Menculik Calon Istri Orang

Menculik Calon Istri Orang
Bab 26


__ADS_3

"Apa gips kakimu masih butuh tambahan, Petir?" Nata bertanya ejek sembari menghempaskan bokongnya ke sofa khusus yang ada di ruangan VIP tersebut. Gemeletuk giginya terdengar menahan emosi yang ia tahan tahan dari rumah karena pelarian Vay sampai di ruangan putih ini sekarang. Anaknya itu pikir, ia adalah orang tua bodoh gitu? Cih...


Sikapnya yang santai - santai penuh maksud tersebut membuat Vay dan Petir kebingungan.


"Dan kamu, Vay. Sampai kapan kamu mau memeluk pacarmu di depan mata Ayah langsung," sungut Nata membuat Vay dan Petir saling mengambil jarak. Ayahnya ini salah paham, ia bukan memeluk Petir tetapi lebih tepatnya membantu kekasihnya yang tadi hampir terjerembab akibat sakit kaki bagian kanannya. Karena tadi terkejut kedatangan monster tampan, jadinya mereka bengong dengan posisi nyaman itu.


"Om, jangan marahin Vay." Petir terpincang pincang ingin menghampiri Nata. Namun tertahan oleh telapak tangan Ayah Vay, kode untuk jangan mendekat. Padahal, ia ingin berbicara serius.


"Jangan memancing tangan saya untuk menggeser otot kakimu yang satunya," ancamnya sembari mengejek dengan tatapan nyalang menghardik kaki cedera itu. "Dan jangan sok jadi pemberani yang mau mengatur atur saya. Vay adalah putriku, mau saya omelin atau cubit sekalipun, kamu tidak berhak melarangku karena kamu hanya orang asing."


Petir mengalah. Andai bukan orang tua kekasihnya, sudah ia lempari racun tikus tuh mulut pedasnya.


"Ayah, ayo kita pulang!" Vay yang tidak mau ada pertengkaran antara dua pria yang ia sayangi ini, harus turun tangan dengan cara mengajak ayahnya pulang. Namun, Sang ayah malah menolak tegas.


"Kenapa buru buru? Sekalian saja kamu jangan pulang lagi ke rumah. "


Deg...


Vay terkejut mendengar kata kata enteng Ayahnya. "Apakah ini pengusiran untuk ku, Yah?"


Nata melengos. Anaknya ini jadi pembangkang gara gara Petir, pria yang sudah memberi kotoran tak kasat mata di wajahnya. Ia tidak akan merestui hubungan mereka berdua begitu mudahnya. Titik!


Bagaimana ia tidak murka, setelah hari gagalnya pernikahan Vay, separuh atau bahkan semua relasi bisnisnya itu mengejeknya namun secara halus. Ada yang terang terangan pun mengasihaninya seperti seorang pengemis. Ada pula yang baik di depan, tetapi menusuk omongan dari belakang.


"Yah, itu tidak mungkin kan?" Vay masih menuntut jawaban tatkala Nata diam saja.


"Om, apa sih susahnya restuin hubungan kami? Aku dan Vay saling menginginkan, Om." Petir mengiba. Sungguh, ia tidak mengenali lagi sahabat Papanya ini. Om Nata-nya dulu sangatlah baik dan pengertian. Tetapi ia pun sadar, kalau Nata berhak marah karena ulahnya sendiri yang sudah pernah menjadi orang terpengecut menghancurkan pesta pernikahan Vay.


"Kalian diamlah! Lebih baik simpan tenagamu sampai semua orang sudah tiba!"

__ADS_1


Sudah tiba?


Petir dan Vay saling pandang, sejurus kompak menatap Nata yang tatapannya selalu liar. Itu tandanya, Sang Ayah akan menghebohkan rumah sakit malam malam begini dengan cara mengumpulkan dua keluarga?


Petir jadi khawatir, takut orang tuanya pun ikut terdampak kemarahan seorang ayah ini.


Ceklek...


Pintu sudah mulai terbuka. Lautan dan kedua orang tuanya sudah datang dengan wajah tegang nan cemas menatapnya.


"Kamu tidak apa apa, Nak?" Senja khawatir anaknya sudah diamuk lagi oleh Nata yang lagi sinting ini. Ia meneliti naik turun tubuh Petir tetapi alhamdulillah masih sedia kalanya.


"Belum gue pegang seinji kukupun, Senja. Jangan berlebihan!" sembur Nata pedas. Senja berdecak kesal sembari memutar mata malas.


Langit dengan santai ikut duduk di sebelah Nata yang lagi beringas tertahan tahan itu. Ia masih diam membisu tetapi menyadari akan ada masalah besar yang akan terjadi.


"Tapi gue nggak janji lagi akan bisa menahan diri! Tangan gue gatal!"


"Sini, Om mau mencobanya!"


Lautan menggeleng cepat. Ia tahu cara mencoba ala ala Nata itu seperti apa? Gampol uih. Bisa bisa wajah aduhai tampannya jadi bonyok. Diam sajalah.


Ceklek...


Pintu kembali terbuka, ada Ibell dan kedua orang tuanya pun sudah tiba.


"Vay, kamu tidak kenapa napa, Sayang?" cemas Ibell. Anaknya itu menggeleng.


Ibell dan Yola kompak menghampiri Vay. Sedang Kemal, ia mengambil duduk di tengah tengah Nata dan Langit. Menjadi pembatas dua ayah sebagai ancang ancang penjagaannya yang manatau ada peraduan kekuatan jikalau pembicaraan serius yang akan berlangsung ini, tidak menemukan titik terangnya.

__ADS_1


"Kamu sudah menggagalkan rencana Oma karena ketahuan Ayah mu, Vay," bisik Yola bersungguh-sungguh. Gadis itu meringis dalam hati. Luruh sudah harapannya kalau Oma dan Opanya pun tidak bisa membantunya.


"Jadi, Nata. Kamu mengumpulkan kami di waktu yang sudah masuk tengah malam ini, untuk apa?" Kemal membuka pembicaraannya.


Nata tersenyum getir. Dari banyaknya orang orang di ruangan ini, tidak satupun yang berada dipihaknya. Semuanya sepertinya menginginkan Vay dan si pengecut Petir itu bersatu.


"Ibell, kamu memusuhi Abang karena cinta mereka berdua saya permasalahan bukan?" tanya Nata.


Ibell hanya membisu. Ia memang mendiamin suaminya sampai tidur pun ia beri punggung. Dan Nata itu tipe orang yang tidak bisa tidur kalau istrinya marah marah tidak jelas padanya. Gara gara Petir! Semuanya kesalahan ia arahkan ke Pria itu. Damn!


"Dan kalian..." Nata menatap Senja dan Langit bergantian. "Saya membenci anakmu!" jujurnya tanpa dosa yang tidak mempedulikan perasaan orang tua Petir.


"Membenci dan menyukai itu memang hak orang, Nata. Saya terima karena anak saya memang pengecut awalnya. Tetapi itu karena cintanya ke anak mu! Paham?" Langit mulai mengeluarkan kata kata sarkasnya. Orang seperti Nata ini memang harus di beri sedikit terapi kejut. "Semua orang rela bertindak luar nalar atas nama cinta sejatinya. Saya harap, kamu pun tidak melupakan kisah kisah kita sewaktu muda." sindir Langit pedas. Ia memakai nama kita demi memperhalus kekesalannya.


"Kamu menyinggung saya dulu yang hampir gila karena Ibell kabur sampai sekian tahun?"


Baguslah nyadar! Batin Langit puas.


"Kasus ini berbeda!" tekan Nata kemudian.


"Sama, bedanya hari ini Petir dan Vay tokoh utamanya yang kita perdebatkan."


"Sama dari mananya, eum?"


"Sama kalau kita para lelaki punya tingkah pengecut namun ceritanya dan kisahnya saja yang beda!"


Semua orang di ruangan itu melongo mendengar perdebatan dua para ayah tersebut. Kuping Kemal yang sudah tua terasa berdenging karena ia memang duduk di antaranya.


"DIAM!" bentak Kemal marah. Tongkat kruknya pun ia pukulkan ke meja demi berhentinya perdebatan membawa masalalu yang tidak mungkin bisa diulang untuk diperbaiki lagi.

__ADS_1


Karena terkejut, Nata dan Langit yang berdebat tadi pada kompak menarik kedua kakinya ke sofa. Lantas saja posisi kedua pria itu seperti orang nongkrong di WC.


__ADS_2