
Purnama menekan tombol bell yang menempel di tembok sisi pagar rumah besar keluarga Vay.
Terbuka! Satu penjaga menatapnya naik turun penuh dengan teliti.
"Gofo**, Pak!" kata Purnama yang sebenarnya hanya modus ingin menemui Vay.
Pak penjaga berbaju serba hitam itu, menoleh ke belakang, dimana ada para penjaga lainnya.
"Ternyata, Vay di kurung dengan pengawal satu dua...dan lima belas orang. " batin Purnama menghitung jumlah lelaki serba berpakain hitam layaknya mau berduka itu.
"Ada yang memesan gofoo*?" teriak penjaga kepada teman-temannya.
Tidak ada yang mengaku.
"Di sini atas nama Anevay." Purnama segera mengatakan kebohongannya.
"Itu Nona kami!"
Sudah tau! Batin Purnama tak sabaran ingin bertemu Vay.
"Ya sudah, berikan padaku!"
"Eits..." Purnama mempertahankan bawaannya yang ada di tangannya itu. "Kata pelanggan saya, harus langsung jatuh pada tangannya. Saya tidak mau mengambil resiko, Pak."
Penjaga itu berpikir sejenak. Nonanya itu sekarang lagi sensitif, jadi lebih baik menurut saja.
"Buruan, Pak! Saya banyak orderan, ngantri nih." Purnama mendesak.
"Baiklah, ayo masuk!"
Purnama tersenyum licik di balik masker putih yang ia kenakan. Ia pun mengekori langkah langkah panjang pria yang saat ini mereka sudah di teras rumah besar Vay.
__ADS_1
Sampai di depan pintu yang sudah terbuka sebelumnya, mendadak Purnama menegang karena melihat sosok pria yang menjadi alasannya bersembunyi. Abian!
"Maaf menggangu, Tuan Nata. Orang ini kekeuh ingin mengantarkan pesanan Nona Vay atas permintaan Nona Vay sendiri katanya." lapornya.
Vay yang kebetulan ada di ruang tamu itu, segera melirik ke arah penyamaran Purnama yang menunduk dalam dalam karena Abian dan semua orang yang ada di ruang tamu itu melirik kompak padanya. Purnama takut ketahuan dan berakhir ditangkap oleh Abian.
"Vay, ambil cepat paket mu. Kita masih perlu bicara serius," Seru Nata.
Meski Vay tidak merasa memesan paket, ia tetap berdiri dari sofa itu. Mengikis jarak pada Purnama. Tetapi terhenti sejenak saat ia berada di depan penjaga yang berdiri di depan Purnama.
"Kamu boleh keluar!"
Penjaga itu mengangguk takzim. Lalu meninggalkan Vay dan Purnama di ambang pintu itu.
"Vay, ini gue... Ama,"bisik Purnama.
"Gue uda tau sejak pertama melihat lo." Ya... Vay memang jeli. Lebih tepatnya, ia mengenali Ama dalam bentuk apapun karena sedari orok memang Purnama lah yang paling dekat daripada delapan sahabat lainnya.
"Gue susah perginya, Ama. Lihat sendiri noh penjaga di depan. Betebaran seperti kuman. Ayah gue benar-benar marah kali ini."
"Vay! Terima paket saja kok lama?" gelagar Nata. Vay pun menoleh ke arah sofa sofa yang penuh di duduki dua keluarga itu.
"Kurirnya lagi ribet nyari recehnya," sahut Vay beralasan.
"Sejak kapan kamu pelit. Biarkan saja dia mengambil kembaliannya. Cepatlah kemari, Ayah masih punya banyak schedule."
Vay enggan menjawab lagi. Ia ingin beringsut meninggalkan Purnama tetapi masih di cegah oleh sahabatnya itu.
"Itu si kodok sawah kenapa ada di rumah lo? Jangan bilang kalian mau melanjutkan pernikahan yang digagalkan oleh Petir dan kami semua. Gue pites lo Vay kalau tebakan gue benar." Meski ingin segera pergi sebelum penyamaranya ketahuan, Ama tetap ingin menghiba sebentar demi membunuh rasa kekepoannya akan kehadiran Abian beserta kedua orang tuanya.
"Nggak akan. Gue dan Abian lagi disidang. Para orang tua sih maunya dilanjutkan. Tetapi Abian sudah menolak tegas karena dia sudah punya calon incaran sendiri katanya. Dan itu adalah lo."
__ADS_1
Kabur kalau begitu. Ama tanpa permisi main ngacir meninggalkan ambang pintu itu.
"Ama__"
"Vay bodoh...!" Purnama mengumpat tanpa ada suaranya yang keluar. Vay memanggilnya dengan amat lantang.
"Ama? Maksudmu Purnama, Vay?" Nah loh, Abian sudah berdiri di belakang Vay dengan mata terus memburu ke orang berjaket hijau itu yang berjalan cepat ke arah gerbang.
"Kuping lo rada rada ya? Atau lo saking ngebetnya sama Purnama? Gue itu ngomong 'Sama-sama' ke orang itu."
Vay melewati Abian yang masih setia menatap keluar. Punggung berjaket hijau dengan logo khusus itu serasa tidak asing.
"Apakah sekarang kamu juga menunggu kurir, Abian? Kalian berdua sangat kompak mau membuang buang waktu kami! Cepat duduk!" Suara tegas Papanya terpaksa membuat Abian mengalihkan pandangannya ke punggung orang yang juga hampir tertelan gerbang. Entah salah lihat karena kejauhan posisi mereka, kurir tadi sempat berbalik dan mengacungkan jari tengahnya, fuc*!
"Kalau Ayah dan semuanya tidak mau membuang buang waktu, maka sudahi pertemuan ini. Toh aku dan Abian sudah kompak menolak pernikahan ini berlanjut. Iya kan, Abian?" tutur Purnama diangguki sang Empu nama.
"Benar kata Vay, Pa, Om Nata dan semuanya. Kami sepakat untuk berteman saja. Percuma juga kami menikah tanpa ada cinta. Bukannya Vay dan aku sekarang punya pilihan masing-masing. Dan maaf untuk Papa dan Mama, Abi akan menikah, namun bukan Vay gadisnya, melainkan anak Om Gema Batara. Purnama Batara lah yang Abi inginkan. Titik!"
Vay menyeringai puas mendengar penolakan tegas Abian. Meski ia kasihan pada Purnama karena pria yang berprinsip kuat itu telah menargetkan sahabatnya balas dendam. Tetapi Vay juga berpikir positif, Ama itu adalah wanita tangguh yang tidak mudah di lumpuhkan hanya karena ancaman, tekanan atau apapun itu istilahnya. Abian tidak akan mudah mempersunting Purnama meski Purnama tertangkap sekalipun. Itulah kesimpulan Vay.
"Baiklah, sepertinya pertemuan ini tidak akan mendapat ujungnya, Pak. Anak kita punya pilihan masing-masing, jadi mari sudahi saja apa yang harus kita sudahi," tutur Papa Abian. Diangguki Nata.
Abian dan keluarganya pun pamit. Tinggallah Vay dan keluarganya di ruang tamu itu.
Nata menatap penuh arti anak satu satunya. Lalu menatap Eldath - Omnya secara bergantian.
"Om El, tanggung jawab Vay akan jatuh lagi padamu seperti waktu dia bersekolah di Belanda. Sekarang, bawa dia ke Belanda sampai Petir sudah resmi menikah."
Vay geram tertahan mendengar penuturan egois Ayah nya. Ia pun berdiri kasar lalu berjalan kesal ke arah kamarnya. Praang... Sebagai tanda protesnya, Vay memang mengunci rapat rapat bibirnya tetapi kakinya menendang satu guci besar yang harganya sangat fantastis.
"Abang Nata seharusnya tidak berpikiran sempit dan ingin menang sendiri. Cobalah posisikan dirimu menjadi Vay dan Petir. Coba bayangkan, Vay adalah aku dan Petir adalah kamu yang kita saling mencintai tetapi harus dipisahkan secara paksa. Gunakan inimu...!" Ibell menunjuk kepalanya. Setelahnya ia pun meninggalkan ruang tamu itu tanpa mau mendengarkan jawaban suaminya.
__ADS_1