
"Petir... Ini nggak lucu..."
Vay mengguncang guncang tubuh lemah Petir.
Bukannya kata Lona, Petir akan sembuh sendiri dalam waktu dua belas jam dari duri bercarun itu? Tetapi, kenapa Petir sesekali kejang ayan. Ini sudah pagi loh, aturan Petir itu sudah sembuh dari efek tumbuhan laknat itu.
"Vay... Ma-maafin gue ya!" Petir berkata lemah. Tapi percayalah, ini hanya intriknya doang. "Kalau gue mati, lo nggak perlu kubur gue biar lo nggak repot."
Petir kejang bohongan lagi. Membuat Vay cemas ketakutan setengah mampus. Ia kecacingan sendiri karena tidak tahu pertolongan pertama apa yang akan ia lakukan. Apakah butuh nafas buatan? Ish... Tapi ini bukan korban tenggelam. Aduhhh... piye iki, piye?
"Tir, hiks... Kok lo ngomong gitu sih? Lo akan sembuh. Kita akan keluar dari pulau ini bersama-sama. Katakan, apanya yang sakit?" Kepala Petir kini berada dipangkuannya. Sesekali mengguncang tubuh itu agar Petir tidak menutup matanya. "Lo butuh nafas buatan nggak?" tawarnya frustasi.
"Mau banget..." Nakal Petir dalam hati sembari mengangguk lemah.
Dan cup... Oh, manisnya bibir gadis yang sedang menciumnya ini. Lagi lagi dong... Tapi sayang, ia masih kurang karena terpaksa tidak merespon ciuman itu. Yang ada nanti Vay tahu kalau ia hanya berpura-pura. Pikir saja! Mana ada orang sekarat bernafs* mendapat ciuman? Nggak ada!
"Apa masih ada yang sakit?" tanya Vay masih khawatir.
__ADS_1
Petir mengangguk lagi.
Dengan akting tangan bergetarnya, Petir menarik jemari halus Vay dan menempatkannya tepat dipermukaan jantungnya. Lalu berkata," Ini yang sakit, Vay. Sungguh sangat sakit!"
"Jadi racunnya itu sudah sampai ke jantung?"
Petir lagi lagi mengangguk. Ia terpaksa berbohong demi hasrat hatinya yang penasaran mampus, kenapa Vay begitu bebal terus menolak dan menolaknya? Pokoknya, ia harus tau alasannya hari ini juga. Titik! Tidak peduli lagi kalau caranya ini sangat sampah. Toh, sampah saja ada yang didaur ulang menjadi indah. Jadi, yeakkh... Maklumi saja.
"Lo pasti senang kalau gue mati!"
Vay menggeleng geleng sebagai bantahannya.
"Gue juga mencintamu, Tir." celetuk Vay spontan mengeluarkan isi hatinya yang ia kunci mati matian dari dulu, karena satu, ia tidak mau jadi korban makan hati kalau kalau nanti ia sedang cinta cintanya ke Petir, eh tiba-tiba ada salah satu bekas celup wanitanya di luar sana, datang membawa badai. Kan sakitnya tuh di sini. Tidak bisa dibayangkan bukan?
Vay itu wanita penganut serba perencanaan. Jadi, sebelum melakukan dan menerima apapun sanksi baik atau buruknya, ia sudah membayangkan sebelumnya. Tapi sifat seperti ini kadang kala mendahului takdir Tuhan. Iya kan? Manusia hanya bisa berencana jauh jauh hari, tetapi kalau besok sudah takdirnya koid atau ada kata gagal, mau apa kita?Begitulah perumpamaan sikap Vay yang memang tidak ada salahnya juga berhati hati sebelum melangkah atau mengambil keputusan besar.
"Apa, Vay? Lo... lo bilang apaan barusan?" Petir bertanya sok paling lemah. Seperti ajal itu sudah berada di tenggorokannya. Padahal di dalam hatinya, ia sudah ingin berjingkrak jingkrak, salto atau apapun itu untuk mendeskripsikan kebahagiaannya yang ternyata Vay juga mempunyai rasa padanya.
__ADS_1
Aaaa.... Senangnya. Emak Senja, Bapak Langit, otw kawin anak mu eh nikah, batinnya luar biasa bahagia.
"Gue cinta lo. Puas?!" seru nya tegas. Lalu wajah bule indo itu kembali cemas karena Petir kembali kejang ayan beberapa kali. Padahal sih, itu ekspresi bahagia yang masih di tahan tahan oleh Petir.
"Tir...hiks... Maafin gue karena selalu nolak lo. Pokoknya, lo nggak boleh mati dulu!" Mata Vay memerah. Sungguh, ia takut Petir mati sia sia di tempat terpencil itu. Mau menolong, ia juga bingung harus apa.
"Apa... uhuk... uhuk alasannya lo selalu nolak gue?" Batuk batuk seorang penderita TBC saja kalah oleh akting Petir. Ia masih berusaha berakting demi mengorek segala keraguan Vay padanya.
Vay tidak langsung menjawab. Ia lebih dahulu menghela nafas sembari menggosok hidungnya yang penuh dengan cairan bening.
Duh, Petir merasa bersalah sudah membuat anak orang menangis tersedu sedu. Tapi apa boleh buat, Vay memang perlu diberi pelajaran halus, karena sudah menolaknya berulang kali sampai sampai ia pernah patah semangat dan berujung memilih pergi ke Inggris demi mumbuang nama Vay di hatinya, tapi sialnya itu gagal terus. Cintanya ke Vay itu, ibarat udara yang selalu ia butuhkan untuk bernafas. Lebay ya, tapi itulah kenyataannya bagi seorang Petir.
"Karena sikap jahat lo!"
"Jahat?"
"Ya, lo jahat. Lo ngehamilin Vivian tanpa mau bertanggung jawab! Lo malah memaksanya untuk menggugurkan janin nggak berdosa kalian. Lo itu pecundang sejati!"
__ADS_1
Wah... Fitnah ini mah, fitnah!
Kali ini, Petir mendadak tiga rius. Akting ia hentikan dan segera menarik kepalanya di paha Vay. Membuat gadis itu berkedip kedip kaget sembari menghela air matanya yang ada di area pipi.