Menculik Calon Istri Orang

Menculik Calon Istri Orang
Bab 36


__ADS_3

"Apa, Abang sudah mendapat pekerjaan?"


Selesai makan malam, Vay dan Petir mengobrol di dalam kamar sembari berbaring bersama. Posisi Vay saat ini berbantalkan lengan suaminya. Nyaman sekali meski kasur yang mereka gunakan hanyalah kasur busa tanpa ranjang. Jauh dari kata empuk.


"Sudah." Petir berharap, Vay tidak bertanya lebih lanjut, kerja apa dan di kantor mana? Bukan ia malu mengakui dirinya hanya mendapatkan pekerjaan sebagai kuli bangunan, tetapi ia tak mau Vay bersedih dan malah membuat beban pikiran untuk istrinya.


"Besok, Abang minta dibekali nasi saja ya Neng. Biar irit." Petir langsung berkata membuat Vay menutup mulutnya yang ingin bertanya kepo tentang pekerjaan Petir.


"Besok, istrimu akan bangun pagi pagi. Tenang saja!" Vay mendongak dan tersenyum manis ke Petir yang mengelus elus sayang kepalanya. Vay pun melihat suaminya beberapa kali menguap. Pasti lelah bekerja dan akhirnya terbawa kantuk.


"Tidur lah kalau kamu mengantuk. Atau mau aku pijat?" tawar Vay pengertian.


Petir tersenyum tipis. "Mau banget, Neng. Tapi jangan dipijat, diinjak injak saja ya. Tanganmu sepertinya sakit terkena pisau atau apalah itu."


Vay hanya tersenyum malu kalau diingatkan tingkah bodohnya yang tak bisa memasak. Ia pun segera berdiri di punggung Petir yang sudah telengkup di kasur.


Baru lima menit Vay berdiri dan bergerak pelan di punggung suaminya, nafas Petir sudah teratur. Suaminya sepertinya capek sekali. Vay pun memutuskan untuk rebahan kembali. Memiringkan tubuhnya ke arah Petir, lalu merengkuh pria itu.


"Selamat malam..." bisik Vay. Ia lanjut mencium pipi itu, namun Petir yang lelah karena pekerjaannya yang keras, benar-benar seperti mati suri.


***


Tes...


Tes...


Kok gerimis sih? Jangan sampai hujan gede, tubuh Vay sangatlah tidak bersahabat yang nama nya air hujan. Diguyur sedikit saja, pasti ia akan meriang.


Tapi kenapa hujannya cuma kena pipi ya? Cepat cepat Vay membuka mata dan langsung duduk di kasur lantai tersebut. "Ternyata mimpi kehujanan." lirih Vay sembari mengucek matanya yang buram. Petir yang iseng itulah pelakunya. Titik titik air bekas mandi dari rambutnya, ia teteskan ke wajah istrinya yang masih tertidur.


"Selamat pagi, Vay." Alis Petir naik turun menggoda istrinya yang bangun gelagapan.

__ADS_1


"Ish, kamu ngerjain aku!" rajuk Vay sembari melempar bantal guling ke Petir.


"Hahaha..." Petir tertawa. Bantal yang mengenai wajahnya ia singkirkan dan langsung memberi kecupan pipi istrinya. Membuat Vay tersenyum.


"Astaga... Aku kan sudah janji bangun pagi pagi." Vay gelagapan. Suaminya sudah mandi tetapi ia masih berantakan dan lebih disesalinya, bekal yang Petir minta, belum bisa disiapkannya.


"Sudah, nggak apa kok. Kamu mandi saja. Tuh uda siap."


Vay menunduk malu. Suaminya sepertinya bangun subuh subuh. Bekalnya sudah siap di kotak makan berwarna merah yang belum tertutup karena nasi masih ngebul. Hanya telur dadar di sana.


"Maaf..." lirih Vay. Ia merasa dirinya itu seorang istri yang tak berguna.


"Nggak apa, Vay. Ini masalah kecil. Aku membangunkan mu karena cuma mau ijin pergi. Dan hati hati di rumah ya, Sayang."


Petir sudah rapih. Kotak makan dan minumnya pun sudah di dalam tas punggungnya. Di dalam sana, ia juga sudah menyiapkan baju kaos dan celana jogger. Ia sengaja berpenampilan rapih keluar rumah agar Vay tidak curiga kalau pekerjaan benar-benar membanting otot. Dengan begitu, balik kerja pun ia tetap rapih bukan.


Lain halnya Vay, ia merenung setelah kepergian Petir. Sepertinya ia benar-benar harus ikut nyari lowongan kerja.


"Tak apalah kerja apapun." lirihnya yang merasa keahlian IT nya itu tidak berguna karena langkahnya telah dicekal tak kasat mata oleh Ayahnya sendiri.


Namun, ia tercengang melihat apa yang ada di dalam leptop Petir. Suaminya ini sepertinya buru buru sehingga tidak menonaktifkan sebuah web khusus yang dimiliki Petir.


Vay yang memang ahli IT, dengan mudah mengakses lebih dalam proyek tersembunyi Petir.


"Wow, dia punya rancangan aplikasi yang dinamainya Service Menu Cafe Application?" Vay semakin antusias lebih mencermati kegunaan sistem tersebut yang sepertinya diperuntukkan pelayan canggih sebuah cafe atau resto resto.


Tapi, kenapa suaminya ini tidak menjadikannya patner kerja yang skill nya memang di internet. Huu... Suaminya itu rupanya mau bikin suprise untuknya.


"Tapi ini masih ada kelemahannya." Sejenak Vay menggigit ujung kukunya,berpikir. dengan jari jari kirinya bergerak lincah di atas keyboard.


Setelah mendapat solusinya, bibir itu merekah manis. Suaminya cukup men-demo atau memasarkannya ke calon klien kliennya saja. Sebaiknya, ia pura pura tidak tau sajalah. Biarkan suaminya memiliki kesenangan tersendiri yang mungkin kalau sudah ada klien atau hasilnya, barulah suaminya itu bangga memberitahukan padanya.

__ADS_1


"Semoga yang kamu usahakan lancar, suamiku," doa Vay. Hari ini ia jadi semangat lagi. Segera ia pun berbenah rumah, baru lah dirinya mandi.


"Wah, Neng."


Baru keluar dari pintu, ia langsung disambut ramah oleh Ibu Juleha yang sedang kerepotan membawa keranjang baju.


"Cucian ibu banyak sekali? Apa butuh bantuan?" tawar Vay kasihan pada ibu kurus di depannya.


"Ini baju bersih, Neng. Punya anak anak kontrakan yang masih single minta disetrikain. Lumayan tipnya sehari, tapi karena Ibu lagi repot, mau ibu balikan lagi." terang si Ibu. Membuat senyum Vay mengembang. Tidak ada kerjaan di luaran sana, kenapa ia tidak menawarkan diri saja jadi tukang cuci gosok? Ah, ide bagus.


" Bagaimana, kalau aku aja yang menyetrikanya, Bu? "


" Seriusan?"


" Eum, serius. Lumayan kan kata ibu. Lagian aku bete nggak ada kerjaan."


Ibu Juleha tersenyum. Wanita muda nan cantik ini hanya luarannya saja seperti anak manja, aslinya mah baddas. Mau kerja keras demi membantu suami. Si ibu salut dalam diamnya.


"Oke deh, kamu memang baik. Ini ambillah. Di sini sudah ada nama dan nomer kontrakannya masing-masing, Vay bisa anter langsung baju mereka ke pemiliknya besok kalau sudah selesai digosok."


"Siap, Bu!" Vay menjawab antusias diiringi senyum terbaiknya. Si ibu kan memberinya pekerjaan, jadi ia makin bersyukur masih dikelilingi orang baik dalam hidupnya yang sedang diuji ini.


Meski capek, Vay terus berkutat menyetrika baju baju para tetangga. Hingga satu minggu terlewat, Petir dan Vay bekerja memeras keringat tanpa saling tau apa pekerjaan masing-masing.


Vay diam tentang pekerjaannya, karena ia tidak mau membuat Petir merasa menjadi pria yang tidak berguna, pria yang tidak bisa menafkahi istri. Intinya, Vay ingin mengurangi beban suaminya. Titik.


"Selesai juga." Pinggang Vay yang kebanyakan duduk bersila di depan baju baju bertumpuk yang ia setrika itu, terasa nyeri. "Aku uda nenek nenek kayaknya. Cepat encok." Vay terbahak sendiri dalam rumah berpetaknya karena ejekannya. Segera ia menaruh baju baju pelanggannya itu ke dalam kardus besar. Pukul 18:25, berarti ia hanya punya waktu tiga puluh menitan saja untuk menyembunyikan baju tersebut dari Petir. Besok pagi, setelah Petir berangkat kerja, baru deh ia mengantar pakaian tersebut ke para tetangganya yang kini mereka semua sudah mengenal Vay sebagai Neng Bule panggilannya.


"Seperti biasa, ditutup rapat agar aroma kisprainya nggak tercium." Vay menutup kardus besar tersebut dengan sarung dan handuk nya. Pernah Petir bertanya, isinya apa? Namun ia beralasan kardus tersebut cuma alat bantu menaruh barang yang jarang dipakai. Syukurnya, suaminya main percaya saja, dan selama Petir pulang bekerja, suaminya itu sangat jelas terlihat dari wajahnya yang lelah luar biasa. Jadi, Petir selalu tidur lebih awal membuat kerjaannya itu aman tidak ketahuan.


"Assalamualaikum..."

__ADS_1


Itu Petir sudah pulang, syukurnya Vay sudah menutup rapat kardus tersebut. Jadi aman deh.


"Waalaikum __ Loh, Bang. Kok berdarah?" Vay panik melihat kondisi Petir yang pulang pulang dalam keadaan tidak mulus.


__ADS_2