Menculik Calon Istri Orang

Menculik Calon Istri Orang
Bab 30


__ADS_3

Vay dan semua orang menunggu cemas Petir yang saat ini berada di dalam ruangan kerja Nata. Entah apa yang mereka bincangkan, sampai sampai dua pria berbeda umur itu sudah membuat orang menunggu tiga puluh menit lamanya.


"Apa mereka adu panco di dalam sana?" tanya Vay yang saat ini telinganya ia tempelkan ke daun pintu bercorak coklat kayu alami itu.


Senja dan Ibell pun memposisikan telinganya itu seperti Vay. Hanya tiga wanita itu yang heboh di depan pintu. Yang lainnya, malah asyik ngemil meski mereka tak kalah cemas nya dengan memungkinkan ada peraduan alot di dalam sana.


"Adu panco lebih baik, daripada adu tinju bagaimana coba? Masa anak Tante babak belur lagi," sungut Senja cemas sembari menarik telinganya menjauh dari daun pintu. Lebih lebih mengingat keadaan Petir yang masih memulihkan kakinya, membuat Senja semakin was was. Pasti kalau adu jotos, anaknya akan kalah lagi. Hah... Senja ingin sekali mendobrak pintu, tetapi apalah daya, kekuatan ototnya tidak memungkinkan.


"Bun, Pintu ini ada kunci cadangannya, kan?" tanya Vay.


"Ada," sahut Ibell membuat dua wanita di depannya elus dada secara kompak. "Tetapi dipegang ayah mu sendiri." Ibell tersenyum tidak enak hati di beri tatapan malas.


Hem...


"Sama saja bohong!" cetus Senja.


Sementara Vay hanya menghela nafas lemah. Kasihan sekali kekasihnya kalau kalau di apa apakan oleh Ayahnya tanpa ada pembelaan dari siapa pun.


Ibell menghela nafas pelan. "Tenanglah, cinta itu butuh perjuangan meski babak belur sekian kalinya. Iya kan?"


"Ck, dasar suami lu aja, Bell. Nyebelin sampai ke ulu ati. Gue yakin nih ya, seluruh organ dalam suami lo itu pahit rasanya seperti empedu," gerutu Senja. Lalu meninggalkan Ibell dan Vay, menuju ke ruang tamu. Ia butuh air dingin untuk mengademkan darahnya yang mendidih.


Kepergian Senja, saat itu juga, pintu ruangan Nata terbuka. Vay yang menyandarkan separuh tubuhnya, jadinya terhuyung. Untungnya, Petir sigap menahan laju Vay sehingga kekasihnya itu tidak berciuman mesra dengan lantai.


"Heheh... Piss, Yah. Vay hanya ... hanya di suruh Bunda. Iya kan, Bun?" Vay gelagapan mendapat plototan horor Nata.

__ADS_1


"Hey.. Hey, itu masih saja di peluk peluk begitu. Lepas atau... ?" Nyatanya, Nata melotot itu karena Vay dan Petir terlalu asyik menempel meski awalnya tidak sengaja.


Buru buru, sepasang kekasih itu menjauh satu jarak.


"Petir, apa kamu baik baik saja? Apa suami Tante melukai mu lagi?" Ibell bersuara perhatian membuat Nata memutar mata malas.


"Matamu masih berfungsi baik kan, Sayang? Ck..."


Setelah mensarkas istrinya sendiri, Nata pun berlalu pergi. Tiga pasang kaki di belakangnya mengekor yang ternyata tertuju ke arah ruang tamu.


"Gimana gimana?" antusias Vay bertanya pelan ke Petir. "Ayah tidak macam macam kan?"


Petir hanya menggeleng dengan air muka sedikit dikit tersenyum bahagia, tetapi sedikit dikit pun meringis. Membuat Vay semakin penasaran.


"Tir, apa yang kalian bahas?" cecar Vay sembari menahan lengan Petir agar pria itu berhenti berjalan.


Vay langsung meninju angin kosong kegirangan diiringi seruan, "Yes." Padahal Petir belum selesai menjelaskan persyaratan yang mungkin Vay bisa saja menolaknya.


Baru Petir ingin bersuara lagi, Nata yang hampir berbelok ke arah pembatas ruangan, memutar tubuhnya dan berseru tegas untuk segera mengikutinya ke hadapan semua orang.


"Jangan banyak tanya, Vay. Dan kamu, Petir. Jangan pula sampai melupakan janjimu tadi."


Mendengar untaian penuh penekanan Nata, Petir akhirnya melangkah duluan dan meninggalkan Vay yang terbengong sesaat.


Vay yang penasaran setengah mampus, mau tidak mau mengekor dengan air muka tersirat banyak pertanyaan di benaknya.

__ADS_1


Sampai di depan semua dua keluarga inti. Nata, Ibell, Petir dan Vay di sambut dengan semua orang kompak berdiri.


"Ayolah, kalian seperti melihat hantu ke arah ku." Nata tersenyum padahal tidak ada yang lucu di depannya. Adanya, ketegangan demi ketegangan yang tersirat di air muka masing-masing. Apalagi Senja dan Langit.


"Hari ini akan ada pernikahan Petir dan Vay. Hari ini!" Nata sengaja mengulang dua kata akhir kalimatnya demi membuat orang orang cerdas di depannya itu berpikir keras.


"Itu tandanya pernikahan sirih?" cecar Langit.


"Betul! Karena Petir sudah ngebet, iya kan, anak muda?"


Percayalah, Petir hanya terpaksa mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan Nata, demi menjalankan salah satu syarat aneh Ayah Vay itu. Dan percaya pula lah, Petir masih bingung apa yang sebenarnya Nata itu rencanakan.


"Nata, ini tidak benar!" Yola akhirnya angkat bicara. Anak nya semakin sinting saja menurutnya.


"Sudahlah, Mama. Inilah keinginan ku. Petir dan aku sudah memutuskan. Jadi kalau ada yang menolak maka sampai kapan pun, tidak akan ada pernikahan. Bagaimana, Vay? Nikah sirih hari ini atau tidak selamanya?" Nata berharap anak semata wayangnya itu menolak tegas. Biar permainannya tidak berlanjut.


Hening, semua mata dan telinga tertuju lebar lebar ke arah Vay yang saat ini menatap Petir dan Nata secara bergantian dengan perang logika berlangsung di otaknya. Sungguh, dia mencintai dua pria beda umur ini di depannya. Tetapi, dalam benaknya berkata kalau hidup itu harus maju dan berani mengambil sikap sesuai keinginan hati kecilnya.


Baiklah, seorang wanita memang harus keluar dari cinta pertamanya yaitu seorang ayah untuk menyambut cinta yang baru yaitu seorang pasangan, bukan? Meski nikah siri, Vay yakin kalau Petir tidak akan macam macam atau berani menyakitinya mengingat betapa besarnya pengorbanan Petir. Oleh sebab itu, ia pun siap berkorban dan maju bersama cintanya. Lambat laun, semoga ayahnya itu benar benar berlapang dada menerima hubungan mereka, doa Vay dalam hati


"Vay mau, Ayah."


Petir bernafas lega di iringi senyum puasnya mendengar keputusan Vay. Beda dengan Nata yang sebaliknya membuang nafas kesal. Tapi baiklah, plan berikutnya akan berlangsung. Lihat saja setelah akad nikah selesai, anaknya itu akan merengek padanya untuk membatalkan pernikahan siri itu.


"Nah, itu pak penghulunya sudah datang."

__ADS_1


Saking niatnya, Nata sedari awal berbicara empat mata dengan Petir di ruangannya tadi, ia sudah lebih dahulu memerintahkan salah satu pekerja nya untuk menjemput Pak Penghulu yang dulu pernah salah sebut nama Purnama untuk Abian.


__ADS_2