Menculik Calon Istri Orang

Menculik Calon Istri Orang
Bab 47


__ADS_3

Siang ini, Petir libur lagi dari pekerjaan kuli bangunan di proyek. Bukan karena mau bertemu Pak Ganis atau klien lainnya, melainkan saat ini matanya itu menatap lurus lurus pagar rumahnya, ralat. Maksudnya, rumah orang tuanya.


Petir balik ke rumah tersebut, karena ingin meminta tolong pada orang tuanya.


Ludah yang ia buang hari itu, akan ia jilat kembali hari ini. Ya, begitulah peribahasa untuknya. Demi kebebasan Vay, Petir rela dicap pecundang sejati oleh orang tua Vay karena akan melanggar perjanjian. Ia terpaksa. Tidak ada jalan lain untuknya selain meminjam uang dari Mama atau Papanya. Petir tidak tega, kalau esok hari akan ada polisi yang datang untuk menangkap istrinya. Mengumpulkan uang tujuh puluh juta dalam tiga hari itu sangatlah mustahil.


Derrrtt...


Tangan yang hampir memencet bel gerbang tinggi itu, terhenti saat handphone yang ada di saku celananya bergetar. Tertulis di sana nama 'Pak Ganis.'


Alis itu terangkat satu menatap lamat lamat nama kliennya. Ia takutnya, Pak Ganis menghubunginya hanya akan memberi penolakan tentang kerja sama yang memang belum terjalin kontrak.


"Semoga ini hanya paranoid ku saja."


Sebelum panggilan mati, Petir segera menjawabnya sembari membelakingi pagar rumahnya.


"Halo, selamat siang, Pak Ganis."


Terdengar Pak Ganis di seberang sana berdehem kecil sebelum menyahutinya.


"Selamat siang juga, Pak Petir. To the point aja ya..."


Petir memegang dadanya, refleks. Ia takut jantungan kalau kalau mertuanya pun kembali memblaclist namanya di depan Pak Ganis. Hancurlah harapannya.


"Hari ini, saya ingin tanda tangan kontrak kerja dengan Pak Petir. Percobaan Application Menu yang kemarin terpasang di restoran pusat, mendapat keantusiasan dari para pelanggan, Pak. Rencananya, seluruh titik resto dan cafe cafe saya yang tersebar di beberapa kota akan menggunakan sistem Anda."


Yes... Petir bersorak ria tanpa suara. Ia berlompat lompat bahagia di depan gerbang rumah orang tuanya. Akhirnya, raja kuliner yakni Pak Ganis memberi jalan cerah baginya. Alhamdulilah... Tak lupa pun ia mengucap syukur berkali kali.


" Halo, Pak Petir. Apa Anda masih di sana?"


"Hah...? Ah, i-iya Pak. Saya mendengarnya. Jadi, kita bertemu sekarang atau kapan, Pak?"


"Sekarang aja. Datanglah ke restoran pusat."


"Tentu, Pak."

__ADS_1


Tut...


Panggilan berakhir. Kali ini, ia bersorak dengan suara melengking. Pak satpam yang menjaga rumahnya di seberang gerbang sampai mengintip keluar.


"Eh, Den Petir." Satpam itu segera membuka gerbang. Namun Petir yang bahagia, sudah berlari kejalan komplek. Ia mengurungkan niatnya perihal meminjam uang ke orang tuanya.


Tanpa Petir sadari, dari kejauhan ia telah di ikuti atau dimatai matai atas suruhan Nata.


***


Selesai menyelesaikan pekerjaannya dengan Pak Ganis, Petir segera pulang ke kontrakan. Vay yang kebetulan lagi menyapu teras kecil rumah sewa itu, dibuat kaget. Suaminya ini main peluk, lanjut cium pipi dan langsung meraup tubuhnya masuk ke dalam rumah. Ibu Juleha yang melihat dari ke jauhan, hanya bisa geleng geleng sembari tersenyum lucu akan kelakuan pasangan muda itu.


"Apa yang terjadi, eum?" tanya Vay dibuat bingung.


Wajah Petir masih tersenyum-senyum bahagia sembari menyentuh kedua sisi pinggang Vay yang barusan ia turukan dari gendongannya. "Coba tebak, aku bahagia karena apa?"


"Dapat dompet di jalan, mungkin." Vay menyahut asal asalan.


Petir menggeleng. "Lebih dari itu!"


"Lihat ya, Abang mau sulap."


Vay hanya menatap datar jari jemari suaminya yang diputar pelan bak gaya pesulap.


"Prok, prok, prok, jadi apa ya?" Petir tersenyum geli ketika slogan pesulap Pak Tarno ia tiru.


"Mungkin jadi burung pipit," goda Vay sembari melongokkan kepalanya ke arah belakang tubuh suaminya. Tangan suaminya itu sudah bersembunyi di sana.


"Hihihi, penasaran ya?"


"Ish, nyebelin deh. Cepat katakan?"


"Idih, ngambek. Aku makan nih." Dan cup... Satu kecupan tipis jatuh ke bibir Vay. Bola mata istrinya hanya mendelik lebar padanya. "Hehehe... Dan ini dia, ambillah."


"KTP ku?"

__ADS_1


Seperkian detik, Vay hanya manatap datar dan tak ada minat pada KTPnya itu. Apa yang istimewa? batinnya belum sadar apapun. Namun setelah bergumam bodoh, Vay menjerit hebat sembari berlomapatan ke tubuh Petir bak anak kecil digendong oleh Bapak nya.


Nyaris saja Petir terhuyung ke belakang karena pergerakan Vay yang tidak terbaca. Namun otot kakinya segera bertahan. Bisa benjollah kepalanya kalau lantai keras mencium mesra.


"Itu tandanya, kamu sudah membayar kerugian itu?" tanya Vay memastikan. Ia masih digendong seperti kuala pada induknya.


"Yes, Babe."


"Arrghh..." Vay menjerit bahagia lagi. Petir sampai budek dibuatnya. "Kamu memang terbaik. Tapi uangnya dari mana?"


Dan cerita pun mengalir lancar tentang Pak Ganis yang memberinya keuntungan banyak.


"Alhamdulillah..." ucap syukur Vay. Ia tersenyum manis sembari mengelus pipi suaminya. "Turunin, aku akan siapkan makan untukmu."


"Jangan repot repot, aku hanya mau makan kamu sekarang." bisik Petir nakal.


Vay yang juga punya jiwa jiwa mesum, hanya mampu menggangguk setuju permintaan Petir.


Dan, sore itu kembali lagi terdengar suara manja membahana. Halu sendiri aja ya tentang gaya percintaan mereka. Hihihi...


Dan di sisi Nata, Ayah Vay sekarang ini sedang duduk datar di kebesarannya sembari mendengarkan laporan dari mata mata yang selama ini mengintili keseharian aktivitas Petir di luar sana.


"Apa laporan mu ini tidak ada kekeliruhan? Mana tau menantu saya bisa membayar ganti rugi guci dengan memakai uang orang tuanya."


"Tentu laporan saya valid, Pak Nata. Saya punya bukti, kalau Pak Petir seharian ini dan hari hari kemarin pun, beliau tidak pernah sama sekali menemui orang tuanya, adiknya dan bakhan sahabat sabatnya. Tadi siang pun, Pak Petir mengurungkan niatnya masuk ke kediaman orang tuanya. Kalau Anda kurang yakin dengan laporanku, ini ada video tepat di luar gerbang rumah Pak Langit dan video lainnya. "


Nata menerima dan segera menonton video tersebut. "Siapa yang meneleponnya sampai kegirangan seperti itu?" Nata berulang kali memutar durasi dimana Petir bersorak yes dan berlompat lompat girang.


Dan mata mata pun kembali memutar video Petir yang bersama Pak Ganis. Di mana dua pria itu sedang membicarakan tentang pekerjaan.


"Terimakasih atas kerja kerasmu. Sisa gajimu akan masuk ke nomer rekeningmu."


"Itu tandanya, tugas saya mengintai Pak Petir sudah usai, Pak?"


Nata hanya mengangguk mantap. Pembuktian yang di pinta dari Petir sudah lebih dari cukup baginya. Dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia sudah mengakui kegigihan menantunya yang bisa bertanggung jawab manakala ... amit amit suatu saat nanti mereka semuanya berada di roda kehidupan paling bawah, maka ia tidaklah terlalu cemas pada Vay yang semoga saja menantunya itu selalu memprioritaskan anak satu satunya.

__ADS_1


__ADS_2