pantasnya punya lo sampai sampai rela mau diperkosa. Ck ck ck...enak di lo, nggak enak di gue, Nyuk. Dasar nyebelin! Mesum dan jorok!" kesal nya berdecak decak.
" Gue nggak suka otak kotor lo! "
" Canda, Vay. Sumpah, Sayang! Gue nggak berani sebelum ada kata resmi!"Kembali Petir terus mengulang kata-kata resmi itu di sela larinya.
Dan bugh... Petir tersandung di akar pohon.
"Hahahaha, memang enak!!!" Hanya mulut Vay yang tertawa girang. Tapi tangannya itu menjulurkan ke arah Petir sebagai pertolongannya.
Mereka saling sayang, tetapi dengan cara iseng mengesing. Dari kecil pun, Petir sudah sering membuat Vay menangis kejer karena kata jahilnya. Tapi kalau orang lain yang melakukan kejahilan, maka Petir lah yang paling depan membela gadis tersayangnya itu.
"Tir, gue mau pulang! Lo nggak mau gitu ngebagi kebahagiaan kita sama the Kurcil, dan orang tua kita?"
Petir terdiam. Ia juga mau pulang dan segera melamar Vay. Tetapi bagaimana caranya? Helinya saja masih mogok.
"Hanya Yama yang bisa bantu kita!" kata Petir. Membuat Vay bergidik ngeri oleh ide bodoh Petir.
"Ayo kita balik ke pemukiman mereka!"
"Nggak! Iiih, gue nggak mau dinikahkan. Serem! Atau lo jangan jangan mau dapat cewek suku ya?" tolak Vay.
__ADS_1
Petir geleng-geleng cepat sembari nyengir.
"Bagaimana kalau kita minta dinikahkan saja?" ide Petir. Vay menatapnya lamat lamat sembari mendekat ke wajahnya. Lebih dekat lagi, batin Petir yang dikiranya Vay ingin menciumnya. Tapi tuk...
"Otak digunakan!" Vay menoyor kesal jidat itu. Membuat Petir manyun manyun minta di manja.
Dan cup... Bibir monyongnya main mencuri kecupan di pipi Vay membuat Vay berdecak.
"Malah nyuri! Bukannya mikir kalau pernikahan akan dianggap tidak sah tanpa persetujuan orang tua gue!" terang Vay.
Petir mengangguk sembari berkata, "Iya juga. Tapi kita memang harus ke sana. Percaya sama Abang! Semuanya akan baik-baik saja. Dan kita akan pulang!"
"Yakin?"
Petir mengangguk. Dan Vay pun menurut karena percaya sama Petir yang bisa menjaganya dari apapun.
"Sekarang saja kita ke sananya!" Petir berjongkok di depan tubuh Vay. "Naiklah, Tuan Putri. Pangeranmu tidak akan membiarkan Tuan putrinya kecapean."
"Dengan senang hati, Kuda. Hahahah...!" Vay tertawa jumawa saat mendengar dumelan Petir yang tidak terima dikatai kuda.
Dan mereka pun benar-benar berjalan menuju pemukiman suku dengan Vay masih digendong manja di punggung kekar Petir.
Sesekali mereka bercanda mesra. Petir juga sering mengeluh capek. Tapi Vay yang memang sudah mager dan malas berjalan hanya bodoh amat.
"Kecup kek, biar semangat gitu jalannya. Hitung hitung vitamin ___"
Cup... Vay dengan senang hati mengecup mesra pipi itu.
"Kurang tau!"
Di kasih hati minta jantung kekasihnya ini. Tetapi Vay yang juga lagi kasmaran, segera menurut. Mengecup pipi Petir dalam lima menit sekali. Pipi Petir sampai basah.
"Vay lo terakhir sikat gigi kapan?"
"Haahha... Bau jigong ya?" Vay tanpa jaim mengatakan itu. Kalau gadis lain di depan pacarnya pasti sok manis, kemayu dan sok anggun dalam bertindak. Tetapi inilah Vay yang apa adanya.
"Ho'oh..." Petir tersenyum lucu, tak apalah pipinya bau jigong juga. Ia maklum kok, karena ianya pun sama yang belum mandi apalagi sikatan.
"Tapi cinta kan?" goda Vay di sisi telinga Petir. Ia sengaja meniup mesra telinga itu.
"Cinta bangeeeeet. Heheh... !"
"Ya uda, cepat jalannya. Kita harus bisa pulang. Awas saja pokoknya kalau kita dapat masalah lagi sama tuh penduduk suku."
__ADS_1
" Percayalah sama Abang ganteng ini!" Petir memang sudah punya rencana untuk mengambil hati Yama. Kalau penduduk itu menganggap mereka berdua pembawa sial di sukunya, maka Petir dengan gentleman akan mematahkan pendapat picik mereka dengan rencananya yang sudah terpikir matang matang di otaknya saat ini.