Menculik Calon Istri Orang

Menculik Calon Istri Orang
Bab 48


__ADS_3

Hari hari berlalu. Minggu dan bulan ke empat pun menyapa waktu Vay dan Petir setelah mereka keluar dari rumah besar masing-masing.


Setelah menjalin kontrak kerjasama dengan Pak Ganis, hidup Petir yang di awali dari nol, alhamdulillah kini sudah berbuah manis. Satu unit apartemen cukup mewah sudah berhasil Petir belikan untuk Vay. Uang ganti rugi yang Nata pinta tentang biaya pernikahan Vay dan Abian yang Petir gagalkan pun sudah tersedia untuk Petir berikan kepada Ayah mertuanya.


Sepekan ini, mereka sudah tidak tinggal di rumah kontrakan, di mana tempat itu menjadi saksi bisu perjalanan rumah tangga mereka yang penuh lika liku. Dan pengalaman hidup susah mereka akan terkenang sempurna di dalam hati masing masing.


"Suatu saat nanti kalau ada pertengkaran hebat di antara kita, tolong ingatkan aku, Vay. Bahwasanya, kita pernah berjuang mati matian untuk bisa berdiri bangga seperti saat ini. Dan semoga, saat mengingat kenangan perjuangan yang kita lalui, itu bisa melunturkan egoisme masing-masing. Selalulah berada di sisi aku, Sayang." Vay jadi terngiang akan kata kata penuh kebijakan suaminya yang sudah terlontar saat pertama kali memasuki apartemen baru mereka.


"Bagaimana, sudah siap, Sayang?" tanya Petir membuyarkan lamunannya. Saat ini, mereka ada di depan gerbang rumah besar keluarga Vay.


Dengan wajah gugup, Vay menjawab, "Siap tidak siap, harus siap dan ku harap Ayah sudah mau menerima kita."


Petir mengangguk samar sebagai jawabannya. Jujur, ia pun nervous dalam diamnya


Sejurus meraih tangan Vay untuk digenggamnya.


"Ayo!" seru Petir. Setelahnya menggedor pelan gerbang dan langsung mendapat sambutan takzim dari penjaga itu karena memang Nona mudanya lah yang datang.


Layaknya gendang, jantung Vay di dalam sana bertabu tabu yang sekarang ini mereka sudah di depan pintu rumah utama dengan bel rumah sudah Petir tekan. Kedatangannya, memang tidak dikonfirmasi terlebih dahulu. Oleh sebab itu, Vay cemas kalau Ayahnya itu berujung mengusir mereka.


"Rileks, Vay. Kita hadapi bersama-sama." Petir kian mengeratkan jemari yang saling bertaut di bawa sana.


Ceklek... Pintu pun terbuka.


"Non Vay, alhamdulilah." Bi Tina, ARTnya itu menyambutnya dengan mata berkaca kaca haru. "Bibi merindukanmu, Non," sambungnya yang sebenarnya ingin memeluk Vay. Namun ia mengingat tangannya itu bau bawang.


Vay tersenyum. "Sama, Bi. Kalau rindu, sini peluk Vay."


ART rasa keluarganya itu langsung berhambur memeluknya setelah mendapat tawaran yang ia inginkan. Vay berharap, sambutan seluruh keluarganya pun antusias seperti Bi Tina terkhusus pada Ayahnya.


"Apa semuanya ada, Bi?" tanya Vay setelah pelukan rindu terlepas.


"Ada, Non. Ta-tapi, Pak Nata kurang enak badan __"

__ADS_1


Mendengar hal tersebut, Vay langsung saja menerobos masuk. Petir otomatis tertarik karena genggaman mereka masih bertaut erat. Ekspresi wajah istrinya ini sangat mencemaskan keadaan ayahnya yang sedang sakit katanya.


"Vay..." Ibell, Bundanya berseru kaget yang kebetulan Oma dan Opanya juga berada di ruang keluarga sedang bersantai bersama. Tunggu dulu, katanya Ayahnya sedang sakit, kenapa orang orang rumah terkesan santai.


"Bunda sangat merindukanmu, Nak." Air mata Ibell berderai di dalam pelukan Vay. Selama anaknya meninggalkan rumah, ia tidak pernah diijinkan oleh suaminya untuk menemui Vay. Dan sebagai seorang Ibu, itu jelas menyiksanya. Namun apa hendak dikata, demi kesuksesan perjuangan anak mantunya yang berharap keduanya itu dengan cepat mendapat pengakuan sang suami, Ibell akhirnya menahan hasrat untuk tidak menemui anaknya di tengah-tengah perjuangan keduanya. Ibell diancam telak oleh Nata dengan dalih, hukuman Petir akan ia tambah kalau ketahuan membantu atau menemui.


Selesai melepas rindu satu sama lainnya, Petir dan Vay tanpa janjian kompak menanyakan keberadaan Nata.


"Ayah kalian itu sok dramatis. Semenjak kalian meninggalkan rumah, dia jarang berkumpul di ruang keluarga. Makan malam bersama pun bisa dihitung jari, sarapan apalagi." Yola bersungut sungut kesal mengingat kelakuan Nata. Mengusir cucunya, tetapi anaknya itu kelimpungan sendiri meski memang tidak pernah terucap terang terangan.


"Hooh, ayahmu gengsi, Vay." Kemal menimpali dengan senyum tipis terukir di wajah yang sudah keriput.


"Boleh kami bertemu?" tanya Petir.


"Tentu saja, Tir. Kalian temui saja di ruangan kerjanya." Ibell yang menyahut.


Vay dan Petir saling pandang, sejurus mengangguk kompak pertanda siap menemui orang yang selama ini menentang hubungan mereka.


Tok tok tok...


Petir menoleh ke Vay setelah mendapat respon kurang enak di dengernya dari balik ruangan. Nata ketus sekali. Tetapi, Vay tidak menghiraukan. Ia membuka pintu itu. Dan terlihatlah ayahnya yang sedang berkutat dengan catur seorang diri. Itukah pekerjaan kantor? Oh, jelas Vay tau kebiasaan Ayahnya yang kalau stres, beliau sering menenangkan dirinya dengan cara bermain catur. Kata ayahnya dulu, bermain catur itu bisa memberikan efek ketenangan.


" Kamu itu budek sekali, Ibell. Abang bilang __ Va-Vay, Petir?" Bola mata Nata membulat kaget setelah atensinya teralihkan ke arah pintu. Ia kira, istrinyalah yang mengganggu dirinya.


"A-ayah, Vay rindu," ungkap Vay apa adanya dan segera membuang sisi perasaan kesalnya karena ayahnya beberapa bulan lalu tega mengusirnya. Kalau ayahnya gengsi mengakui duluan, maka sebagia seorang anak, dirinya lah yang mengalah mengungkapkan segala isi hatinya. Toh, apa yang akan ia dapat kalau ego dan gengsi dijunjung tinggi? Tidak ada!


Bagai hembusan hangat menyapa wajah Nata mendengar kalimat sederhana Vay tetapi sangat mengena di hatinya yang sepi. Akhirnya, hari yang ia tunggu tunggu telah tiba.


"Ke-kemari lah," gagap Nata dengan mata berbinar kerinduaan ada juga tatapan nelangsa berbaur jadi satu. Ia berdiri dan segera merentangkan kedua tangannya, kode ia menerima baik anaknya kembali.


Sejenak Vay mendelik ke arah Petir. Suaminya itu mengangguk sembari tersenyum tipis.


Sejurus kemudian, Vay sudah berada di dalam dekapan Nata.

__ADS_1


Tidak ada percakapan, sepasang ayah dan anak itu mendeskripsikan perasaan masing masing dalam keheningan. Hanya pelukan penuh kerinduan yang mengerat.


Sampai akhirnya, Nata memecahkan kecanggunan dengan cara berbisik ke Vay, "Maafkan Ayah, Nak. Ayah mengaku salah." Sebenarnya, saat Petir berhasil membayar kerugian guci itu, Nata sudah merasa puas dengan perjuangan Petir, namun gengsi dan egonya yang tinggi, mengurungkan niatnya untuk menghampiri terlebih dahulu anak menantunya itu.


Vay mengangguk pelan di dalam pelukan yang sepertinya ayahnya ini tidak ada niatan mengurainya.


"Pasti kamu sangat membenci ayah."


"Tidak ayah!" Sanggah Vay cepat. "Meskipun awalnya Vay kecewa sama sikap Ayah, rasa sayangku tetap paling juara untuk ayah."


Tak mau jadi pengganggu sepasang ayah dan anak itu untuk melepaskan segala unek unek perasaan masing-masing, Petir berbalik ke arah pintu yang masih terbuka lebar karena ingin memberi ruang untuk keduanya. Akan tetapi, suara tegas ayah mertuanya menghentikan langkahnya.


"Kamu hanya boleh meninggalkan ruangan kerjaku, kalau niatmu keluar mau menyiapkan pernikahan dan resepsi mewah."


Lantas saja Petir berbalik cepat, sampai kakinya tepat di depan Nata yang sudah melepaskan dekapannya di tubuh istrinya.


"Itu tandanya, A-ayah sudah me-menerima ku jadi menantumu?" Petir sampai tergagap. Apalagi ia memberanikan diri memanggil Nata sebagai 'Ayah' bukan Om layaknya sedia kala.


"Eum..." Sahut Nata.


Petir tersenyum, lalu melangkah lebih maju lagi yang berniat memeluk pria yang masih saja menampilkan sikap malu malu kucing menerimanya. Namun ujung ujungnya, Vay lah yang peluk secara refelks karena istrinya itu tiba-tiba terhuyung, pingsan. Hampir saja badan itu mencium lantai.


"Vay...! " Tentu saja dua pria berbeda umur itu panik. Ibell, dan kedua mertuanya yang sedari awal mengintip di balik tembok, kompak juga berhambur masuk dengan tampang cemas.


***


"Kalian tidak perlu cemas," ucap seorang Dokter wanita yang sengaja didatangkan oleh Nata untuk memeriksa Vay yang tiba-tiba pingsan.


Langit - Senja selaku orang tua Petir pun sudah ada di rumah Nata.


"Ibu Vay pingsan dan lemah tiba-tiba hanya karena efek sedang hamil. Setelah sadar nanti dan kalau kalian mau memastikan kepastian diagnosa saya, Pak Petir boleh membawanya ke Dokter spesialis kandungan," sambung Dokter itu mampu mencengangkan ekspresi dua keluarga tersebut.


"Hamil?" lirih Nata mengulang. "Itu tandanya, Petir melanggar satu persyaratan," batinnya. Lalu segera mendelik ke Petir yang sudah ketar ketir akan mendapat masalah lagi atau kata selamat dari Nata? Hanya mertua lelaki ini yang belum merespon ekspresi bahagia, berbeda dengan mertua perempuan dan Opa Oma Vay serta kedua orang tuanya sendiri yang saling berpelukan girang karena akan mendapat cucu.

__ADS_1


"Ayo, tunjukkan ekspresi bahagiamu, Please..." Petir sampai berkomat kamit dalam hati sembari membalas takut takut tatapan mata Nata yang nyaris tidak kedapatan berkedip.


__ADS_2