
Terik mentari terasa di atas kepala. Jam dua belas kurang lima belas menit, Petir masih terlihat mengangkat satu sak semen di atas pundaknya itu. Baru dua mingguan dia berkerja kuli bangunan, kulit bersih putihnya sudah terlihat kecokelatan dan wajahnya memarah akibat paparan sinar matahari yang berlebihan. Kulit tangannya sudah ada yang terbakar dan telapak tangannya pun terasa kasar.
Namun, itu bukanlah masalah besar untuk Petir. Ia tetap ikhlas membanting tulangnya demi bisa menafkahi Vay.
"Tir, sini istirahat dulu, uda jam dua belas loh. Kamu mah terlalu rajin sekali. Sono ke Pak Deni, ada jatah makanan enak lagi loh."
Petir memberi jempol ke Pak Mahmud yang berteriak memberinya intruksi dari kejauhan. Semua para kuli memang sudah terlihat memegang styrofoam makanan yang katanya mendapat jatah lagi. Kebetulan, ia tidak membawa kotak bekal nasi.
Selesai mencuci tangannya sampai bersih, Petir pun menghampiri mandor yang kerap disapa sopan Pak Deni.
Senyum ramah beliau langsung menyambutnya. "Ini buat mu, Tir."
Petir dengan takzim menerima kotak makanan putih itu dari sodoran tangan Pak Deni.
"Wah, aromanya seperti spaghetti nih, Pak." tebak Petir. Ia langsung merindukan Vay karena makanan tersebut kesukaan istrinya.
"Iya, Tir. Sepertinya begitu. Ini traktiran dari atasan. Katanya, hari ini adalah hari ulang tahun istrinya. Eh, eh, kok kamu malah masukin tas? Dimakan dong!"
Petir tersenyum kikuk. "Makanan ini adalah kesukaan istriku, Pak. Biarkan nanti dia yang memakannya," Petir menyembunyikan air muka sedihnya karena dalam dua minggu ini, ia belum bisa memberikan nutrisi baik untuk Vay. Semoga, istrinya itu tidak lah kurus. Takutnya, Nata nanti akan memaki makinya karena dianggap tidak becus memberi makan anak semata wayangnya.
"Oh, begitu. Nggak apa itu buat istri mu saja. Dan ini aku beri lagi buat mu. Dimakan ya."
"Tapi yang lainnya, Pak?" Petir tidak enak hati kalau harus mengambil jatah orang lain. Kasihan kan orang yang ia ambil haknya.
"Bos besar sengaja melebihkan hitungan. Semuanya sudah dapat jatah. Ambillah."
Alhamdulillah, rezeki memang tidak kemana. Petir baru tenang mengambil kotak styrofoam tersebut lalu menghampiri teman-teman kulitnya yang berkumpul di sisi bangunan yang teduh.
Petir menaruh bokongnya di dekat Pak Mahmud yang sampai sekarang masih menatap ngeri makanan di depannya.
"Nanti keburu disantap lalat, Pak," goda Petir sembari membuka kotaknya.
"Saya teh heran lihatnya, Tir. Mienya besar besar. Ada cincang daging dan keju yang melimpah. Terus pakai sumpit pula. Makanan orang kaya mah aneh aneh."
Petir tersenyum tipis mendengar celotehan teman kerjanya.
"Loh, loh, kamu teh jago amat makannya pakai sumpit." Pak Mahmud sampai menatapnya takjub. "Lihat itu para bapak bapak lainnya, pakai tangan semua." imbuh si Bapak. Dan Petir pun mengikuti arah tunjuk Pak Mahmud. Benar saja, sebagian besar dari teman kulinya makan spaghettinya menggunakan tangan.
"Hehehe... Pak Mahmud mau saya ajarin?"
"Mau dong."
Petir berbaik hati mengajari pria yang mungkin seumuran Papanya itu. Tetapi, Pak Mahmud yang tidak bisa bisa jua, akhirnya kesal. Beliau menyerah dan berakhir mencomot makanan khas dari Italia tersebut.
Petir tersenyum geli. Tanpa kata lagi, ia pun menyantap nikmat kembali salah satu makanan terfavoritnya itu.
__ADS_1
Di luar proyek, Pak Deni yang sudah selesai membagi rata makanan tersebut, segera melapor ke bos besar yang tak lain adalah Nata sendiri.
"Den Petir sudah mengambil jatahnya, Bos. Tadinya, ia menolak makan karena akan dibawa pulang untuk istrinya saja katanya. Jadi, saya beri dua aja."
Nata hanya mengangguk di balik jendela mobil yang terbuka sedikit.
"Ingat, Deni. Dia itu menantuku. Jangan sampai dia terluka lagi seperti kecelakaan kerja kemarin, saya tidak mau nanti yang berujung sedih adalah anak semata wayangku."
"Baik, Pak Nata." Meski kepo, kenapa seorang menantu konglomerat bisa jadi kuli bangunan, Pak Deni tetap saja tidak berani lancang bertanya ke Nata. Bisa disepak nanti jadi mandor.
***
Sementara di sisi Vay, dia yang sibuk menyetrika baju milik para tetangga, jadi terganggu oleh ketukan pintu di luar sana.
"Siapa sih, nggak tau apa lagi sibuk," gerutu Vay sembari menaruh setrikaan tersebut dengan cara diberdirikan.
Ceklek...
Pintu pun terbuka. Terlihat seorang berseragam ojol masih memakai helm ninja. Mata saja tidak terlihat oleh Vay.
"Salah alamat!" ketus Vay ke kurir itu yang merasa tidak memesan apapun.
"Si anying, ini gue!" Suara cewek tak asing itu membuka helm.
Purnama berdecak kesal. Ia kira akan mendapat cipika cipiki atau pelukan rindu persahabatan sembari ada kata, 'Gue kangen,' tetapi itu hanyalah di dalam sinetron ftv alay. Sahabat oroknya yang lagi miskin sepertinya sekarang malah menoyor keningnya sembari bertanya, "Tau dari mana lo, kalau gue dekam di mari, eum?"
Ama langsung menerobos masuk, lalu menjawab, "Siapa lagi kalau bukan adik ipar lo bin Utan." Bola mata indah Purnama memutar memperhatikan rumah dua petak Vay. "Neng Bule, lo lebih miskin dari gue." Katanya ceplas ceplos.
Vay tidak menjawab, ia kembali duduk bersila di depan baju menumpuk.
"Kalau lo haus, noh ada kompor. Bikin teh sendiri aja, atau noh air galon. Ambil sendiri, gue lagi sibuk___."
"Gila, gosokan baju lo banyak beut. Eh, itu kaos apa karung. Gede beut si Vay, baju siapa? Ah, lo jadi buru cuci gosok ya?" Purnama shock melihat baju baju yang numpuk, sebagian sudah tersusun rapi dan sebagian masih berantakan. Apa segitu menderitanya anak konglomerat ini sampai rela jadi buru cuci gosok?
"Hem... Begitulah, Ama. Itung itung gue lagi bantu suami. Jangan masang muka mewek gitu. Jelek sumpah atau gue telepon Abian nih." Vay tersenyum tipis melihat Purnama memanyunkan bibirnya disaat mendengar ancamannya. Ia hanya tidak mau di kasihani seperti air muka Purnama barusan.
"Kampret memang lo, Vay. Awas aja ngasih info ke Abiotik itu, gue gulung lo, Vay."
"Hahaha..." Vay tertawa lepas mendengar nama bagus Abian jadi berubah Abiotik.
"Gue kemari itu mau ngajak lo noki noki cantik, Vay. Tenang, gue bayarin deh. Tetapi lo keknya sibuk beut ya."
"Seperti yang lo lihat." Vay menjawab enteng. Sejurus menyeringai lebar. "Gue mau, Ma. Tapi lo bantu beresin kerjaan gue, bagaimana?" Vay pun sebenarnya kangen berat sama sahabatnya ini, tetapi ia sengaja tidak diperlihatkan.
Pupil mata Purnama membola lebar. "Maksudnya, gue harus ikut nyetrikain?"
__ADS_1
Vay mengangguk manis. Lalu berkata santai, "Kan kita sahabat sampai mati," godanya sembari terkekeh geli melihat bola mata Purnama memutar malas.
"Oke deh. Demi bisa nongkrong bareng lo hari ini. Masalahnya, Neng Bule. Lo memang ada gosokan lainnya?"
"Tenang, ada ibu Juleha yang bisa diandalkan. Nih, lo duduk di tempat gue. Lo tunggu gue sembari mulai menyetrika ini. Gue mau pinjam dulu setrikaan ibu kontrakan."
Purnama menurut paksa. Demi persahabatan bersama Vay, ia rela mengikuti semua titah sahabatnya yang sudah menjalin sejak duduk di bangku SD kelas satu.
Vay tidak lama di luar, ia sudah datang membawa setrikaan lainnya. Mereka bekerja sembari bertukar cerita hidup masing masing, tak lupa canda tawa terselip di antara mereka. Sampai kerjaan akhirnya selesai semua.
"Gilaaak, pinggang gue encok, Vay." Purnama terkapar di atas lantai dingin. "Lo pasti capek beut ya, siang nyetrikain baju banyak, dan malamnya lo yang disetrika Petir di kasur. Aduh....kok lo nimpuk gue sih, Vay?"
"Mesum sih!"
"Hahaha..." Purnama tertawa lepas melihat wajah Vay merona merah. "Semalam berapa ronde, Vay?"
"Gila ya, lo memang gesrek. Masih single uda nanya begitu begituan. Atau lo jangan jangan bukalapak di luaran sana ya__ adu..." Kali ini, Vay lah yang mengadu sakit saat Purnama menjambak rambutnya.
"Najis amat gue kalau sampai jual pah* mulus gue. Rugi nyuk. Mending gue rampok noh isi dompet Mami gue yang tiap bulan sembunyi sembunyi ngasih gue uang jajan dalam pelarian ini."
Vay hanya tercengir bodoh mendapat omelan Purnama yang tidak terima dikatai bukalapak.
" Ya udah maaf. Lagian mulut perawan lo nyerempet ke hal yang nggak wajar sih." Gue aja belum rasain malam pertama, sambungnya dalam hati.
Dan perdebatan unfaedah itu pun berakhir. Keduanya sudah di jalan dengan Purnama yang mengemudi motor matic yang sudah keren maksimal karena sudah dimodifikasi seapik mungkin.
"Eh, Ama. Stopin motor lo!"
Cekkit...
"Apa sih, Vay?"
"Itu, di dalam proyek, bukannya itu suami gue?"
Purnama mengikuti arah pandang Vay. "Maksudnya, suami lo yang mana?"
"Si anying! Petir lah! Coba lo lihat baik baik, benar nggak mata gue. Atau gue aja yang salah lihat?"
Ama memicing dan lebih fokus menatap pria yang baru saja menurunkan semen di pundaknya yang diambilnya dari atas truk berisi semen bertumpuk tumpuk. " Iya, Vay. Itu Petir!"
Deg...
****
Hai, terimakasih masih mengikuti sampai di sini, jangan lupa mampir jg di cerita "Sistem Anak Genius (Jadi Ibu Anak Jalanan)" Insyaallah menghibur.
__ADS_1