
"Aww, aww..." Petir meringis sakit saat Vay yang panik melihat keadaan kepalanya dililit perban putih, tidak sengaja menekannya. Sudah ia duga, kalau Vay akan cemas melihat dirinya terluka yang ia dapatkan dari proyek bangunan. Potongan balok kayu dari atas, tak terduga jatuh dan menimpa kepalanya.
"Ini nggak apa, Sayang. Cuma kecelakaan kecil di tempat kerja." Petir mengulas senyum terbaiknya agar Vay tidak tegang menatap cemas padanya.
"Kenapa bisa? Terus kronologinya bagaimana? Duh, ini fatal loh." Vay mencecar sembari menarik lembut tangan Petir agar suaminya itu duduk di lantai. Ia ingin memeriksa dalamnya luka itu sampai mana, parah atau memang hanya luka kecil?
Sementara, Petir yang tidak mungkin memberi tahukan kronologi sebenarnya yang pasti akan berujung istrinya itu mengetahui kerjaannya sebagai kuli bangunan, wajahnya kini terlihat gugup.
"Aku periksa dan kamu menceritakan kajadiannya__"
"Jangan dilepas perbannya, Vay. Kita kan nggak ada kotak P3K di rumah. Dan kamu tidak usah cemas, aku nggak apa apa kok," tutur Petir memotong ucapan istrinya itu dan segera menggenggam tangan Vay. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan.
Istrinya jadi terpaku sembari menghela nafas kasar, ekonominya yang memprihatinkan, membuat Vay tidak mementingkan kotak obat yang seharusnya memang ada di rumah sebagai pertolongan pertama kalau ada keadaan tak terduga seperti saat ini.
"Yakin tak apa?" Vay memastikan. Suaminya mengangguk sembari menjawil mesra ujung hidungnya.
"Ini gaji ku pertamaku, berikut kompensasi kecelakaan dalam bekerja. Ambillah...!"
Tangan Vay terasa bergetar menerima gaji pertama suaminya dalam waktu kerja satu minggu ini.
"Kamu boleh membeli keperluan wanitamu, Sayang. Tapi maaf, itu hanya sedikit. Aku janji, suatu saat nanti aku akan membawamu pergi dari sini dengan kata bangga. Sabar ya."
Sekonyong konyonya, Vay langsung memeluk Petir. Ia terharu mendengar kata penuh ketulusan nan tekad suaminya.
"Apa kamu suka mencium bau keringat ku, eum? Aku kan belum mandi." Petir tersenyum mencandai Vay yang roman romannya akan membuat keadaan melow. Meski ekonominya sedang buruk, Petir tetap ingin membuat kisah indah bersama istrinya di tempat sempit ini, bukan kesedihan atau keterpurukan. Dan alhamdulillah, istrinya sudah mulai terbiasa dengan keadaan melaratnya. Meski dari awal pun demikian.
"Ish ... nyebelin..."
"Hahaha..." Bukannya kesakitan yang pinggangnya mendapat cubitan, Petir malah terbahak bahak. Ia lega dalam hati karena Vay melupakan pertanyaan kronologi yang menimpa kepalanya terluka itu.
Dari suasana canda, kini tiba-tiba hening saat Petir mengadu ujung hidung masing-masing. Dalam posisi intim itu, mata merekalah yang saling mengunci mesra satu sama lain. Tanpa ada kata 'I love you,' mereka sudah merasakan cinta itu dari sebuah arti binar binar netra mereka.
Jantung Vay terasa main drum di dalam sana. Degupannya bertalu talu semakin hebat tatkala Petir memiringkan kepalanya dan langsung mempagut mesra.
Apakah suaminya ini akan 'memakannya' sekarang dan otomatis melanggar janjinya ke ayahnya untuk tidak menyentuhnya meskipun sebenarnya kini sudah halal melakukan 'itu?'
Vay sih yes yes aja. Toh, ayahnya ini tidak akan melihatnya, iya kan?
Oleh sebab itu, ia pun mengimbangi senam bibir Petir yang semakin mengobrak abrik rongga mulutnya.
Kruyuk...
__ADS_1
Perut sialan. Gara gara keroncongan, suaminya jadi tersadar dari khilaf indahnya. Tautan bibir itu terlepas. Vay tercengir mendapat tatapan penuh tanya Petir.
"Kamu belum makan?"
Vay menggeleng pelan. Saking semangatnya bekerja jadi buru cuci gosok, ia melupakan mengisi perutnya. Dari siang, Vay hanya makan roti. Sialnya, ia pun lupa menanak nasi untuk suaminya. Duh, bagaimana cara ngomongnya kalau Petir minta makan?
"Ish, nakal banget sih. Ayo kita makan __"
"Tapi aku belum masak. Keasyikan nyuci baju dan__" Oups, keceplosan. Gegas Vay membekap mulutnya.
"Nyuci baju dan apa?" selidik Petir.
"Dan menyetrikanya lah, kan biar baju kerjamu wangi, rapi dan terlihat licin."
Petir lah yang sekarang terdiam kalau sudah menyangkut pekerjaan. "Ya sudah, aku mandi dulu ya. Setelahnya kita makan di luar. Kebetulan kan, uda gajian dan malam mingguan juga. Sekali kali kita pacaran." Mata Petir berkedip genit.
Vay tersenyum. Lalu berkata, "Makan akunya, nggak jadi nih?" goda Vay mengingatkan senam bibir barusan.
Tuingg...
"Nakal..."
Setelah membuat bibir Vay cemberut karena sudah mensentil gemas dahi Vay, Petir pun beranjak ke dalam kamar Vay.
"Awas ya, nanti saatnya kamu nggak akan bisa berjalan dibuatku. Lihat saja nanti..." teriak Petir di balik pintu kamar mandi.
"Hahaha... Ku tunggu, Sayang." balas teriak Vay. Ia tidak bisa menghentikan tawanya karena membayangkan keadaan Petir yang pasti tegang tegang bagaimana gitu.
Sialan! Istrinya ini memang kadang kadang mesum. Vay sudah menguji hasrat lelakinya yang saat ini di bawa sana sudah mengacung ledek ke wajahnya.
"Tidur ya Adik baik," bisik Petir ke senjata khususnya. Lalu segera mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin kecuali kepalanya yang terluka itu.
***
Seperti rencana mereka, Petir dan Vay layaknya sepasang muda mudi yang sedang bermalam mingguan. Meski hangoutnya di tenda kaki lima yang menjual nasi goreng, mereka tetap menikmati kebersamaannya.
Saling suap suapan, dan bercanda gurau bersama tak luput dari penglihatan Nata yang kini berada di dalam mobil tak jauh dari tenda tersebut.
"Menurut laporan, suami Nona Vay bekerja sebagai kuli bangunan, Pak Nata," terang sang asisten melapor. Pria berkemeja hitam itu duduk di balik kemudi menjadi sopir Nata sekaligus
"Ibu Senja dan Pak Langit memegang teguh janjinya dan benar benar tidak membantu anaknya. Para sahabatnya pun demikian, Pak."
__ADS_1
Nata hanya mendengarkan tanpa menyahut laporan asisten handal nya itu, matanya tetap lurus lurus memperhatikan anak dan menantunya yang masih suap suapan mesra tanpa peduli keadaan sekitar. Dunia seperti hanya milik berdua. Jadi tontonan pelanggan lainnya pun, Vay dan Petir cuek cuek saja dan malah tersenyum dan kadang suara tawa Vay juga keras mengganggu.
"Kenapa kepala Petir dililit perban?" tanya Nata. Sang asisten tidak langsung menjawab, ia melirik Nata dari kaca spion. Entah salah atau benar, kalau sang bos ini mencemaskan menantu dan anaknya. Lebih dari cukup, asisten tersebut sedikit tau pribadi Nata yang ego dan gengsinya itu sangat tinggi.
Tok tok...
Nata dan sang asisten terkejut karena kaca jendela tiba tiba di ketuk. Nata semakin kaget saat melihat pelakunya itu adalah Senja. Mama Petir tersebut, sedari tadi juga mengamati dari kejauhan anaknya yang ia rindukan.
Karena melihat ada luka di kepala Petir, Senja jadi menahan emosi. Istimewa, ia melihat ada mobil Nata. Baiklah, ia akan melampiaskan lidah gatalnya yang mau mengomel pedas ke Nata saja. Toh, semua penderitaan anaknya itu karena keegoisan Nata.
Ceklek... Brakk...
"Jalan, Pak."
Eh, besannya bar bar amat. Sudah masuk dan duduk manis di sebelahnya, kini sok berkuasa mentitah tegas stafnya. Sialnya, Sang asisten nurut wae. Ini, siapa Bosnya?
"Lo pasti senang lihat anak gue terluka dan menderita kan?" sembur Senja.
Nata hanya diam.
"Tapi lo pasti sedih juga kalau kenyataannya anak kita bisa tertawa dan tersenyum bahagia, meski hidup mereka melarat. Vay bisa hidup bahagia tanpa harta, Nata. Dan bahagianya itu ada karena anak gue." Senja tersenyum ejek.
Nata masih diam seribu bahasa. Tetapi percayalah, hatinya pun sedang bergulat di dalam sana. Biarkan Senja dan semua keluarga memusuhinya, terpenting pembuktian jodoh anaknya yang baik itu terbukti. Pokoknya, tanpa kesuksesan Petir, ia masih akan berpura pura buta dan tuli akan keadaan sekitar.
"Kamu itu mau menumpang di mobil ku, tetapi suaramu berisik sekali, Senja. Bar bar amat jadi besan. Kalau mau makan nasi goreng cap kaki lima seperti Petir dan Vay, bilang sama aku, nanti ku pesankan. Tetapi kalau mau di suapin, ya maaf... Jangan sewotnya ke aku, tetapi ke Langit sono."
Gdkfkf... Senja cengap cengap seperti ikan di aquarium. Sumpah, Nata sangat menyebalkan.
Sang asisten yang jadi pendengar dan penonton setia, ingin tertawa melihat ekspresi Senja yang seakan akan mau menelan hidup hidup Bosnya itu.
"Katakan ke gue, pilih kanan atau kiri?" Entah apa yang ada di dalam pikirin Senja? Dua kepalan itu di depan Nata saat ini.
"Oh, lo mau ninju gue. Tetapi karena gue juga penasaran rasa tinju lo, maka gue pilih kanan saja, secara kalau kiri kan bau wc."
Dan....
"Aaarggh ... Njaaa... Lo kanibal ya? Aduu.. Sakit, bodoh! lepasin gigi lo."
"Puas gue uda gigit lengan kanan lo. Bagaimana, enak?"
Ingin sekali Nata melempar Senja keluar dari laju mobilnya, tetapi sayang, ia juga tidak sesadis itu. Hanya sumpah serapah yang Senja dengar dari mulut pedasnya. Nyebelinnya, besan bar barnya ini malah nyanyi nyayi sayur kol. Kampret lah.
__ADS_1
****
Hai readers tercinta, Author punya cerita baru yg berjudul, "Sistem Anak Genius (Jadi Ibu Anak Jalanan)" insyaallah tak kalah serunya loh. Cerita ini adalah misi kepenulisan dari Editor yang masuk seleksi penilaian, semoga kalian mampir agar cerita Tata lolos. Amin 🙏😘