Menculik Calon Istri Orang

Menculik Calon Istri Orang
Bab 15#


__ADS_3

Setelah menempuh jalan yang berliku, Vay dan Petir pun sampai di pemukiman suku.


Lona yang baru keluar dari rumahnya dengan jalan tertatih tatih, terkejut melihat dua tamunya yang sudah ia bela mati matian untuk kabur, eh malah datang lagi.


"Aduuuh, kenapa kalian datang lagi kemari?" Lona menepuk kening sembari celingukan. Syukurlah, warga serta Yamanya tidak ada di penglihatan.


"Ayo masuk!" Gadis itu menghela lengan Vay. Masuk ke rumah dengan perasaan gusar. Takut dilihat warga lainnya.


"Yama mu kemana Lona?" Alih alih menjawab pertanyaan cemas Lona, Petir balik bertanya setelah menaruh pinggulnya di bale.


"Kenapa kulit kulitmu pada radang begini, Lona?" Vay pun ikut bertanya sembari memindai lengan, betis dan permukaan kulit Lona lainnya yang merah ke ungu unguan.


"Habis dicambuk karena membantu kalian kabur!" Lona menjawab dengan intonanis tidak bersahabat. Kurang apalagi coba ianya dalam berkorban. Tapi pasangan di depannya malah kembali lagi. Kan sia sia.


"Maaf ya, Lona. Tapi kami terpaksa kembali lagi kemari." Petir bertutur penuh rasa sesal akan nasib Lona yang begitu baik hati mengorbankan diri sampai rela mendapat luka luka yang cukup parah.


"Katakan niat kalian. Saya takut Yama pulang tiba-tiba."


"Kami memang menunggu Yamamu__"


"Oh, bagus kalian datang menyerahkan diri!"


Tiga pasang mata yang duduk di bale bambu tersebut, kompak menoleh ke asal suara yang diiringi derit pintu yang terdorong. Yama Lona sudah pulang dengan tampan dingin sembari melototi Vay dan Petir secara bergantian.


Wajah Lona mendadak tegang. Ia takut Vay dan Petir kena masalah. Ia nya saja bisa dicambuk yang notabenenya adalah darah dagingnya, apalagi dua orang asing ini yang sudah dicap pembawa sial.


Petir berdiri sembari membalas tatapan mematikan Yama Lona tanpa gentar. Perjuangan cintanya ke Vay boleh dicap pecundang karena membawa kabur calon orang di hari H pernikahan. Tapi untuk ketegasan dalam berperang atau debat kusir atau apalah namanya, ia akan menghadapi dengan macho.


"Kami kemari karena mau mematahkan tuduhan pembawa sial yang Yama lemparkan pada nama kami." Petir jelas tidak terima dirinya mendapat julukan hina tersebut.


Yama Lona masih diam. Tetapi Lona sebagai anak, tau sifat keras Yamanya, kalau orang tuanya itu menunggu kesempatan menyela telak.

__ADS_1


"Beri kesempatan pada saya untuk sedikit memajukan suku kalian." Seru Petir meminta.


" Apa kalian bisa menghidupkan orang mati?" tantang Yama dengan ejek.


"Apa Anda punya Tuhan?" balas Petir dengan intonasi kalem kalem menerima tantangan argumen Yama Lona. Ia juga melipat kedua tangannya di depan dada, pertanda ia menolak diintimidasi.


Yama Lona kembali terdiam. Membuat Petir tersenyum tipis. Sedang Vay dan Lona hanya bisa menjadi penonton. Vay tidak tau apa rencana Petir. Sepanjang perjalanan, Vay sudah bertanya tetapi kata Petir, lihat saja nanti.


"Hidup dan mati itu sudah ada yang ngatur. Anda saja sebagai ketua suku tidak bisa mencegah takdir, bukan?"


Gemeretak gigi gigi Yama Lona terdengar. Pertanda menahan emosinya yang sudah dihina oleh tamu tak diundang ini. Tapi Petir tidak sama sekali takut.


"Maaf dengan kelancangan saya barusan." Demi perdamaian dan kesopanannya, Petir menurunkan intonasinya sembari berdiri sopan sebagai tanda hormatnya akan pemilik suku. "Saya memang tidak bisa menghidupkan kembali orang mati, tetapi saya dan Vay bisa menghidupkan suasana malam di suku Anda."


"Maksudmu?" Bukan Yama saja yang penasaran, Lona dan Vay yang disebut namanya saja penasaran sekali.


Menghidupkan suasana malam seperti apa maksud kekasihnya ini? jangan bilang Petir akan membuat konser tiap malam, dan mengajak para warga suku bergoyang sayur kol dan goyang viral lainnya. Aduuh... Ide konyol, pikir Vay berdecak dalam diamnya.


"Tapi kita tidak punya alat pembangkit apapun, Petir! Ini mustahil!" Vay masuk ke dalam percakapan sembari bangkit dari bale dan beringsut berdiri di sebelah Petir.


"Aku tau, Vay. Tetapi kita punya helikopter!"


Vay meringis dalam hati, itu tandanya. Si pacar pintar pintar bodohnya ini akan membombardir mesin mesin helikopternya untuk mengambil rotor berikut generator, turbin dan mesin lainnya. Masalahnya, kalau transportasi itu dibongkar, bagaimana mereka akan keluar dari pulau? Berenang? Cih... Vay ingin sekali memukul kepala Petir. Dan alih alih memukul, Vay hanya berbisik sembari mencubit sengit pinggang Petir, "Lo mau pulang pakai apa kalau helikopter dirusak?"


Petir menahan aduan sakitnya. "Nggak dibongkar juga percuma, Vay. Di suku ini mana ada avtur."


"Benar juga." sahut Vay lalu mendengus pasrah.


"Setidaknya kita bisa membantu mereka meski hanya sedikit. Berkorban demi kebaikan tidak ada salahnya!"


"Kalian mau berbisik bisik terus atau mau membuktikan niat kalian?" Yama lama lama juga dongkol melihat tingkah sepasang tamu ini. "Tapi ingat! Kalau kalian membohongi kami, maka celakalah yang akan kalian dapatkan. Saya akan menguliti kulit putih kalian!"

__ADS_1


"Tapi kalau kami berhasil, itu tandanya kita berdamai dan bersihkan nama kami dari kata pembawa sial, bagaimana?" Petir dengan yakin menjulurkan tangannya untuk bersalaman.


Yama hanya menatap tangan tersebut tanpa niatan membalas.


"Yama, ini kesempatan kita mendapat tenaga listrik. Mau ya...!" Lona membujuk dengan kepala mengangguk.


"Yama..., ayo lah, warga akan lebih menjunjung nama mu kalau Petir dan Vay berhasil membuat penerang untuk kita semua. Dan secara tidak langsung, Vay dan Petir itu membantu nama Yama semakin tersanjung sebagai pemimpin yang tepat. Kesempatan ini hanya datang sekali loh!" Lona sampai mengguncang jenjang tangan orang tuanya itu.


" Lakukan sekarang! "


Petir dan Vay kompak bertos ria mendengar persetujuan Yama meski sedikit bernada ketus.


"Ayo kita ke pantai, Vay."


"Gendong lagi ya!" Vay sengaja sekali mengerjai punggung Petir.


"Ke bulan aja Abang jabanin, Sayang!"


Niat hati ingin menggoda, Vay jadi malu sendiri di depan Lona dan Yamanya itu. Petir ini nggak ada jaimnya sama sekali. Berkedip kedip mata genit di depan penglihatan dua pemilik rumah itu.


"Eheeem... Nanti saya akan nikahkan kalian setelah listrik yang kalian janjikan ada di depan mata. Memalukan sekali tingkah orang luar," semprot Yama ketus. Lalu melangkah terlebih dahulu meninggalkan Lona dan dua tamunya yang tersenyum senyum kompak.


"Kalian memang nekat!" Lona masih setia tersenyum dan geleng geleng kepala oleh tingkah tengil Petir sembari mengekori Yamanya.


"Asyik ini mah. Otw kawin kita Vay___"


Plakk...


"Lo memang gila...! Otak lo kawin melulu." Puas menggeplak bahu Petir, Vay pun beringsut pergi.


"Yailah... Gue uda kebelet pakai banget lagi. Ishh... Rasanya pasti___hahah..."Petir berujung tertawa geli sembari menggeleng kepalanya agar otak mesum nya pergi jauh jauh dulu.

__ADS_1


__ADS_2