Menculik Calon Istri Orang

Menculik Calon Istri Orang
Bab 16# Bekerja Keras


__ADS_3

"Satu... Dua... Tiga, angkat!"


Dari beberapa langkah, Vay hanya jadi penonton untuk Petir yang sedang memberi instruksi ke warga suku yang bergotong royong menurunkan rotor helikopter dengan pelan pelan. Baling baling berikut filter generatornya itu memang lah sangat berat.


"Jangan sampai jatuh!" seru Petir lagi. Vay tersenyum hangat melihat pria itu bekerja keras. Vay juga kasihan melihat wajah Petir yang biasanya selalu bersih, dan tidak berkeringat. Tapi sekarang, peluh di mana mana yang dibauri debu serta teriknya paparan matahari bisa membakar kulit. Saking panasnya, Vay saja sudah beberapa kali minum air yang untungnya Ibu ibu suku dan Lona mau membagi sedikit makanan dan minumnya.


Sedang Petir sama sekali belum menyentuh apapun untuk membasahi tenggorokannya, yang notabenenya sedari tadi Petir itu bersusah payah melepas segala baut baut rotor yang sangat membutuhkan tenaga ekstra. Vay cemas dalam diamnya.


"Apa yang bisa aku bantu?" Setelah rotor berhasil di letakkan di atas pasir yang tadinya berada di atas badan helikopter, Vay pun mendekat dan berdiri di samping Petir saat ini.


"Bantu elus hati ku saja, Sayang." Meski dalam keadaan sibuk, pria itu sempat sempatnya menggoda Vay dengan ucapan rayu rayuan receh nya. Bahkan mata itu masih sempat berkedip genit. Lalu hebatnya, Petir kembali serius memandang kesibukan di depannya. Sungguh, Vay speeclhess di antara sesalnya menawarkan jasanya barusan.


"Atau kamu cium pipiku lagi, pasti semangat deh__"


"Terus bagaimana lagi?" Dahen bertanya setelah Vay beringsut diam diam dari sisi Petir.


"Ihh...kok Vay, jadi lo?" Petir terkejut. Jadi barusan Dahen lah yang ia goda mesra? Dan sembari bertanya kaget, Petir menoleh cepat ke belakang. Punggung gadis tercintanya sudah beringsut ke sisi Lona rupanya. 'Untung Dahen belum gue sosor,' batin nya ngeri ngeri kecut.


Dahen menaikkan satu alisnya. Lalu berkata, "Apa orang kota semuanya punya sikap tengil seperti mu?" Dahen bertanya penasaran membuat Petir terkekeh geli.


"Kapan kapan pergi lah ke kota. Temui aku nanti di sana!" sahut Petir sembari menepuk pelan bahu Dahen. Sejurus Petir pun beringsut ke rotor yang minta diperiksa olehnya.


"Dasar aneh!" gerutu Dahen dengan suara pelan karena jawaban pria itu tidak sesuai pertanyaannya. Meski kesal, ia pun akhirnya kembali bekerja sama dengan Petir dan Yama serta tenaga suka relawan warga lainnya.

__ADS_1


"Rumah penduduk ada berapa, Dahen?" Petir bertanya dengan tangan masih sibuk memeriksa generatornya. Ia berharap, kekuatan turbin listrik yang akan ia bangkitkan bisa memenuhi rumah penduduk, meski hanya satu lampu satu rumah. setidaknya ada penerangan karena alat alat yang ia butuhkan memang jauh dari kata cukup.


"Tujuh belas rumah!" Yama yang menyambar jawaban Dahen dengan nada datar. Sebenarnya, ia masih meragukan pekerjaan Petir.


Petir hanya tersenyum seraya mengangguk kecil sebagai responnya. Kendati kemudian, ia beringsut naik ke helinya yang sudah cacat. Membuka sebuah kotak kayu yang berukuran sedang. Dan terlihatlah sebuah gulungan kabel serta lampu lampu yang memang selalu ada sebagai cadangan persediaan bahan engineering helinya.


"Satu dua..." Petir menghitung cadangan lampu itu sampai dua puluh. Itu tandanya, lampu sudah lebih dari cukup. Entah kalau kabelnya? Terpenting ia harus terlebih dahulu menghidupkan turbin listriknya. Percuma ada lampu kalau filter turbin saja gagal.


"Apa perutmu nggak lapar?"


Petir terjungkit kaget. Pacarnya ini selalu saja datang dengan tiba-tiba. Vay sudah duduk di kursi kabin dengan tangan membawa sebuah bungkusan dari dedaunan. Gelas dari cawang bambu pun terlihat di mata.


"Makanlah dulu! Kalau kamu sakit, siapa yang akan godain Eneng, euumm?"


Petir tersenyum lebar mendapat godaan manis dari Vay. Menghargai perhatian Vay, ia pun mencari duduk nyaman. Lalu berkata, "Suapin dong!"


Satu suap, dua suap dan suap demi suap Petir langsung dapat dari jari jamari Vay tanpa ada sendok. Kedipan Petir nyaris bisa dihitung, pria itu terlalu terlena dengan pesona Vay yang sedari dulu sudah membuat hatinya bergetar. Ia nyaris tidak percaya saja, kalau Vay saat ini benar-benar memberinya perhatian penuh.


"Apa wajah ku ada cemongnya?" Vay salah tingkah mendapat tatapan intens itu.


Petir menggeleng. Lalu berkata tanpa mau melepas kuncian tatapannya di netra istimewa gadis Belanda Indo ini. "Aku ingin cepat pulang biar kita cepat menikah dan hidup tanpa jarak lagi." ujar Petir dengan nada penuh keseriusan. Kendati kemudian, punggung tangan kanan Vay ia kecup sebagai tanda terimakasihnya karena sudah menyuapinya.


Wajah Vay merona merah. Ia pun tersenyum manis. Lalu mendekatkan bibirnya itu ke arah wajah Petir.

__ADS_1


Asyik, dapat cium ini mah, batin Petir sembari menutup matanya pertanda pasrah.


Vay yang menyadari kelopak itu tertutup, tertahan sejenak di depan wajah Petir yang sudah sangat dekat. Alisnya mengernyit lalu tersenyum geli. Ia sekarang paham kalau Petir mengiranya akan menyosor, padahal niatnya tadi hanya mau berbisik, "Kerja lebih giat lagi supaya cepat selesai! "


Mata Petir terbuka dengan bibir cemberut. "Kirain mau dapat vitamin," dumelnya memerengut.


"Idih, ngambek kayak cewek. Jelek tauuu... "


"Cium pokoknya!" pinta Petir merajuk. Benar-benar seperti bocah.


Vay terdiam sembari menatap bibir Petir yang sudah monyong monyong. Dari pada melihat tingkah pacarnya memerengut, Vay pun mengalah. Bibir itu hampir saling bersentuhan. Akan tetapi...


"Ehem...!" Suara deheman Yama Lona sangat mengganggu Petir. Pria itu pun menoleh ke arah pintu dengan mata memicing sebal.


"Ganggu saja!" katanya lalu turun dari heli meninggalkan Vay yang memerah malu di depan orang tua Lona.


Vay garuk garuk kepala yang tidak gatal. Ia salah tingkah karena Yama Lona masih saja menatapnya seperti musuh.


Fyuhhh... Nafas Vay yang ia tahan akhirnya terhembus lega saat Yama Lona pergi tanpa ada satu kata pun.


Dan Petir pun kembali bekerja giat, membuat turbin ala kadarnya dari barang seadanya.


"Hari ini harus jadi!" Batin Petir. Tidak peduli pada kulitnya yang sudah kepanasan, tangannya itu begitu piawai menyambung kabel kabel.

__ADS_1


***


Hai readers...! Author punya karya baru nih yang berjudul, "SAAT IBU MERTUA IKUT CAMPUR." Semoga readers tersayang ada yang berkenan mampir. Terimakasih 🙏😘😘


__ADS_2