Menculik Calon Istri Orang

Menculik Calon Istri Orang
Bab 31


__ADS_3

SAH...


Sekali tarikan nafas Petir mengikrarkan janji sucinya untuk nama Vay, suara koor yang hanya di hadiri dua keluarga inti, dan penghulu serta beberapa saksi langsung berseru kompak.


Meski hanya pernikahan siri, Petir tetap berucap syukur karena cintanya sudah di persatukan dalam ikrar suci. Dalam hatinya, ia berjanji akan membawa Vay ke pelaminan sesungguhnya setelah ia berhasil keluar dari permainan ayah mertuanya sendiri yang sudah mereka sepakati demi kata restu yang sesungguhnya.


Ia harus berhasil. Tetapi itu juga tergantung keteguhan Vay yang saat ini istrinya itu belum tau syarat gila ayahnya dan pasti juga menyusahkan kehidupan rumah tangganya.


Setelah doa doa terbaik dari dua keluarganya mengalun hangat menyambut kebahagiaan mereka, inilah waktu yang mendebarkan untuk Petir. Hanya ayah mertuanya itu lah yang belum memberi doanya.


Perasaan tak karuan semakin menerpa Petir, tatkala melihat Nata sudah bangkit dari duduknya dan menghampirinya yang saat ini ia dan Vay sedang berdiri bersebelahan.


"Apa kamu tidak mau memeluk Ayah, Vay?" Nata melebarkan rentangan tangannya. Dan di sambut antusias oleh anaknya ini.


Perasaan Nata campur aduk. Entahlah, apakah ia harus senang atau bersedih? Intinya, ia ingin yang terbaik untuk putri semata wayangnya. Kalau pun ingin jujur, ia senang anaknya sudah menikah dengan pria yang katanya juga mencintainya. Tetapi cinta itu butuh dibuktikan, bukan hanya dengan untaian kalimat mudah dengan mengatakan, Aku mencintaimu.


Ya, sekarang begitu mudah atau enteng mengatakan hal manis tersebut, karena masalah tidak ada sekarang. Giliran sebuah pasal besar datang menerpa bak gulungan ombak , biasanya cinta itu pudar seiringnya masalah terus bermunculan. Cinta seperti itu lah yang namanya cinta parfum parfuman, wangi sesaat tetapi akan pudar semerbaknya dalam seiringnya waktu.


Nata tidak mau itu terjadi pada putri satu satunya, pokoknya Petir harus ia uji sampai titik nadir kesabaran pria itu. Ia ingin Petir menjadi orang yang nomer satu mempedulikan anaknya baik suka dan duka. Cinta Petir harus semerbak sepanjang masa seperti dirinya yang mencintai Ibell-istrinya, meski 'dulu' waktu tujuh tahun pernah memisahkannya. Ia dulu adalah mantan cassanova, ya... Ia tidak mengelak kalau dirinya itu mantan pecundang kakap, tetapi soal cintanya, jangan ditanyakan. Satu tetap satu. Ibell pernah kabur dalam waktu lama, tetapi cinta di hatinya ia jaga hanya nama istrinya itu.


"Terimakasih, Ayah! Aku tau, kalau Ayah itu yang terbaik. Meski marahnya ayah seperti gunung aktif yang meletup letup, tetap saja Ayah akan menyayangi Vay. Mau ayah mengatakan, 'Aku benci padamu, Vay.' Tetapi di dalam hati ayah, mengatakan hal sebaliknya. Vay tau itu!"


Vay menceracau di dalam pelukan Nata. Ia bahagia meski tidak ada kemewahan dalam pernikahannya. Seketika ramalan buruk Lona waktu itu, ia anggap lagi hanya bualan atau permainan saja. Tidak benar kalau ia akan berseteru hebat dengan orang terdekatnya. Lihatlah Ayahnya atau semua orang tersayangnya, tidak ada lagi keegoisan mereka dan sekarang malah menerima hubungannya bersama Petir.

__ADS_1


"Tuan Nata, ini satu koper baju baju Nona Vay, saya sudah siapkan sesuai permintaan Anda." Satu ART datang membawa koper.


Seketika, semua orang bingung termasuk Vay kecuali Petir yang sudah tau hal ini. Mertuanya itu meminta ganti rugi seluruh biaya kerugian pernikahan gagal Vay dan Abian yang ia ciptakan. Lebih parahnya, Ayah mertuanya itu tidak mau menerima uangnya yang ia peroleh dari orang tuanya. Nata hanya ingin mau uang kerja kerasnya sendiri tanpa bantuan sepeser pun dari uang keluarganya. Itu tandanya, ia harus bekerja keras.


"Apa ini, Ayah?" pertanyaan cepat Vay sudah mewakili kebingungan semua orang yang berada di ruangan itu.


"Bajumu, Sayang. Apa kamu tadi tidak mendengar anak Bi Tina mengatakanya tadi." Nata mencoba menjawab dengan santai.


"Bang Nata, jangan bilang kamu mengusir Vay dari sini?" cecar Ibell. Yola dan Kemal pun sudah mengeluarkan aura tidak setujunya.


"Tidak, Ibell. Saya mana tega mengusir Vay? Kalian ini terlalu paranoid. Ini adalah permintaan Petir. Iya kan, menantu?"


Sialan, licik sekali ayah mertuanya ini. Lempar batu sembunyi tangan, namanya.


"Petir ingin membangun rumah tangga mendiri katanya. Ia juga akan bekerja keras mulai dari nol. Tanpa bantuan siapapun! Siapapun!" Nata sampai menekan dan mengulang kata terakhirnya dengan mata tertuju ke arah Senja dan Langit. Itu adalah kode tegas agar dua orang tua Petir tidak boleh curang.


"Lo keterlaluan amat sih, Nata. Gue pikir lo tulus nikahin anak kita masing-masing. Tetapi lu itu sama saja orang berhati batu tau nggak!" sembur Senja pedas. Ia sudah muak menahan nahan emosinya dari kemarin kemarin.


Melihat keadaan akan memanas, Petir akhirnya angkat bicara.


" Mama dan semuanya, ini memang keinginanku. Berumah tangga yang mandiri adalah impianku. Tenanglah semuanya, nafasku insyaallah akan masih panjang meski hanya makan nasi dan garam. Jadi tidak ada yang perlu di permasalahkan. Dan kamu, Vay. Sebagai istri ku sekarang, apa kamu tidak keberatan hidup susah dengan suami mu ini? Tapi aku janji, sebisa mungkin bahkan sampai titik darah penghabisanku, suami mu ini akan berusaha mati matian membahagiakan mu meski keadaanku jauh dari kata mewah sekarang. "


Harap harap cemas Petir menunggu jawaban Vay. Ia tahu, Vay itu adalah wanita yang sangat dimanjakan oleh harta. Jadi ia khawatir Vay tidak mau di ajak susah.

__ADS_1


"Ku mohon, beri aku kesempatan membuktikan kalau aku bisa membahagiakan mu, Vay. Aku akan berjanji untuk bekerja banting tulang siang dan malam demi dirimu!" bujuk Petir memohon tatkala istrinya ini masih membisu.


Kali ini, Nata berharap Vay menolak telak. Agar semuanya usai baik itu pernikahan siri ataupun kesusahan anaknya yang akan hidup miskin.


"Jangan memohon, Petir. Dari bayi sampai berumur tujuh tahun, aku itu hidup di desa yang serba terbatas. Hidup susah atau mencari uang itu nomer dua, terpenting hati nyaman bersama pasangan masing masing. Kemana pun kamu pergi ajak aku bersama mu. Ibarat kata, Mau hidup makan nasi garam, insyaallah aku ikhlas terpenting cinta dan kasih sayang mu tidak akan berkurang. "


Vay seolah-olah menantang ayahnya sendiri. Sindiran halus pun ia lemparkan tentang benar adanya ia pernah hidup miskin tanpa seorang ayah sejak awal kelahirannya sampai ia bersekolah, di kota baru ia di pertemukan ayahnya ini.


" Ayo kita pergi!" Mata indah Vay sedikit melempar kekecewaannya pada ayahnya itu yang tega sekali mengusir dirinya.


Kali ini, Vay lah yang berinisiatif menggenggam tangan suaminya di depan ayahnya langsung dan semua mata lainnya pun. "Permisi, Ayah. Semoga restu tulus mu, bisa kami gapai suatu hari nanti. Aku selalu menyayangimu, begitu pun ayah sebaliknya, meski saat ini masih gengsi mengakuinya."


Nata membisu seribu bahasa. Lainnya pun hanya bisa memandang kepergian Vay dan Petir tanpa ada yang ingin melerai. Semuanya kompak ingin melihat kerja keras Petir akan berbuah manis dan itu adalah cara satu satunya membungkam mulut Nata atau pun meluluhlantakan ego Nata.


"Anak kami meski terlahir dari keluarga mampu, tetapi didikan kami tidak pernah menye menye, Nata. Petir akan sukses. Dan gue janji, nggak akan ada campur tangan dari kami semuanya. Kami pun ingin melihat sampai mana kesuksesan kami mendidik." Langit menepuk pundak Nata, pelan. Lalu pergi dan di susul satu persatu keluarganya termasuk Lautan dan Senja.


Tinggallah Nata seorang diri di ruangan tersebut. Kata kata Vay selalu terngiang ngiang.


"Apakah aku salah? Ini caraku mendidik. Aku hanya ingin menguji pasangan anak ku! Baik atau buruknya, hasilnya itu hanya bisa dinilai di akhir cerita bukan?"


Ibell yang sebenarnya masih berada di belokan ruangan, tidak sengaja mendengar suara keluhan suaminya.


"Bang, kamu butuh istirahat. Aku ada selalu bersama mu. Kemarilah." Meski sedikit kecewa dengan keputusan Nata, Ibell tetap mencoba mau berdiri setia di dekat suami nya. Di sisi lain, suami nya ini ada benar nya juga yang baru paham maksud Nata setelah mendengar keluhan Nata barusan. Meski caranya juga terlewat batas.

__ADS_1


__ADS_2