
Petir dan Vay sampai di sebuah mall elit di kotanya itu. Calon klien Petir memang meminta suaminya langsung menemui di restoran.
"Saya Petir, sudah ada janji dengan Pak Ganis." Petir segera mengutarakan niatnya saat salah satu waiters menyambutnya sebagai pelanggan.
"Oh, mari Pak, Bu. Pak Ganis memang sudah menunggu kedatangan Anda."
Vay hanya mengekor di sebelah Petir menuju ke ruangan yang cukup privasi.
Setelah pintu diketuk oleh pelayanan perempuan ini dan mendengar sang Empu ruangan mempersilahkan masuk, Petir dan Vay pun melenggan ke inti ruangan. Dan terlihatlah seorang pria berkemeja navy duduk di meja kebesarannya.
Dalam dunia bisnis, Vay memang sudah dibilang tidak asing lagi. Ia mengenal secara virtual siapa kah klien suaminya ini- Pak Ganis yang kerap mendapat julukan raja kuliner karena usaha kulinernya dari restoran dan cafe cafe hampir berada di titik titik pusat kota yang ada Negaranya.
Semoga, Pak Ganis ini tidak mengenal nama belakangnya yang takutnya ayahnya itu terus memblacklis nama mereka berdua dari segi bidang manapun. Vay hanya mencemaskan hal tersebut dari perjalanannya menuju ke tempat itu.
"Silakan duduk, Pak Petir. Dan ini..." Pak Ganis menatap Vay yang ada di samping Petir.
"Perkenalkan, ini istri saya, Pak. Namanya, Vay."
"Istri yang sangat cantik. Kalian sangat serasi."
Mereka saling menjabat tangan secara formal. Setelahnya pasutri itu dipersilahkan duduk di sofa tamu yang ada di sudut ruangan. Vay sedikit lega karena Pak Ganis ini sepertinya tidak mengenal latar belakang mereka.
Tanpa berlama-lama, Petir segera mengeluarkan laptopnya karena sang klien sudah tidak sabar ingin mendengar priveiw suaminya katanya.
Lunch meeting pun berlangsung. Vay hanya duduk berdiam kagum akan cara persentase Petir yang mendemo aplikasinya secara detail tetapi mudah di mengerti olehnya apalagi pebisnis kuliner tersebut.
"Benar sekali, Pak Ganis. Pelanggan tidak perlu repot repot memanggil waiters lagi untuk memesan makanan. Melalui aplikasi menu ini, pelanggan bisa memesan menu melalui layar touchscreen yang tersedia di meja. Dan pesanan bisa langsung tersambung ke dashboard para koki - koki di dapur sesuai dengan daftar antrian dan nomer meja yang memesan. Dan untuk total sturk pembayarannya itu akan otomatis masuk ke daftar kasir. Para pelanggan juga bisa langsung membayar makanannya menggunakan digitalnya melalui aplikasi ini. Atau kalau tidak, mereka bisa membayar tunai melalui kasir.
"Pembayaran dua opsi ya?"
__ADS_1
"Betul, Pak. Mudah dan simpel tetapi menghemat tenaga kerja bukan, Pak?"
Pak Ganis manggut manggut mantap mendengar penjelasan Petir. Vay tersenyum dalam diamnya melihat ekspresi puas di wajah klien suaminya ini.
"Kalau Anda mau mempelajarinya lebih detailnya terlebih dahulu. Saya akan memberikan situs webnya dan inilah tautannya, hhtps://vp.restomenu.id. Bapak bisa mendemonya secara langsung di alamat ini."
"Saya bukan hanya mau mendemonya lagi, tetapi saya maunya langsung mempraktekkannya langsung untuk mencobanya. Kita mulai one by one dulu. Pakai laptop ku sebagai touchscreen pelanggan dan laptop Anda sebagai dashboard koki di dapur kalau saya puas, kita bisa berbicara lebih lanjut lagi. Untuk sambungan ke kasir, biarkan menyusul. Bagaimana?"
Yes... Petir bersorak dalam hati. Kalau kliennya saja sudah tidak sabaran seperti saat ini untuk mencobanya secara langsung, itu tandanya pertanda baik bukan. Dan di titik inilah ia harus lebih maksimal lagi untuk meyakinkan aplikasi pintarnya untuk resto pak Ganis.
"Baiklah, Pak. Dengan senang hati, mari kita setting terlebih dahulu laptop Pak Ganis."
Vay tersenyum bangga, suaminya sangat bersemangat sampai sampai melupakan dirinya yang hanya duduk diam bak boneka manis. Biarkanlah, ia tidak akan mengganggu meski ianya sudah bosan duduk diabaikan.
" Ah, maaf pak, saya izin berbicara sebentar dulu dengan istri saya. Saking semangatnya, saya sampai melupakannya."
"Hahha... Silahkan, Pak Petir." Pak Ganis tertawa geli. Ia senang melihat pasangan muda di depannya yang nampak kompak dan saling mencintai.
"Vay, kalau kamu bosan, kamu boleh jalan jalan di mall ini dulu ya, soalnya aku masih lama, Sayang," ujar lembut Petir. Ia tidak enak hati melihat Vay duduk diam dan pasti itu sangat membosankan istrinya.
Vay tersenyum, lalu mengangguk setuju. Ia juga tidak mau memecah konsentrasi suaminya karena memikirkan dirinya.
"Sukses ya. Aku keluar dulu. Pak Ganis, saya permisi, mari." Tak lupa, Vay undur diri secara takzim ke pemilik ruangan. Dijawab tak kalah sopan oleh calon klien suaminya itu.
***
Sudah tiga puluh menit Vay menunggu Petir, tetapi chat dan batang hidung suaminya itu tidak ada tanda tanda kehadirannya. Sedari tadi, ia hanya berdiri dan kadang duduk di sebuah kursi besi yang tak jauh dari resto milik Pak Ganis. Karena bosan hanya melihat orang berlalu lalang, Vay pun memutuskan untuk berkeliling di lantai dua tersebut. Langkahnya berhenti di depan kios pameran barang barang antik.
Vay hanya berdiri di luar. Meski hobi melihat barang antik, kakinya enggan untuk masuk, dikarenakan di dalam rame dan banyak pelanggan berkelas.
__ADS_1
Tap, tap, tap... Bugh ... Pyiyaaar...
Gucci besar yang ada di sisi pintu keluar masuk, pecah ulah Vay. Ah, bukan Vay pelakunya! Ia hanya terdorong oleh tiga anak kecil yang sedang bermain kejar kejaran sehingga tubuhnya terhuyung keras ke arah gucci itu dan ... hancur.
Para atensi pengunjung pameran tersebut, lantas saja teralihkan ke arah Vay yang mematung dan menjadi tersangka satu satunya karena tiga bocah nakal tadi sudah kabur di telan keramaian pelanggan mall lainnya.
Vay gelagapan. Wajahnya memucat saat Mas penjaga toko menghampirinya dengan air muka tidak bersahabat. Masalah apa lagi ini?
"Mbak harus menggantinya. Saya tidak mau tau, titik!" hardik karyawan tersebut tanpa mau memberi kesempatan Vay untuk menjelaskan.
"Mas, ini bukan murni kesalahan saya, Mas. Tadi, ada anak kecil yang mendorong saya. Sumpah!" sanggah Vay mencoba membela diri.
"Mana anak kecilnya, eum?" tantang si Mas.
"Sudah pergi!" Vay tetap tidak mau di salahkan seorang diri.
"Alasan! Bilang saja, Mbak itu mau lari dari tanggung jawab. Pokoknya, Mbak harus ganti rugi karena saya pun di sini hanya karyawan yang harus bertanggungjawab, Mbak. Jangan mempersulit saya." Mas itu mengiba. Vay yang paham betul arti dari makna kesusahan, akhirnya hanya diam.
"Gucci antik ini dari Thailand loh, Mbak. Dan harganya itu 70 juta."
Alamak... 700rb saja Vay kagak punya, ini malah puluhan jutaan nilainya. Kemanakah dirinya harus mengemis? Kenapa hidupnya itu sepahit empedu sih.
"Mas, tolonglah. Ini bukan salah saya. Jadi __"
"Kalau Mbak tidak mau bertanggung jawab, maka jalur hukum akan berbicara, Mbak."
Semakin rumit. Vay terpojok.
"Sini KTP-nya, Mbak," paksa Pria itu. Vay shock terkena mental.
__ADS_1
"Jangan kasar kasar!"
Vay tidak salah dengar kan? Ada suara ayahnya di balik orang orang di dalam toko antik tersebut.