
"Tunggu dulu? Kenapa kalian semua meminta baju di 'istri' saya? Memangnya 'istri' saya itu punya toko baju di sini?"
Istri... Tekanan dahsyat yang dilontarkan oleh Petir. Ia sengaja menegaskan kalau wanita yang mereka sapa Neng Bule itu adalah miliknya. Istrinya. Titik!
Vay sampai menggigit ujung kukunya karena cemas mendapat omelan juga dari suaminya yang sudah menampakkan taringnya sebagai predator. Beginilah nama tengah laki laki, kalau teritorinya terancam oleh siapapun, maka rauman siap menggema.
"Bang, jangan sewot sewot. Masih pagi loh, 'Sayang.' Mereka cuma mau ambil baju mereka karena 'istrimu' ini memang buru cuci gosok mereka."
Demi kedamaian dan keadaan juga mendesak, Vay akhirnya memutuskan untuk mengakuinya saja. Ia menjelaskan secara manis manis merayu manja sampai rela menekan kata Sayang dan istrimu, berharap raut tegang di wajah suaminya itu mengendur. Namun roman roman terlihat dipandangan Vay, suaminya tidak ada calm down-nya.
"Mas sekalian, tunggu sebentar ya. Saya ambilkan baju kalian."
Biar tujuh pria di depan kontrakannya itu cepat pergi, Vay segara berlari kecil ke arah kardus besar. Dan pergerakan itu tak lepas dari mata tajam suaminya yang sedang menahan nahan kesal sekaligus rasa sedihnya. Vay-anak konglomerat rela menjadi buru cuci gosok hanya karena bertahan dengannya. Hati Petir terenyuh perih di dalam sana.
"Sini...!"
Onde mande. Vay hanya pasrah saat suaminya yang emosian ini main merebut kardus besar tersebut. Suaminya bahkan mengangkat kardus tanpa terlihat kepayahan, ototnya kuat amat ya.
Braak...
Petir menaruh kardus tersebut di tengah-tengah gawang pintu yang terbuka lebar. Ia membukanya dan segera membaginya kepada pemiliknya masing-masing. Tak sudi ianya melihat sang istri yang melakukan hal tersebut tepat di dua bola matanya.
"Hari ini adalah hari terakhir 'istri' saya mencuci dan menyetrika baju kalian."
Ke tujuh pria itu pun pergi dengan ekspresi kecewa karena sarapan segar dan bikin mata adem tiap pagi sebelum berangkat kerja, tidak akan lagi mereka dapatnya yaitu melihat wajah jelita Neng Bule itu. Suaminya memang tampan, tapi garang beut deh ah, lirih salah satu dari mereka.
Dan Petir yang notabenenya adalah berjiwa lelaki, sangat paham ekspresi ekspresi kecewa pria pria itu. Sialan, ternyata dia kecolongan. Andai Vay bisa ia kantongi, maka sudah ia bawa kemana mana.
__ADS_1
Hening...
Rumah yang sudah Petir tutup rapat rapat hanya menimbulkan suasana canggung. Vay menunduk dalam dan hanya sibuk menatap ujung jempol kakinya di bawah sana. Ia sudah pasrah mendapat omelan dari Petir yang entah suaminya itu sedang berekspresi apa tepat di depannya?
Hah...
Alih alih mau memarahi Vay karena bekerja keras di luar sepengetahuannya, Petir tidak tega juga. Ia lebih dahulu kena mental melihat kepasrahan istrinya yang sudah menampilkan air muka sedihnya. Istrinya ini adalah emasnya yang ia harus elus elus dan sayang, bukan untuk diketusin. Biarlah ia tahan emosinya. Tarik nafas, buang nafas.
"Jangan diulangi lagi, Abang tidak suka kamu bekerja keras."
Hah... Seriusan ini suara suaminya? Jinak amat ya, beda dengan yang tadi. Malahan, Petir mengelus ujung kepalanya sebelum berlalu masuk ke kamar.
Penasaran, Vay mengekor pelan. Ia mengintip di balik gorden yang memang kamar mereka tidak memiliki pintu.
Suaminya sedang siap siap memakai kemeja, pakai minyak rambut sampai kinyis kinyis aduhai. Terakhir diberi sentuhan semprotan minyak wangi yang mampu hidung Vay terlena.
Apakah suaminya itu marah dan berujung balas dendam dengan cara mau mencari gantinya. Kan, suaminya kalau mau berangkat kerja, hanya sekedar kemeja tanpa ada sentuhan pernak pernik. Ini, pakai jam tangan segala, wangi lagi. Alamak... Vay galau jadinya. Ia menangis kejer lebih dahulu di balik tembok kamarnya.
Mendengar ada suara isakan yang tersendat sendat tertahan, Petir yang sibuk membungkus laptopnya masuk ke dalam tas khusus, jadi dibuat penasaran. Tidak mungkin itu suara Vay kan? Secara, ia kan tidak memarahi dan memaki istrinya itu.
"Loh, Vay...!" Petir terkejut mendapati Vay yang duduk di pojok tembok dengan air mata meleleh sembari memeluk erat lututnya. Seperti anak tiri yang habis disiksa.
Vay menangada. Penampilan suaminya yang sudah kace badai semakin membuatnya melow. Entah kenapa, hatinya belakangan ini jadi cengeng kalau itu menyangkut suaminya.
"Kamu kenapa? Apa aku membuat kesalahan?" tanya Petir yang sudah duduk di depan Vay.
"Abang kalau kesal ya marahin dan caci aku saja. Jangan marahnya dengan cara mau mejeng dan bergaya di depan umum. Kalau ada yang naksir, aku bagaimana nasibnya? Sudah dibuang keluarga, ini mau dibuang suami pula."
__ADS_1
Istrinya bicara apa ya? Petir jadi tercengang mendengar protes Vay yang bernada merengek dan sesekali terisak isak.
"Kenapa muka abang kayak kambing sekarat begitu, eum? Rambut kinyis kinyis, pakaian rapi dan wangi, tidak biasa kan berangkat kerja dengan penampilan kece badai. Abang marahnya itu bikin aku sakit hati. Lebih baik dicaci aja, dari pada Abang mau cari Vay lain di luaran sa__hmptt..."
Puas! Siapa suruh cerewet. Petir yang gemas mendengar asumsi miring istrinya jadinya membungkam bibir itu dengan kecupan mesra. Tetapi kali ini, Vay menolak. Ia memukul dada Petir agar mau dilepaskan. Namun, suaminya malah menahan tengkuknya sampai sampai scane adu bibir tersebut berlangsung lama.
Karena pasokan oksigen menipis, Petir pun melepaskan bibir Vay yang candu baginya.
"Masih mau cerewet?" tanya Petir sembari memasang nada ancaman. Vay memanyunkan bibirnya, merajuk. Tapi itu malam membuat Petir tersenyum lucu.
"Otakmu ini kadang kala bikin pusing dan aneh." Petir mensentil pelan kening Vay. "Mana mungkin aku tega mencari Vay lain di luar sana. Vay ini saja sudah membuatku jatuh cinta setengah mati." Petir tersenyum manis sembari mencubit gemas pipi kanan Vay.
Halah gombal ... Vay masih cemberut. Membuat Petir harus mengakui saja kemana dirinya akan pergi hari ini. Rencananya mau membuat Vay suprise tentang usahanya yang sekarang ada yang melirik melalui email semalam, biarlah tinggal rencana. Daripada dicemberuti terus.
"Abang tidak bekerja hari ini karena ada seorang klien mengajak aku bertemu. Abang punya sebuah aplikasi yang Abang targetkan ke Cafe dan restoran berkelas. Namanya itu, Service Menu Application. Tapi masih mau preview dahulu. Rencananya, kalau sudah dipinang, baru abang memberi kabar baik ini. Doakan Abang sukses mendemonya ya, Sayang."
Oh ... Mulut Vay membulat kecil. Ternyata asumsinya parah banget. Ia jadi tidak enak hati karena sudah menuduh suaminya yang tidak tidak. "Maaf, ya." Vay garuk kepala yang tidak gatal. Lalu tangan satunya mengusap mata sembabnya yang sudah paranoid terlebih dahulu. Wajah Vay mendadak panas karena malu sendiri.
Melihat tingkah kikuk Vay, Petir malah tersenyum gemas. Ia menarik ujung hidung bangir istrinya. Lalu berkata, "Bagaimana kalau kamu ikut bersama ku. Jujur, aku juga takut kamu digondol tetangga tujuh orang tadi."
Vay lah yang sekarang tersenyum sembari menyedot cairan hidungnya yang encer karena habis menangis tidak jelas.
"Kenapa tersenyum? Apa kata kata ku tadi seperti lelucon?" Petir memang tidak bercanda perihal kecemburuannya.
Vay menggeleng-gelengkan pelan kepalanya, lalu berkata, "Kita memang saling mencintai dan menyayangi. Sama sama suka beramsumi paranoid seperti aku curiga dengan penampilan mu ini, dan abang juga paranoid tentang tujuh tetangga tadi."
Mereka berujung saling melempar ledekan, tertawa dan kadang tersenyum bahagia dibalik hidup sederhananya.
__ADS_1