
Ceklek...
Keributan yang diperbuat oleh dua keluarga di dalam ruangan inap Petir, berhasil mengundang telinga penasaran dokter dan suster jaga malam itu. Satu pria dan wanita berpakain putih putih sudah membuka pintu. Lantas saja membuat atensi semua orang itu mendelik serempak ke arah petugas rumah sakit tersebut.
"Mohon maaf, suara bapak-bapak serta ibu sekalian mengganggu pasien lain," tegur dokter tersebut. "Dan ini sebenarnya sudah malam untuk sekedar menjenguk pasien. Lebih lebih kalian beramai ramai. Apakah ada masalah?" cecar sang Dokter lagi.
"Nih, Dok. Kalau mau marah, marahin dia!"
Kampreto!
Nata ingin sekali menggigit jari Langit yang sedang menunjuk ke arahnya. Demi menjaga imege-nya, ia hanya melotot seram ke sahabat yang mungkin saja akan mejadi mantan sahabatnya gara gara percintaan anak mereka yang ditentang habis habisan olehnya.
Tapi sayang, Langit yang muak melihat tingkah Nata yang lagi egois saat ini, tidak mempedulikan kode ancaman plototan tersebut. Papa Petir itu kembali berkata yang sengaja ingin membuat Nata kesal. "Dia yang ngajak kami semua datang kemari, Dok. Kan kesal, lagi enak enak kekepan, eh kami dipaksa datang kemari. Omelin saja dia!"
"Sialan...!" celetuk Nata. Membuat sang Dokter itu menggeleng geleng.
"Maaf, Pak. Dengan segala hormat, saya meminta kalian untuk pulang. Pasien harus beristirahat," tegas sang Dokter yang harus bertindak profesional. Bukan hanya Nata, pengusiran penuh kehormatan itu pun berlaku untuk semuanya kecuali sang pasien.
__ADS_1
Nata mendengus. Gagal sudah rencananya yang ingin memberi efek jera ke Petir di depan orang tua pria muda itu langsung.
" Hah... Saya pulang, puas kalian!" Nata beranjak kasar dari sofa tersebut. Berjalan ke arah Vay. Ia ingin menarik anak semata wayangnya itu. Tetapi, berujung tongkat kruk Yola lah yang ia tarik karena matanya hanya asyik melotot ke arah Petir, seperti memberi isyarat peringatan, 'urusan kita belum selesai.'
"Eh.. Eh..!" Yola terpekik yang ditarik anaknya itu secara kasar. Membuat Nata menoleh cepat ke belakang dan segera melepas kruk Mamanya.
"Astaga, kenapa tongkat pun ikut memusuhi ku hari ini?" gerutu Nata mendramatis hidupnya. Satu lawan banyak orang, itulah yang ia rasakan. Bahkan Ibell sang isteri pun tidak berpihak padanya.
"Tir, cepat sehat ya. Kalau kamu benar benar mencintai anak Tante, maka perjuangkan meski halangan di depanmu sebesar gunung sakalipun. Maafkan juga suami Tante yang sudah__"
"Ibell, kamu mau berceramah, Sayang. Dokter. Mengusir. Kita. Semua." Saking kesalnya, Nata sampai menekan satu persatu kalimatnya yang sudah berada di dekat pintu.
"Pa, Ma, apa kalian paham maksud kata kata penyemangat Tante Ibell? Dia itu menyetujui aku menjadi pasangan Vay, Ma. Ku mohon, beri dukungan kalian juga untuk ku!" pinta Petir berharap. Semangat untuk berjuang mendapat restu Nata amat membara mengetahui keluarga Vay yang lainnya ternyata mendukung hubungan mereka.
"Cepatlah puli dan keluar dari rumah sakit dulu. Melihat tingkah laku Ayah Vay, Papa juga muak."
Wajah Petir kian berseri seri. Papanya yang kemarin ikut menentang cintanya bersama Vay, kini terlihat berpihak padanya.
__ADS_1
"Iya, Nata benar-benar memuakkan. Mama ingin sekali menendang bokongnya," oceh Senja. Lautan yang jadi pendengar setia terlihat mengulum senyum gelinya. Inilah sejatinya keluarga nya itu jika kembali utuh. Sepertinya akan ada roman roman konyol yang akan membuat Om Natanya garuk garuk tengkuk atau justru akan membuat Nata pusing. Lautan jadi penasaran, biasanya kalau orang tuanya itu berang lalu bersatu, maka pasti ada sesuatu dibalik otak mereka.
"Jadi, apa rencana Papa dan Mama tentang masalah Bang Petir." Dengan itu Lautan bertanya. Jangan heran panggilan sopannya, Lautan memang akan memakai sapaan 'Abang' jikalau di depan orang tuanya. Tetapi kalau tidak ada, Ia dan kakaknya sudah seperti teman biasa yang memakai sapaan nama saja.
"Ada ide istri ku?" tanya Langit selalu mesra. Biasanya, istrinya inilah yang paling berlian jika menyangkut memecahkan masalah.
Petir sudah tidak sabar mendengar Mamanya membuka suara. Tetapi wanita paruh baya yang masih fresh penampilannya itu masih diam berpikir.
Hening beberapa saat yang larut dalam pikiran masing-masing.
"Utan sempat dengar kalau Vay akan di pindahkan ke Belanda setelah cuaca penerbangan bagus!" Lautan angkat suara membuat Petir yang duduk di brankar menjadi gelisah.
"Pa, Ma, kalau kalian tidak mau melihat anak kalian gila, maka jangan biarkan Om Nata membawa pergi Vay." Petir bak bocah yang merengek. Demi kata cintanya, ia rela berbuat apapun.
"Berdoa saja besok rencana Mama akan berhasil. Dan kamu Lautan, besok pagi pagi sekali datangi satu persatu keluarga Batara untuk datang membantu, terutama Om Biru. Dan kamu suamiku yang tampan tapi nyebilin juga, undang beberapa para pewarta."
"Buat apa ada wartawan segala, Ma?" tanya Petir penasaran setengah mampus.
__ADS_1
"Buat apa? Intinya buat kamu sayang. Percaya kan sama Mama?"
Apa boleh buat, Petir dan dua kepala pria di dekat Senja hanya menelan ludah penasarannya.