
" Lo pura pura sekarat?" Vay mendengus kesal. Sialan amat, ia ditipu. "Argh, lo jahat amat sih! Tega banget ngebohongin gue!" Vay memukul mukul kesal tubuh Petir. Kepala, dada, lengan dan lainnya yang bisa tangannya itu gapai untuk dipukulnya. Sesekali cairan bening hidungnya ia sedot. "Gue benci sikap jahil lo. Lo uda bikin gue nangis bengek. Gue mau lo mati tapi gue juga nggak tega lihatnya!" omel mencecar.
Petir membiarkannya, tetapi lama lama seluruh tubuhnya juga sakit. Akan hal itu, ia menahan tangan Vay. Lalu bertanya apa yang sudah diujung lidahnya, "Kapan Vivian ngaku ngaku hamil anak gue, hah? Jangankan tidur dengannya, colek colek aja gue nggak nafs*!" Petir menggertakkan giginya. Andai Vivian yang tak lain adalah anak Sadewa-omnya dari keluarga besar Papanya itu ada di sampingnya, maka uda ia pites pites seperti kutu.
Iseng banget jadi kuman di hidup orang.
"Itu fitnah, Vay. Sumpah demi apapun. Bahkan, gue rela disambar geledek. Gue nggak pernah buang sembarangan benih gue. Sayang banget tau nggak. Kecuali sama lo, gue baru mau!" Petir kembali berkata tatkala Vay hanya mematung. Demi mendapat kepercayaan Vay, tangannya sampai ia angkat ke langit. Mencari hukuman alam yang tidak ada tanda tanda. Pokoknya, Ia tidak ridho mendapat tuduhan keji itu.
Bibir Vay cemberut bete sembari menatap mata berkaca-kaca pria yang dicintainya namun dibencinya juga.
"Gue ketemu sama Vivian di malam kepergian lo ke Inggris. Di mana saat itu, gue mau nyusul lo di bandara agar lo nggak pergi ninggalin gue. Bahkan, bukti garis dua, foto foto kalian saat hangout bersama dan parahnya lagi foto lo di hotel, semuanya Vivian berikan untuk meyakinkan gue. Kartu ATM atas nama lo pun ada yang katanya biaya pengguguran hasil maksiat kalian. Dan karena otak dan hati gue sudah lo hancurkan, gue sampai membuat perjanjian kontrak nikah sama Abian! Puas lo!"
Semua unek unek Vay sudah dimuntahkan untuk Petir dengar. Kendati kemudian, ia beranjak dari tanah itu.
" Vay... Ck, lo nggak mau dengar penjelasan gue? Lo mau ke mana?"
__ADS_1
Petir menyusul. Menarik tangan Vay. Lalu menyudutkan punggung gadis itu ke batang pohon besar. Tak peduli wajah merah Vay antara habis menangis dan kesal padanya.
"Gue difitnah, Vay. Vivian bohong! Fine, gue memang sering hangout bersamanya, tapi kami nggak berdua! Rame-rame loh!"
Vay diam saja, tapi dalam hatinya membenarkan sesuai di foto foto itu ada beberapa orang yang ia kenal termasuk Lautan juga ada. Vivian dan Petir hanya berfoto dengan tangan cewek itu yang bergelayut manja di tubuh Petir.
"Di hotel bagaimana, eum?" Vay menyunggingkan sudut bibirnya ejek. Ia ingin mendengar pembelaan Petir lagi. "Bisa saja kan lo mencari kesempatan di kesibukan teman-teman lo!" katanya curiga.
Petir berdecak kesal. Otak Vay memang kudu dibuka menurutnya. "Gue kadang kadang gemas sama otak lo itu! Entah pintar atau bodoh!"
"Kurang ajar banget sih!" Vay mengelus dahinya yang ditoyor oleh Petir sembari dikatai bodoh. Matanya melotot pertanda kesal. Tapi si tengil ini malah tersenyum miring padanya.
"Iya... Lo bodoh! Lo nggak terima dikatai bodoh, hemm? Lo bodoh Karena main percaya saja sama foto. Sekarang gue tanya, apakah pose yang diberikan Vivian itu, gue sedang numpakin tubuhnya, hah? Atau setidaknya gue dan dia lagi bugi* bersama?" Petir dongkol sekali pada gadis yang katanya lulusan Belanda ini. Main percaya saja sama orang sepihak.
Vay kehilangan kata katanya sembari membuang muka ke samping untuk menghindari mata buas Petir yang terlihat menahan kesal padanya. Ini di sini, ia loh yang ditipu tipu tadi tetapi kenapa pula ia yang di marahin. Aneh tetapi itulah Petir, sesuka hati dan semaunya bertindak yang menurutnya bisa memuaskan hatinya sendiri.
__ADS_1
"Dengerin gue baik baik!" Petir menangkup pipi itu. Vay hanya menurut dengan bibir cemberut. Tatapan mereka saling mengunci.
"Vivian itu terobsesi ke aku. Tes kehamilan bisa saja dibeli, atau apapun itu. Dan tentang ATM gue, sumpah demi apapun gue nggak tau kenapa bisa ada di dia." Petir juga bingung perihal kartu berharga bisa di tangan wanita yang diam diam menjadi duri dalam daging." Aku mohon percayalah, Vay. Gunakan logikamu." bujuknya dengan sangat. Kali ini, suara Petir halus halus membujuk. Lo lo guenya pun jadi aku kamu.
Vay masih diam tetapi matanya itu terus menatap lamat lamat bola mata Petir.
"Kamu mau kan, menata asa bersamaku?" Kali ini, Petir tidak akan mengemis lagi jikalau Vay menolaknya kembali. Ia terlalu lama menjadi pengemis cinta. Sakit coeg. Seperti harga dirinya itu sudah habis dimakan kata perjuangan.
"Vay, jawab aku!"
"Gue nggak mau...!"
Petir langsung menarik tangannya dari kedua pipi Vay sembari membuang nafas kecewa. Matanya berkaca-kaca sedih karena ditolak lagi dan lagi. Ia juga segera berbalik dan memberi punggungnya ke Vay.
"Nggak mau nolak maksud gue!" sambung Vay sembari tersenyum miring ke Petir yang langsung berbalik cepat bak angin. Memangnya Petir doang yang bisa jahil. Huu... Ia juga bisa meski cuma kadarnya 0,01%.
__ADS_1