Menculik Calon Istri Orang

Menculik Calon Istri Orang
Bab 24


__ADS_3

"Petir sekarat, Vay. Dia mau mati. Lo harus datang ke rumah sakit hari ini juga kalau lo nggak mau menyesal."


Kabar dari Purnama tersebut selalu terngiang memenuhi otak Vay. Dari siang sampai malam ini, ia sudah berusaha memikirkan cara untuk kabur dari sangkar emasnya. Namun ia belum juga mendapat kesempatan.


Semakin larut, bukannya penjaga di bawa sana itu semakin capek berdiri atau mondar mandir, malahan semangat mereka bertambah dua kali lipat karena memang Ayahnya menyarankan memakai sistem shifting. Tidak tanggung tanggung Ayahnya itu sampai memakai tiga shift yang sudah seperti buru pabrik saja.


Vay mendengus kesal melihatnya. Ia berkacak pinggang yang berdiri di balkon saat ini. Mata kucingnya itu terus mencari cela ke sudut sudut bangunan misi kaburnya khusus untuk malam ini.


Sumpah, ia sangat merindukan Petir. Apakah kabar dari Purnama itu hanya bualan saja, atau benar benar sekarat?


"Lo nggak boleh mati dulu, Tir. Lo kan belum bela durenin gue." Dalam otak kalutnya, Vay masih sempat sempatnya bergumam mesum.


"Apa gue ngaku hamil aja kali ya. Kayak di sinetron itu. Mau nggak mau kan Ayah ngerestuin." Vay tersenyum licik akan hasil pemikiran konyolnya. Namun, senyumnya itu luntur seketika, saat ia menyadari idenya itu sangatlah buruk. Ayahnya bisa saja menggantung lehernya bersama Petir, jikalau mereka berdua semakin melempari kotoran tak kasat mata ke wajah keluarga mereka.


"Ganti ide, Vay!" monolognya sembari telunjuknya itu mengetuk-ketuk pelipisnya menggunakan telunjuknya untuk berpikir keras.


"Kawin lari!" idenya heboh sembari menjentik ujung jarinya. "Yaa... Kawin lari lebih baik dari pada berpura-pura hamil," finalnya memutuskan. "Aku harus berusaha keluar dulu dari sini sebelum lima hari itu tiba. Bertemu Petir untuk membicarakan ini semua."


Lima hari? Waktu itu adalah saat terakhir Vay berada di Indonesia, Ayah dan Opa Eldathnya sangat ngotot dirinya itu pindah ke Belanda. Bersyukurlah sedikit dirinya karena cuaca buruk untuk penerbangan ke Belanda katanya sedang berlangsung sehingga penerbangan dibatalkan yang seharusnya besok.


Dan tidak mau membuang buang waktu. Vay pun bersiap siap untuk kabur. Ia hanya perlu menunggu keluarganya itu pada tidur, lalu rencana kaburnya akan segera dimulai.


Vay terus membuka satu persatu laci di dalam kamarnya itu, ia mencari obat tidur yang tersimpan di botol kecil yang pernah ia taruh, tetapi sudah lumayan lama. Maksud hati, obat tersebut akan ia masukan ke kopi kopi para bodyguardnya.

__ADS_1


"Di mana ya? Apa sudah ada yang membuangnya?"


Lama Vay mengobrak abrik seisi kamarnya, tetapi ia tak kunjung mendapatkan apa yang ia cari. Merasa buang buang waktu, Vay pun memutuskan untuk keluar kamar.


Suasana hening di dalam rumahnya itu, membuat Vay terpaksa melepaskan alas kakinya.


Ia menuruni anak tangga dan selamat sampai masuk ke dapur. Vay tidak berani mengambil jalan pintu utama karena sebagian rumahnya itu di lengkapi CCTV yang langsung terhubung ke laptop kerja ayahnya.


"Apa kamu mau maling di rumah sendiri, Vay?"


Astagfirullah ... Jantung Vay seperti mau lompat dari dadanya karena suara Opa Kemalnya ini sangat mengagetkannya.


Tap... Lampu dapur yang tadinya remang pun, kini menyala terang menderang. Ternyata, bukan Opa Kemalnya saja yang ada di meja makan itu, ada Oma Yolanya yang sedang duduk nge-teh malam malam berduaan dengan suaminya itu.


"Kabur saja, Sayang. Dulu Oma juga jago dan tiap malam kabur ngetrek, dari pengawasan Kakak Omamu yang tak lain Opa Eldath mu. Kamu tau kan kejamnya itu sangat parah. Tetapi, kabur pun ada rumusnya loh, Vay."


Vay mendengus malas sembari menaruh dagunya, tertumpu di meja makan. Omanya ini sudah tua tetapi masih saja suka bermain kata. "Vay serius Oma, masa sudah seperti pelajaran MTK atau fisika yang ada rumusnya."


"Oma juga serius, Vay. Dan rumusnya itu adalah sebuah sanksi. Kamu kabur, terus balik tanpa ketahuan berarti kamu sedang hoki. Tetapi kalau sebaliknya, maka rumusnya itu adalah, diomelin atau berujung dicambuk seperti Oma dulu atau lebih parah lagi dari itu. Bagaimana, kamu bisa pergi tanpa ketahuan ayah mu?" tutur panjang kali lebar Omanya.


"Kalau Opa sama Oma bekerja sama, Vay tidak akan ketahuan. Please, Oma - Opa, beri Vay sekali saja bantuan mu?" mohon Vay sembari menatap penuh harap Opa dan Omanya yang malah berujung saling pandang.


"Dengar ya, Vay. Sebelum kamu menjadi orang tua, kamu tidak akan pernah mengerti yang namanya dibuat marah karena ulah anak badungnya, atau hal sebagainya. Setiap orang tua itu, cara menyayangi dan mendidiknya berbeda-beda, Neng. Kamu pasti tau, Ayahmu memang lagi murka, tetapi dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada sebuah kasih sayang yang melimpah ruah untukmu. Saran Opa, janganlah bertindak gegabah untuk saat ini, Sayang. Kalau itu terjadi, Ayahmu tidak akan segan-segan lagi menjatuhkan seluruh bisnis keluarga Petir. Kamu mau itu terjadi? "

__ADS_1


Gagal sudah rencana kawin larinya. Vay jelas menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak mau cintanya dan cinta Petir bersatu tetapi mengorbankan banyak orang.


" Jadi, Vay harus apa, Opa? Bunuh diri saja? Mana racun serangganya? "


Tuk...


Lutut Vay berdenyut, karena ucapan putus asanya mendapat hadiah tendangan Omanya di bawa meja makan itu.


"Sakit, Oma!" adunya dengan bibir cemberut.


"Makanya, jangan berucap ngasal. Oma tidak suka! Dan kamu tenang saja, Vay. Oma dan Opa memang sudah memikirkan cara agar kamu tidak jadi ke Belanda dan insyaallah akan bersatu sama Petir kalau dia memang jodohmu."


Secerca semangat tumbuh lagi di jiwa Vay. Kalau Oma Wild dan Opa si mantan cassanova ini sudah bekerja sama, maka keberhasilan adalah ujungnya.


" Apa tuh rencananya, Oma?" tanya Vay antusias.


" Kepo!" Yola menjawab ala ala anak muda sembari berdiri dari kursinya.


" Loh loh, Opa dan Oma mau kemana? Kita belum selesai."


"Opa ngantuk. Oh ya, kalau mau kabur, ingat jalan pulang agar rencana Oma dan Opa tidak berantakan ya. Selamat malam!" Kemal menarik ujung bangir cucunya sebelum menyusul Yola yang sudah berjalan di depan.


"Ck... Sudah tua tapi sukanya bikin penasaran." Tinggallah Vay di dapur itu, menimbang nimbang keputusannya, kabur menemui Petir atau tetap di rumah?

__ADS_1


__ADS_2