
Rencana awal Purnama yang mengajak Vay hangout bersama, nyatanya gagal. Gadis indo itu berujung sesunggukan pilu sembari menatap nanar suaminya dari kejauhan.
"Udah dong, Vay. Jangan nangis terus." Purnama mengusap usap lembut bahu sahabatnya. Hampir satu jam mereka ada di trotoar, tetapi Vay enggan meninggalkan tempat. Wanita itu masih betah berpanas-panasan dengan air mata membasahi pipi. Banyaknya pengguna trotoar yang berlalu lalang, menatap mereka aneh.
"Hiks...hiks..." Vay yang ingin mengeluarkan suaranya malah tersendat sendat di tenggorokan, hanya tangis yang terdengar. Vay menangis bukan karena malu mempunyai suami yang pekerjaannya sebagai kuli bangunan, bukan sama sekali! Ia bersedih sekaligus haru mengetahui suaminya mau bekerja berat dan panas panasan demi mencari sesuap nasi untuknya.
Kesedihan Vay sebenarnya tertuju ke padanya sendiri, sepertinya ia masih kurang sempurna untuk Petir. Ia ingin membantu meringankan beban suaminya. Menjadi buru cuci gosok berapa sih hasilnya? Sampai keriput pun, ia tidak akan bisa menandingi pembuktian kesuksesan yang disyaratkan oleh Ayahnya.
Vay pun ingin menghasilkan uang lebih untuk suaminya itu. Tetapi, bagaimana caranya? Melamar pekerjaan sana sini, namanya sudah di blacklist oleh ayahnya sendiri.
"Vay, apa Lo malu Petir bekerja seperti itu?" tanya Purnama dengan nada penuh kehati-hatian. Ia ingin memastikan praduganya.
Vay hanya mampu menggeleng menyanggah prasangka Ama. Air mata cengengnya kian tumpah ruah manakala melihat suaminya di depan sana hampir terjatuh karena kesandung dengan adanya beban semen di pundaknya. Ya Allah, begitu besar perjuangan suaminya. Vay ingin sekali berlari ke sana untuk membantu Petir atau sekedar mengusap wajah suaminya yang dipenuhi dengan peluh dan debu berbaur menjadi satu. Namun, ia juga tidak mau membuat suaminya itu kena shock mendadak karena Petir selama ini menyembunyikan pekerjaan kulinya itu darinya yang jelas jelas artinya tidak mau diketahui, bukan?
"Terus, kenapa lo sampai kejer begini?" Heran Purnama.
"Gu- gue sedih, Ama. Gara gara gue, Petir sampai banting otot. Selama ini, gue nggak tau kalau pekerjaannya seberat itu. Hiks... Gue, gue merasa orang yang paling membebaninya."
Purnama kembali mengusap lembut bahu Vay yang sahabatnya ini malah ngelunjak, ujung bajunya dibuat lap ingus dan air mata. Tak apalah, nanti bisa dicuci.
"Lo salah, Vay. Suami Lo itu melakukan semuanya bukan karena Lo jadi bebannya, tetapi rasa tanggungjawab dan juga cinta besarnya ke Lo. Petir menyembunyikan pekerjaannya sebagai kulit, mungkin karena tidak mau Lo bersedih seperti ini." Jangan salah, anak Jum-si gesrek ini pun bisa bijaksana. "Jangankan kerja seperti di dalam sana, mungkin berperang abad ketiga pun dia rela menjadi jendral paling depan hanya karena cintanya dan itu Lo. Daripada nanti dilihat Petir dan bisa bisa menjatuhkan semangatnya karena Lo mewek di tempat umum, lebih baik kita cari tempat enak untuk nenangin perasaan kacau Lo itu. Ayo... Pergi!"
Vay hanya pasrah digeret geret Purnama naik ke motor. Helm pun, Purnama lah yang memakaikannya.
"Gue mau pulang aja, Ama. Nggak sanggup gue diajak makan enak sama Lo sedang laki gue kehausan dibawa terik matahari," pinta Vay yang sudah di atas boncengan. Sekali lagi, ia melempar jauh pandangannya ke arah Petir. Suaminya itu sibuk mengusap keringatnya menggunakan ujung baju kotornya. Hati Vay terenyuh kembali melihat gerakan penuh kata lelah itu.
__ADS_1
Purnama hanya mengangguk dan segera mencari jalan untuk berputar arah.
***
Satu jam berlalu saat Petir sudah sampai rumah. Ia aneh melihat tingkah Vay. Bukan aneh yang membuatnya jengkel dan tingkah menyebalkan lainnya, melainkan sikap Vay malam ini begitu manis bak anak kucing yang menggemaskan.
Pulang kerja tadi, air hangat disiapkan untuk mandi. Makan malam bersama pun, istrinya itu repot repot menyuapinya dengan alasan biar tanganmu bisa istirahat. Dan sekarang, istrinya ini menyuruhnya tengkurap agar Vay mudah memijat pundak dan bagian otot otot tertentu. Manis dan perhatian bukan.
"Apa istri ku ingin hal sesuatu?" tanya Petir sembari menikmati pijatan enak tangan Vay di pundaknya yang memang terasa linu kebanyakan manggul semen.
Vay belum niat menjawab. Ia lebih meresapi mengusap pundak kanan suaminya yang terang terangan ia lihat ada beban berat di kulit yang memerah itu.
Setelah puas memijat pundak, Vay beralih menggenggam tangan Petir yang sudah tidak sehalus dulu. Bahkan, tangan suaminya itu mulai ada kapalan kecil kecil. Cup... Di kecupnya telapak tangan kasar tersebut tanpa sadar menimbulkan kecurigaan Petir.
"Kamu kenapa, Vay? Sedari tadi, kamu hanya diam. Abang mau beranggapan kamu marah, tetapi Abang merasa tingkah mu ini memperlakukan ku seperti raja, bukan ciri ciri orang yang ngambek. Apakah ada sesuatu yang salah?" Selidik Petir. Wajahnya nampak serius menatap Vay yang menggeleng pelan.
Hmmp...
Alih alih menjawab suaminya, Petir dibuat bungkam oleh istrinya yang main menyambar bibir nya.
Okelah, Petir paham. Mungkin Vay bersikap manis karena ingin enak-enak yang belum pernah terjadi selama pernikahan siri mereka?
"Biarkan aku melayanimu dan menghapus lelah mu malam ini?" bisik mesra Vay setelah melepaskan tautan bibirnya sejenak. Sejurus, ia ingin kembali mencumbui suaminya yang memang wajib dirinya memberi kenyamanan di rumah setelah suaminya bermandikan keringat lelah seharian penuh di luar sana. Namun, niatnya itu tertahan. Petir membekap lembut mulutnya menggunakan telapak tangan kanan.
"Kalau kamu meminta hakmu dariku dengan arti ada 'sebuah' alasan, maka aku tidak akan melakukannya. Tetapi kalau sebaliknya, maka aku akan melanggar janji ku kepada Ayah mu. Biarkan aku menjadi pecundang kedua kalinya demi memberikan kata terbaik untuk mu, karena sesungguhnya aku tidak mau membuatmu kecewa barang sedikit pun, Vay."
__ADS_1
Petir bertutur lembut tanpa membuka bekapan tangannya dari mulut Vay. Mata mereka saling mengunci. Dari binar netra bule istrinya ini, Petir melihat seperti ada sesuatu yang disembunyikan Vay. Tetapi, Petir tidak mau memaksa istrinya untuk mengaku. Biarkan Vay terbuka sendiri. Dan untuk masalah 'hak kasur' jangan ditanya lagi. Petir sungguh sungguh sangat ingin membolak balik mesra istrinya ini, tetapi kembali lagi pada sebuah arti pertarungannya dengan mertuanya itu. Sehingga, ia harus mengesampingkan hasrat besarnya untuk memiliki Vay seutuhnya. Petir ingin maju menjadi pemenang tanpa ada kebohongan pelanggaran barang seupil pun. Titik!
"Tidur lah, Bang. Maafkan sikapku yang memancing mu tadi. Aku akan bersabar." Vay langsung membaringkan tubuhnya ke kasur. Petir menghela nafas pendek pendek lalu menyusul Vay berbaring di sampingnya. Tanpa ada interaksi lagi, Vay berangsur masuk ke dalam dekapan Petir. Lalu memejamkan matanya secara paksa. Tetapi elusan tangan ajaib Petir di kepalanya, membuat dirinya ngantuk dan nyenyak seketika. Lihatlah, siapa yang ingin menghibur untuk melepaskan lelah, tetapi siapa pula yang dihibur dan sekarang tertidur nyaman.
Petir hanya bisa tersenyum manis. Mengecup tipis bibir Vay lalu menjauh dari kasur. Setiap malam, tanpa Vay ketahui. Ia pun bekerja keras di balik silaunya laptopnya. Petir tidak pantang menyerah memasarkan secara virtual aplikasi buatannya ke para pengusaha restoran dan cafe cafe. Ia hanya perlu bersabar dalam usaha kerasnya.
***
Tok tok tok...
Ke esokan harinya, Vay dibuat resah oleh pengetuk pintu di kontrakannya. Ia sudah seperti ibu ibu rumah tangga yang ditagih oleh kreditan panci tetapi enggan menemui karena cicis bin duit kagak punya. Namun, pasalnya lain yang Vay alami pagi ini.
Suaminya tumben sekali tidak berangkat bekerja. Padahal, ini waktunya ia mengantar baju baju yang sudah ia setrika kemarin bersama Purnama.
Pasti, pengetuk itu adalah pelanggan-pelanggannya yang menunggu baju mereka diantar tetapi ia belum sempat karena tak ingin ketahuan oleh Petir.
"Kenapa nggak dibuka?" Petir muncul dari balik kamar. Pria itu langsung berjalan ke arah pintu utama. Membuat Vay hanya mampu tepok jidat. Sudahlah, yang terjadi maka terjadilah.
Ceklek...
"Loh, pagi pagi begini kalian ada apa nimbrung di depan kontrakan saya?" Petir bertanya pada tujuh laki laki berbeda umur di depannya ini. Kompak sekali mereka ingin bertamu. Ada apakah gerangan?
"Hehe... Pagi, Mas. Saya mau ketemu Neng Bule. Nah, itu orangnya di dalam. Neng Bule, kenapa baju dinas Abang, belum diantar? Masa Abang mau berangkat kerja pakai kaos doang, Neng?"
Bukan hanya PNS honor itu yang bertutur di depan Petir, pria brondong yang masih mahasiswa itu pun berhasil membuat Vay gelagapan di belakang tubuh Petir yang suaminya ini sudah memasang decak pinggang galak di depan tujuh pria yang sok akrab memanggilnya Neng Bule. Hadeeh.... Semoga suaminya ini bisa menahan diri untuk tidak memberi bogemam mentah satu persatu di wajah tujuh pria itu.
__ADS_1