
"Astaga! Om Nata kok sadis banget sih!" Lautan membeo. Ia, Guruh dan Topan saat ini sedang bergotong royong memboyong tubuh pingsan Petir naik ke helikopter.
Mereka memang baru sampai. Sedang laporan dari Haris sudah masuk dua puluh menit lalu. Itu tandanya, kakaknya ini sudah cukup lama menikmati rasa sakit di tubuhnya.
"Cepat, Guruh! Tenaga lo kok lelet banget sih. Ini kalau kakak gue mati, bisa bisa gue jadi pewaris tunggal!"
Topan dan Guruh sekejap saling pandang. Lalu kompak menggeleng pelan akan cicit Lautan yang menceracau cemas, sampai sampai mungkin tidak sadar apa yang adik Petir itu ucapkan.
" Lo pikir gue lagi tidur, hah? Ini 'kan gue juga buru buru sembari gotong royong, Utan! Tenang aja, abang lu kan nyawanya ada sepuluh, Petir nggak akan semaput sebelum cintanya di sambut oleh Om Nata. Eh...maksud gue bersatu__"
"Kalian berisik!" serga Topan ketus. Dalam keadaan keberatan oleh beban tubuh Petir, dua sahabatnya ini masih sempat sempatnya debat kusir.
"Mungkin ini salah satu karma juga sih buat Petir, secara adik gue hilang di peradaban gara gara abang lu!" Guruh masih belum puas membeo. Antara puas dan nahas juga sih melihat sahabatnya ini babak belur dan tak sadarkan diri. Tapi benar adanya juga, kalau ia sangat kesal pada Petir. Sampai saat ini, Purnama masih mengasingkan diri. Takut katanya sama ancaman Abian yang akan meminangnya.
"Kalau kalian masih berdebat, maka kalian berdua akan gue tinggal di pulau ini, mau?" Ancam Topan. Lautan kembali menelan kata-katanya. Dari pada ditinggal, kan seram.
Setelah tubuh berat Petir berada di dalam helikopter, mereka pun mengudara dengan Topan yang memegang sistem operasi kemudinya.
***
Sementara di sisi Vay, gadis itu sudah di dalam pelukan kerinduan Ibell-sang Bunda yang benar saja kata ayah nya itu kalau kesehatan Ibunda nya ini sedang tidak baik baik saja. Begitu pun Oma- nya yang malah lebih parah dari Ibell. Oma wild-nya ini lagi terbaring di kamar dengan infus di punggung tangannya.
"Apa Petir menyakiti mu, Sayang?" Tanya Yola. Omanya ini lagi menggenggam tangan kanannya, sementara tangan kirinya ada pada genggaman sang Bunda. Mata mereka tersirat kecemasan luar biasa. Vay mengerti kalau semua keluarganya wajib marah sama sikap Petir yang membawanya kabur.
__ADS_1
Nata dan Kedua Opanya pun ada di dalam kamar pribadi Yola.
"Tidak, Oma. Kalian itu salah sangka. Petir sangat mencintaku! Jadi mana mungkin dia melukaiku. Bunda, Oma, tolong beri tau Ayah dan Opa, kalau kalian tidak keberatan dengan hubungan kami! Vay pun sebenarnya mencintai Petir, Oma. Bun, bilangin Ayah, please...!" Vay merengek dan langsung mengeluhkan di depan wajah Ayah dan Opanya langsung.
" Anak mu ini sudah disugesti oleh Petir, Ibell. Anak mu butuh diruqiah! Atau mungkin rumah sakit jiwa!"
Ibell dan Yola langsung saja melototi Nata yang main ceplos saja.
"Kamu aja yang masuk ke rumah sakit jiwa!" ketus Yola tidak suka kalau cucu semata wayangnya dapat cibiran yang melukai hati. Nata langsung keluar kamar. Ia memang selalu mengalah pada Mamanya itu.
"Opa El juga jahat tau, Oma. Masa tega ninggalin Petir yang babak belur oleh kelakuan Ayah." Adu Vay. Ia ingin Omanya itu bertindak pada Ayah dan Opanya.
"Bang El__"
"Dan kamu, Kemal! Awas saja kalau Petir datang kemari terus kamu sambut dengan baik. Maka Ini..." Eldath memamerkan kepalan tangan kirinya itu ke Suami Yola dan semuanya yang berada di dalam kamar termasuk Vay yang air mukanya kembali bersedih. Vay jadi teringat pada Lona yang pernah membaca garis tangannya.
Inikah maksud Lona akan tantangan berliku liku itu? Kenapa lawannya itu harus keluarganya sendiri? Runyam ini mah, Runyam!
"Saya dan Nata sudah memutuskan kalau Vay akan kembali ke Belanda! Titik!"
Lamunan Vay tentang ramalan Lona buyar saat mendengar suara penuh ketegasan Eldath. Ia tidak mau ke Belanda dan berujung bertemu mantan terburuknya lagi di sana.
"Kita semuanya bisa membicarakan ini dengan kepala dingin, Kak El. Jangan mengambil keputusan dalam kepala panas." Seru Kemal yang berniat berdiri di tengah tengah permasalahan yang ada. Sebagai seorang pria yang pernah ada di posisi Petir sewaktu mudanya, ia sangat paham betul kalau dalam memperjuangkan cinta itu penuh dalam artian 'Gila'. Bahkan, demi sebuah kata restu dari Eldath untuk bisa mendapatkan Yola dulu, ia begitu pasrah dan tanpa berpikir panjang lagi mengorbankan tubuhnya untuk menjadi tameng bagi Yola yang terancam tertembak waktu itu.
__ADS_1
Dan Vay yang mendengar Opa Kemalnya itu seperti ada di pihaknya, sontak saja terpekik lega di dalam hati. Meski ia tahu kalau itu belum final kemenangan cintanya.
"Jangan sampai salah mengambil keputusan, Kak. Di sini, kita akan mempertaruhkan sepasang hati." sambung Kemal dalam artian bijaknya. Meski ia tidak suka cara pecundang Petir, ia tetap masih mamakluminya karena kata cinta.
"Ya... Ya... Ya... Saya di sini kan cuma kakak ipar dan hanya Opa sambung bagi Vay. Jadi saya tidak berhak melontarkan keputusan ku yang hanya dianggap angin lewat. Permisi!" Eldath tersinggung dan segera berbalik ke arah pintu.
"Kak El, bukan begitu maksudku!" Kemal mengejar langkah panjang Eldath keluar kamar.
"Bunda, Oma, tolongin Vay juga dong. Bujuk Ayah agar menerima Petir. Ya, Bun, ya... Please!" Vay kembali merengek pada dua sosok wanita yang ia sayang itu.
Ke-dua nya tidak merespon. Hanya kompak menghela nafas.
"Pergilah istirahat, Vay. Kita perlu waktu!"
Vay menurut patuh pada titah omanya. Ia pun berjalan gontai keluar kamar.
Tepat langkahnya itu berada di ruang kerja Ayahnya. Kaki itupun berhenti dan sedikit mengintip di cela pintu yang memang sudah terbuka dari tadi.
"Gue nggak peduli, Ngit! Kita dalam artian bermusuhan saat ini. Pokoknya, semua kerja sama kita dalam bisnis akan saya tarik kembali!"
Vay meringis. Ternyata Ayahnya ini memang sedang tidak main main. Sampai sampai Papa Petir pun akan mengalami kerugian besar jikalau semua saham besar dari pihak Ayahnya ini di tarik.
" Kecuali, kamu bisa menekan anak mu agar jangan dan tidak akan mendekati Vay lagi. Maka ku pastikan usaha mu akan baik baik saja!"
__ADS_1
"Ish... Harusnya gue ngebiarin Petir nyentuh gue! Hamil dan berujung direstui deh." batin Vay berpikir sempit sembari meninggalkan tempat. Ia semakin sedih saja kalau harus mendengar semua percakapan lebih lama lagi Ayahnya dan Papa Petir itu dalam via telepon.