Menculik Calon Istri Orang

Menculik Calon Istri Orang
Bab 25


__ADS_3

Vay memutuskan untuk keluar menemui Petir malam ini karena memang kepikiran terus akan kabar dari Purnama.


Pelariannya pun dari rumah malam ini telah berhasil. Para penjaga tertipu masuk ke perangkap obat tidurnya. Air panas sengaja ia beri larutan cairan khusus, tanpa ada yang tau sehingga mereka membuat kopi dengan air yang sudah tercemar.


Rasa rindunya yang menggebu telah mengalahkan semuanya, sehingga saat ini Vay sudah berada di lorong lorong rumah sakit untuk mencari kamar rawat Petir. Ia mengesampingkan rasa takutnya kepada sang Ayah demi bisa bertemu sang kekasih.


"Ini dia ruangannya."


Ceklek...


Setelah pintu ia buka secara pelan, tatapan Petir yang ternyata belum tidur, langsung saja menyambutnya.


Vay bernafas lega, ternyata kabar dari Purnama terlalu berlebihan. Mana ada orang sekarat yang sekarang menarik tubuhnya untuk duduk dengan mata datar itu terus menatapnya.


Kenapa pacarnya ini terlihat datar menyambutnya? Tidak ada senyum apalagi suara sepatah kata pun? Vay kan jadi terpaku bingung di dekat pintu.


"Gue emang bukan ustadz atau pun kyai, tetapi gue bisa hafal surah Yasin. Pergilah! Atau gue bacain doa pengusir setan jadi jadian seperti lo itu."


Eh... Si anying! Petir menganggapnya setan.

__ADS_1


"Huu... Sedari tadi lo itu menghantui gue terus dalam wujud pacar gue! Tadi saja suster rawat, gue rabunnya ngelihat sosok Vay. Sekarang setan gentayangan pun mau nipu gue. Hah ... Gue hampir dibuat gila!" racau Petir mengomeli sosok Vay yang asli.


Vay tersenyum lebar mendengar racauan dan kegalauan Petir. Ternyata, prianya ini memang bersungguh-sungguh merindukannya juga, sampai sampai beberapa kali berhalusinasi katanya. Vay senang karena amat didambakan oleh Petir, tetapi ia juga sedih karena cerita cinta mereka tidaklah selicin belut. Restu orang tua adalah ujian yang paling berat.


"Lo setan nyebelin tau nggak? Senyum senyum di atas penderitaan gue!" Omel Petir lagi dengan tatapan sinis ke Neng Bule-nya yang ia kira hantu rumah sakit. Kan, tidak mungkin Vay ada di depannya, sementara mendengar cerita Ama, kalau Vay itu dikurung dalam sangkar emas yang bodyguardnya betebaran. Makanya, ia itu mengira orang di hadapannya ini adalah arwah iseng.


"Pergi! Jangan ganggu gue atau bisa bisa gue sosor lo karena salah lo sendiri yang berwujud wanita yang gue rindu."


Pacarnya ini memang hampir sinting. Andai kata ia setan, masa mau disosor katanya. Memangnya tidak jijik atau takut? Eh, tapi kalau mental gila kan tidak ada kata kicep. Vay menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Iya, iya, gue pergi deh. Tapi jangan nyesal ya?" Goda Vay yang berpura-pura mundur pelan.


Namun sayang, Petir tetap tidak percaya meski mendengar suara asli Vay. "Pergi saja, gue juga ogah di temani setan."


"Aww...!" adu Petir kesakitan. Sendal itu jatuh sempurna ke kepalanya. Dan berakhir mendarat ke pangkuannya. Hidungnya langsung mencium aroma busuk dari telapak sendal tersebut.


"Ini gue, Tir! Anevay kekasih Petir tengil!" terang Vay sembari mengikis jarak dan berhenti tepat di sisi brankar. Vay juga menutup paksa mulut Petir yang menganga kaget mendengar pernyataannya, dengan cara mengangkat dagu itu. Lucu sekali mimik bodoh kekasihnya ini.


"Vay? Neng Bule itu?"

__ADS_1


Vay mengangguk.


Sendal bau yang ada di tangannya ia lempar asal asalan, tidak jadi marah karena Vay lah pelakunya. Ia langsung memeluk manja perut Vay seperti anak yang minta dielus sayang kepalanya.


Vay tersenyum ceria. Ia balas memeluk kepala itu yang kian erat saja mendekap bagian perutnya.


"Aku merindukanmu, Vay. Sangat merindukanmuuuuu... " rengeknya mengadu manja tanpa mau melepaskan lingkaran tangannya.


"Aku pun!" Jawab Vay jujur.


Seperkian menit, mereka hanya memeluk satu sama lain, tanpa ada untaian sepatah kata pun untuk mengobati rasa rindu yang menggebu di perasaan masing-masing.


"Hum...hum..." Aroma tak sedap menyadarkan Vay. Hidungnya seperti kucing yang sedang mengendus endus. "Ini bau apa ya? Kok rambutmu lengket sih, Tir?"


Petir terpaksa melepaskan pelukannya lalu meraba raba rambutnya yang memang sedikit lembab. Bodohnya, ia mencium tangannya. "Hoeek... Busuk sekali! Ini dari sendal mu, Neng!"


Vay tercengir kuda sembari menatap tak enak hati pada Petir. "Tadi waktu kabur dan pas lompat di tembok pagar, satu kaki ku masuk ke got."


Petir tidaklah marah. Aroma tidak enak tersebut adalah saksi perjuangan Vay yang datang dan berhasil melepaskan rindu mereka. Ia justru terharu oleh perjuangan Vay ini.

__ADS_1


"Tunggu sebentar, aku mau bersihin kepala dan tanganku. Setelahnya, kita perlu bicara serius," tutur Petir dan bersiap turun dari brankar. Namun, kakinya yang di gips membuatnya oleng. Untung Vay sigap menahannya sampai mereka berpelukan bersama. Dan tepat adegan yang terbilang intim itu, pintu ruangan terbuka. Vay dan Petir bersamaan memusatkan tatapannya ke orang yang sudah menatapnya horor.


"A-ayah... "


__ADS_2