
Pagi pagi sekali, Petir dan keluarganya mendesak Dokter untuk mengijinkan pria itu dirawat jalan saja.
"Kaki pincang mah, nggak ada apa-apanya, Dok. Main sepak bola saja, saya bisa kok." Begitulah Petir tadi beralasan ke Dokter agar ia diizinkan pulang demi ingin mengikuti aksi Mama dan Papanya yang akan menggegerkan kediaman besar Vay katanya.
Entahlah, Petir pun belum tau niat orang tuanya, sesungguhnya itu apa? Sampai sampai ingin melibatkan pewarta segala. Ia hanya cemas, kalau kalau Ayah Vay itu semakin murka dan berimbas buruk ke hubungan asmaranya bersama Vay. Gegana lah sudah, GElisah GAlau meraNa.
Dan di sinilah Petir dan berikut seluruh keluarga besarnya, baik itu dari klan Batara yakni keluarga dari Mamanya, juga Klan Kusumah dari sang Papa. Semuanya berkumpul di depan rumah Vay.
Banyaknya mobil mobil mewah di pelataran luas rumah besar Abraham itu, membuat Nata dan seluruh orang di dalam rumah tercengang.
Nata dan semua keluarganya keluar rumah dan berdiri di teras rumahnya yang tinggi, karena ada umbakan beberapa anak tangga.
Sejauh mata memandang ke arah penjuru rumah, Nata berkacak pinggang sembari menatap sengit orang orang yang sebenarnya masih sahabat dan beberapa kerabatnya seperti Biru - orang tua si kembar itu adalah sepupunya sendiri, tetapi karena Mentari - Tante Petir itu adalah istri Biru, jadinya mereka malah mau menantangnya. Riweh sudah.
Vay yang merenung bosan di dalam kamarnya tepat di lantai dua, merasa penasaran suara ramai di bawa sana, akhirnya memutuskan berjalan ke arah balkon.
__ADS_1
"What, mereka?" pekik kaget Vay. Sejurus berlari keluar kamar dan menuruni anak tangga begitu cepat.
"Apa kalian menyerbu rumah saya yang hanya ingin meminta sumbangan satu beras karun?" Sayangnya, Nata hanya berani dalam hati berkata sarkas penuh hinaan tersebut, karena ia tidak berani menjatuhkan harga dirinya sendiri di depan pewarta yang sedari tadi camera khususnya menyala menyoroti segala gerak gerik dan semua ucapan yang tercuat dari siapapun di antara mereka yang memang saling mempunyai nama dalam dunia bisnis.
Istimewa, dalam gerombolan itu ada para petua klan Batara dan Kusumah yang tak lain adalah Nenek dan Kakek serta Opa Petir yakni, Rose, Radja dan Chris. Nata masih menghargai tiga orang tua yang masih punya hubungan persahabatan dengan Mama dan Papanya sendiri.
"Saya sebenarnya ingin kalian masuk dengan penuh segala kehormatan, tetapi maaf mungkin sofa di dalam sana tidak cukup," kata Nata setenang mungkin. Padahal mah, ia ingin sekali mencecar Langit dan Senja terutama si pincang Petir yang sedang berdiri menggunakan tongkat.
Apa apaan semuanya ini?
Dan lainnya pun mengekori tetuanya. Termasuk Petir yang di sampingnya selalu ada Lautan untuk membantu kakaknya yang kesulitan berjalan karena kakinya masih cedera.
Para sahabat dan orang tuanya masing-masing hanya bersandar di badan mobil mengkilap masing-masing dengan mata tertuju lurus lurus ke arah teras, di mana dua keluarga besar itu menjadi sorotan beberapa pewarta yang khusus pemberita kehidupan pebisnis.
"Ini sebenarnya ada apa? Radja, Crish, apalagi yang akan kalian lakukan? Kita ini sudah bau tanah. Bukannya duduk manis dan bercanda tawa, tetapi sebaliknya." Kemal menyayangkan persahabatan mereka bertiga sejak muda, akan terancam hancur saat ini, gara gara pasal percintaan cucu cucu mereka.
__ADS_1
"Justru itu, Om!" Senja menyela cepat. Inilah saatnya membuat Nata mati kutu.
"Saya dan semua selaku keluarga besar dari Petir, ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya atas tindakan nekat anak kami yang sudah menggagalkan pernikahan Vay dan Abian waktu itu."
Para pewarta semakin antusias merekam gambar. Belum saatnya mereka bertanya ini dan itu sebelum mendengar jawaban dari pihak keluarga Vay.
Lengan Nata saat ini sedang dielus lembut naik turun oleh Ibell karena melihat suaminya menahan geram sedari tadi, berharap suaminya itu bisa menahan emosi di depan banyak orang dan para pewarta yang siap kapun bisa memviralkan semuanya dengan isu miring dan akan berdampak pada bisnis bisnis yang mereka rintis dari puluhan tahun.
Sementara, Vay sendiri lebih memilih mengintip dibalik pintu yang terbuka lebar lebar. Ia ngeri apa selanjutnya yang akan terjadi?
"Apa kalian bisa menebak, apa Tante Senja dan Om Langit bisa membuat Om Nata luluh dengan cara meminta maaf di di depan publik?" tanya Guruh ke para sahabat lainnya yang ikut hadir kecuali Purnama yang tidak datang. Wanita itu terlalu asyik kabur dari muka muka keluarganya sekaligus.
"Pak Nata dan seluruh keluarga besar Abraham yang terhormat, bagaimana jawaban Anda?"
Pewarta sudah tidak sabar sehingga salah satu dari mereka melempar pertanyaan langsung tatkala pihak dari Abraham itu masih membisu.
__ADS_1
"Kalian nanyaaaakkk?" (Sayangnya, Author lah berkata demikian) hehehe....