Menculik Calon Istri Orang

Menculik Calon Istri Orang
Bab 7# Dikira Orang Jahat


__ADS_3

Vay sudah merasa jumawa. Sistem sudah On semua dan siap terbang.


Tapi oh tapi, kenapa rotor-nya tiba tiba mati?


"Apa yang terjadi?" kata Vay kebingungan sembari mencari cari akar masalahnya. Salah sistem kah? Sedang Petir sudah semakin dekat.


"Aaaaarrggh... Sialan! Avtur-nya habis!" Vay mengeprak tombol merah yang berkedip kedip sebagai pemberitahuan bahan bakar habis.


Dengan kesal, ia cepat cepat melompat keluar dari helikopter. Bertepatan Petir sampai di dekatnya dengan nafas ngos - ngosan. Vay yang kesal dan mati kutu, hanya bisa melampiaskan amarahnya ke Petir dengan cara mendorong Petir ke pasir.


Pria itu terjatuh karena memang pergerakan Vay yang mengejutkan.


"Gue benci lo! Gue juga benci helikopter lo yang miskin avtur." Maki Vay. Ia mencak mencak di atas pasir. Mau nginjak injak perut Petir juga nggak tega. Aaarggh... Alhasil ia mencakar cakar pasir saja. Dan sesekali melempari dada polos Petir dengan pasir.


Petir menahan tawanya. Antara lucu dengan tingkah Vay yang tergugu gugu isak tanpa ada air mata.


"Udah lah, Neng, ini itu pertanda kita memang jodoh." kata Petir santai dan itu memang maunya.


Dalam hati, Petir berucap syukur kehabisan bahan bakar. Dengan begitu, Ia bisa menahan Vay lebih lama lagi bersamanya.


"Jodoh loh itu pantasnya kuda laut."


"Kecil dong?"


"Huawaa... Pokoknya gue benci lo, Petir!"


"Ntar juga bucin!" Mata Petir berkedip lucu. Sedang Vay memicing sebal dengan bibir cemberut akut. Ngegemesin di mata Petir.


"Apa lo lihat lihat?" ketus Vay galak. Ia hendak mencolok mata Petir. Namun tertarik kembali karena Petir begitu pasrah mau di colok.


Petir tersenyum menggoda Vay, lalu merebahkan pasrah tubuhnya ke pasir. "Kita kawin eh nikah yuk, Neng! Bikin rumah dan anak di sini!" goda Petir tapi berharap Vay berkata, "Ayo, Sayang!" Indahnya berkhayal dulu. Manatau kesampaian.


Vay terlalu benci mendengar itu. Ia lebih memilih naik ke heli dan merebahkan tubuhnya yang lelah seraya merenungi nasib sialnya yang terdampar bersama Pria yang selalu ia hindari selama ini.


***

__ADS_1


Aku takkan pernah berhenti


Mencintaimu sampai aku mati


Aku akan selalu setia


Menemanimu setiap waktu


Samar samar, Vay mendengar senandung Petir. Lagu dari Pasto yang berjudul Sayang tersebut, memang lagu favorit pria itu. Vay tau karena memang mereka dulu sering hangout bersama sama dengan sahabat lainnya.


Tak pernah terpikir olehku


Untuk menghianati cintamu


Engkau satu-satunya wanita


Yang selalu aku rindu


Dengan terpaksa, Vay membuka matanya saat senandung Petir semakin merdu di dengarnya. Ia memang ketiduran di kabin helikopter, sejak... Entah? Intinya, laut di depan sana sedang berwarna jingga. Sayang sekali untuk dilewatkan pemandangan laut yang diterpa senja di sore hari itu.


Baru juga kakinya itu menginjak pasir, hidung nya sudah digoda oleh asap api yang didominasi ikan yang sedang dipanggang, membuat usus ususnya melilit minta diberi nutrisi.


Vay menoleh ke arah punggung Petir. Pria itu masih bernyanyi nyanyi, sembari menghadap ke arah bara api yang sedang membakar ikan.


Vay mendekat. Lalu menyambar senandung Petir dengan lirik ciptaannya yang ngasal.


"Tak pernah terpikir olehku. Bisa diculik sama kuda nil. Kalau aku tau sebelumnya. Pasti sudah ku tembak mati."


"Hahahaha..." Petir tertawa lucu menyikapi kebencian Vay, sembari membalik ikan yang sudah matang separuh. "Gue uda mati ketembak asmara cinta lo. " Jawabannya di beri hadiah mimik mual oleh Vay. Membuat Petir kembali berkata menggodanya, "Padahal, kita tadi tidur di heli cuma saling pelukan, masa sudah mual ngidam aja." Alis Petir naik turun.


"Ish... Nyebelin!" dengus Vay bete.


"Jangan ngambek dong. Nih... Lebih baik lo makan!" tawar Petir penuh kelembutan. Demi gadis di depannya, ia sampai rela menangkap ikan susah payah dan baru kali ini pun ia merasakan kesusahan hanya karena mengisi perut. Biasanya, tinggal gesek kartu ATM.


Vay mengabaikan ikan bakar yang Petir tawarkan. Ia memang lapar, tetapi gengsi juga menerima makanan dari orang yang dibencinya.

__ADS_1


"Ayo di ambil, Vay."


"Gue nggak lapar!" Padahal, ususnya sudah melilit lilit. Demo demo di dalam sana. "Gue nggak akan mau makan sebelum lo ngebawa gue balik." katanya mengancam. "Biarin gue sakit dan mati karena kurang nutrisi."


Mendengar kata balik, Petir akhirnya kembali menarik tangannya. Ikan bakar ia makan seorang diri. Berpura pura cuek ke Vay yang sedang sedang menelan ludah sendiri. "Lo dan gue akan mati, tetapi kalau uda punya cicit banyak."


Vay mendelik horor. Lalu menopang dagunya dengan bibir monyong monyong.


"Yakin nggak mau makan? Ini enak loh!"


"Iya, gue nggak mau. Lebih baik gue mati kelaparan!" katanya ngegas.


"Ya udah, gue habisin sendiri!"


Haaappp...


Petir tersenyum, katanya nggak mau. Tapi pas mau ia raih satu ekor ikan matang yang tertusuk di ranting, Vay tiba tiba merebutnya.


"Huu...katanya cinta sama gue. Tapi kok tega ngabisin sih. Gue juga mauuuu..." ketusnya. Lalu memeletkan lidahnya ke Petir yang setia cengengesan.


"Neng Bule...!" Panggil Petir. Vay enggan menyahut. Ikan bakar yang hangat hangat terlalu sayang dilewatkan.


"Apa lo dan si upil kerbau benar-benar saling mencintai?" Petir sangat penasaran. "Dan sebenarnya, apa sih yang nggak lo suka dari gue? Kenapa lo amat membenci gue, Neng Bule? Perasaan, gue itu nggak pernah nyakitin lo. Adanya, gue selalu ngelidungi lo meski gue kadang jahil dan berujung membuat lo kesal dan marah ke gue seperti kalanya saat ini. Gue memang pecundang, tetapi percayalah... Lo seorang yang membuat gue jadi pria seperti kurang waras! Tapi satu lagi yang harus lo ingat, gue pernah menjadi laki laki gentleman yang memperjuangkan cinta gue ke lo."


Petir kadang geregatan sendiri kalau mengingat rasa sakit hatinya akan penolakan dan penolakan Vay. Apa sih alasan sesungguhnya? Itulah yang menjadi pertanyaan Petir dari dulu.


"Karena gue nggak ada rasa apapun ke lo. Jangan memaksa hati gue!" Vay menjawab seraya menatap lurus lurus ke depan.


"Coba lo lihat mata gue! Lo selalu menghindar dari tadi!" Dengan terpaksa, Petir memaksa wajah Vay menghadap ke wajahnya. Ia ingin melihat mata Vay yang berkata lain. "Lo nyembunyiin sesuatu dari gue, Neng Bule!" yakin Petir. "Coba katakan, apa yang membuat lo ilfiel ke gue selama ini, eum?" Petir menuntun jawaban dengan nada lembut nya, berharap Vay akan terbuka.


"Woiii... Kalian pasti orang jahatnya!"


Belum sempat Vay menjawab cercaan Petir, suara galak seorang pria berkulit coklat mengejutkan mereka.


"Orang jahatnya di siniiii!" ujar tuh pria berseru keras. Dan datanglah gerombolan pria pria lainnya. Membuat Vay dan Petir terkejut hebat karena mereka semua langsung saja membuat lingkaran untuk mengepungnya.

__ADS_1


__ADS_2