
Biasanya, Petir cepat tertidur karena kecapean bekerja keras menjadi kuli. Namun malam ini sedikit berbeda, suaminya hanya sibuk di depan layar laptopnya.
Apakah karena Petir tadi siang tidak berangkat bekerja sebagai kuli, jadi masih kuat begadang sampai jam dua belas malam? Hem... Dan itu membuat Vay menjadi gelisah. Pasalnya, Purnama sudah mulai mengirimi chat tentang kesediaannya ikut balapan malam ini. Demi terbebas dari uang ganti rugi guci itu, Vay harus bisa mengelabui suaminya. Hanya balapan lah salah satunya yang menjadi jalan keluar Vay.
'Sabar, laki gue masih melek.'
Send.
'Jadi atau nggaknya, kabarin. Gue uda nunggu lo tepat di belokan gang area kontrakan lo.'
Vay tidak lagi membalas chat Purnama. Lebih memilih menarik tubuhnya yang tadinya asyik rebahan. Ia menghampiri Petir yang duduk bersila di lantai sembari memangku laptopnya.
"Tidur yuk..." ajak Vay manja dengan kepala sudah disandarkan ke bahu Petir.
"Sebentar ya. Ini tinggal menunggu sukses untuk di save semua datanya."
Agar tidak dicurigai, Vay hanya mengangguk saja. Ia pun berpura-pura menguap lebar pertanda matanya itu sangat mengantuk.
Petir menoleh ke wajah Vay. Lalu mengelus manja punggung istrinya dari belakang. Setelah itu, perlahan kepala Vay di tuntun ke pahanya. "Tidurlah."
Alamak, bisa benar-benar pulas dirinya kalau Petir terus menina-nina bobo dengan kepalanya itu kian di elus elus manja bak kucing.
"Aku maunya dipeluk..." manja Vay menolak sentuhan lembut di ujung kepalanya itu.
Petir tersenyum. Ia suka dengan sifat manja Vay kepadanya.
"Ayo..." Petir membiarkan pekerjaannya di laptopnya itu terbengkalai sebentar.
"Gendong...!" manjanya Vay.
Dengan senang hati, Petir meraup tubuh istri tercintanya dan menaruhnya pelan ke kasur.
Sebelum Vay masuk ke dalam pelukan Petir, adegan adu bibir sempat terjadi. Meski di bawa sana meminta lebih, Petir tetap bersikukuh menahan hasratnya sampai waktu itu tiba.
__ADS_1
"Tidurlah..." bisik Petir pada Vay yang kepala istrinya itu berada di sela lehernya.
Hening... Vay mati matian menjaga kesadarannya dalam mata yang berpura-pura tertidur nyenyak. Sudah setengah jam posisi mereka saling berpelukan, dan mungkin saja suaminya itu sudah terpulas.
Penasaran akan suara nafas Petir yang sudah teratur pelan, Vay pun membuka perlahan matanya, mengintip lalu mendongak ke wajah suaminya yang sangat dekat itu. Alhamdulillah, aman. Suaminya benar-benar ketiduran. Tetapi untuk memastikannya, Vay sengaja mengibaskan pelan tangannya itu di depan mata Petir. Masih bergeming. Pertanda aman sentosa.
Vay bak maling yang mengendap - endap membuka lemari plastik untuk mengambil hoodie dan celana levis. Semuanya serba hitam. Ia mengganti pakaian piyamanya di ruang tamu. Lanjut menarik sepatu untuk di tentengnya keluar rumah.
"Aman nggak ya," lirihnya berbalik menatap pintu kontrakannya yang ia kunci dari luar karena Vay tidak mau mengambil resiko adanya maling masuk ke rumah dan mengambil laptop suaminya yang sangat berharga untuk pekerjaan Petir yang baru dirintis.
"Akhirnya lo datang juga, Vay. Kulit gue uda gatal gatal dicipo* nyamuk kurang belaian," beo Purnama terdengar kesal sembari menggaruk punggung tangannya yang memang habis digigit nyamuk.
"Maaf." Vay menjawab sembari berjongkok ke tanah untuk memasang sepatu kets berwarna putih polos yang sangat kontras dengan kain serba hitam yang ia pakai. Purnama hanya menggeleng pelan melihat tingkah Vay yang buru buru itu.
"Vay, gue nggak tega lihat lo main kucing kucingan sama Petir," Jujur Purnama merasa kasihan melihat Vay. "Jangan balapan ya__"
"Berarti lo akan ngelihat gue dekam di penjara, Ama. Pilih mana?"
"Hem... Itu juga gue ngeri ngebayanginnya." Purnama serba salah.
Bruumm...
Vay belum turun dari boncengan Ama saja, telinganya sudah disuguhkan suara bising knalpot khusus dari para joki joki di jalan sepi dan remang tersebut.
"Wiih... Si ratu aspal yang menang semalam sudah datang."
"Ah, bisa aja lo, Rafael."
Vay hanya diam mengamati interaksi pria yang bernama Rafael dan Purnama yang ternyata sahabatnya itu diakui sebagai ratu aspal.
"Vay, tunggu sebentar di sini ya, gue mau bicara dulu sama Rafael."
Melihat anggukan Vay, Purnama langsung menghela lengan pria berjaket kulit itu ke tempat yang sedikit sunyi.
__ADS_1
Entah apa yang Ama bicarakan, Vay juga tidak mau ambil pusing. Kakinya refleks mendekat ke arah motor kawasaki ninja 150R itu yang sudah dimodifikasi seapik mungkin. Bibir Vay berdecak kagum melihat motor yang sudah tidak diproduksikan lagi oleh pengusaha motor di luaran sana. Motor tersebut memang sering dipakai oleh pemain drag bike atau pembalap liar karena kecepatannya untuk membela aspal liar tidak usah diragukan lagi.
"Hai, apa lo teman Purnama?" satu joki yang sering menjadi rival Purnama menyapa Vay. Pria itu jelas melihat ke datangan Vay yang di bonceng oleh Purnama.
"Eum." sahut Vay sangat singkat. Matanya lebih tertarik menatap lekat motor kawasaki merah yang hampir bodynya hampir modifikasi semua, demi mendapatkan kesan ringan untuk dijadikan motor balap.
Senyum smirk terlukis di bibir pria yang tertarik dengan wajah cantik Vay. "Gue Gelard atau orang kerap nyapa gue Gege. Salam kenal."
"Gue Vay!" Istri Petir itu tidak niat menyambut salaman pria di depannya.
Gege menarik tangannya kembali yang di tolak oleh Vay, sama seperti Purnama dulu yang langsung menolak mentah mentah pesonanya.
"Kalau Lo teman Ama, itu artinya lo juga jago balapan? Istimewa, mata bule lo sangat tertarik menatap motor Rafael."
Oh, jadi motor yang di kaguminya ini adalah motor teman Ama yang masih berdiskusi di sana.
"Gue nggak jago jago amat. Tetapi gue bisa sedikit."
Gege kembali tersenyum penuh arti. "Kata kata lo ini sangat mirip dengan kalimat Ama saat pertama datang kemari bersama Rafael. Bagaimana kalau kita adu kecepatan."
Tawaran ini lah yang ditunggu-tunggu oleh Vay. Ia baru tertarik menatap pria berambut cepak di depannya ini.
"Gue nggak mau tanding cuma cuma, habis habisin waktu gue." Vay menyeringai membalas smirk tajam Gege.
"Peraturan di sini, sekali tanding ada empat joki sekaligus yang ikut. Dan setiap joki wajib memasang taruhan masing masing lima juta," papar Gege.
"Bagaimana kalau peraturan gue dongkrak menjadi sepuluh juta per - joki. Deal, Gege?!" Malam ini, Vay benar-benar ingin menampakkan taringnya yang tersembunyi itu.
Gege masih diam membisu, sembari menatap datar tangan Vay yang terjulur ke hadapannya. Netranya terus membaca air muka Vay yang jelita dan sama sekali tidak ada tampang sanggar menjadi pembalap.
"Nggak mau ya?" Vay tersenyum ejek. Lalu lanjut berkata tanpa dosa, "Bubarkan saja komunitas kalian kalau mahar lima juta perjoki di bangga banggakan."
" Seratus juta! Tapi dengan satu syarat, yaitu kalau gue menang, maka satu malam lo jadi milik gue."
__ADS_1
Vay dan Gege terkesiap oleh tawaran gila seorang pria yang baru datang menyela. Dika- mantan teman sekolah Vay.