Menculik Calon Istri Orang

Menculik Calon Istri Orang
Bab 22


__ADS_3

" Lepaskan Vay, Nak!"


"Lepaskan dia demi kebaikan kita bersama!"


Tuh kan... Hati Petir mencelos. Sakit sendiri mendengar pernyataan penuh harap Mamanya.


Dengan perasaannya yang berkecamuk, Petir hanya membeku di tempat.


"Mama tau kalau ini mu pasti terluka!" Senja menyentuh sayang dada anak sulungnya. Petir masih diam seribu bahasa.


"Ayah Vay, saat ini masih dalam titik nadir kemurkaannya, Nak. Beliau mengancam bisnis Mama dan Papamu. Bahkan, Grup Batara pun mendapat ancamannya. Kamu tidak lupa kan, kalau kerajaan bisnis itu dijuluki pada keluarga besar Vay? Selain itu, Om Nata kalian mempunyai skill hacker yang sudah tidak diragukan lagi. Taruhlah perumpamaan kami melawannya, tetapi saat itu juga, data data rahasia perusahaan pasti akan bocor dengan dalih swipe atau alasan lainnya. Mama dan Papamu terancam, Nak."


"Mama..." rengek Petir dengan suara bergetar tapi penuh kelirihan. Ia berada dalam situasi sulit saat ini. Antara cintanya dan keluarganya juga. Memang, buah simalakama itu tidak enak.


"Bukan hanya kita yang terdampak, Tir. Tetapi juga para karyawan Papa. Kamu nggak kasihan pada keluarganya kalau kalau kena PHK secara mendadak?" imbuh Langit mencuil empati anaknya.


"Aku ingin istirahat, Ma. Biarkan aku berpikir dulu!" Petir terasa lelah lahir batin. Ia segerah merebahkan tubuhnya pertanda pembahasan tidak ia ingin lanjutkan.


Dan ketiga kepala di depannya pun mengerti. Kompak meninggalkan ruangan itu. Memberi ruang pada Petir untuk mengambil keputusan yang semoga saja tidak mengecewakan banyak pihak.


Dan sebelum pintu tertutup rapat, Lautan sempat menoleh ke arah brankar. Di mana kakaknya itu berbaring dengan satu lengan tertumpu di atas kening dengan mata terpejam paksa. Kasihan juga kakaknya. Tapi apa yang bisa Lautan perbuat? Ia pun bingung harus apa? Biarkanlah waktu dan takdir kakaknya yang menjawab.


Sepuluh menit , lima belas menit bahkan sampai satu jam, Petir masih dalam posisi awalnya. Berpikir keras untuk mengambil keputusan yang serasa tidak ada yang baik. Melepaskan Vay, itu tandanya, hatinya akan berdarah patah. Tapi kalau ia tetap kekeuh memperjuangkan cinta mereka, dua pihak keluarga akan tersakiti. Cinta oh cinta!

__ADS_1


Ceklek...


Petir mendengar derit pintu terbuka itu, tetapi ia enggan bergerak. Bergeming terus tanpa mau tau siapakah yang pemilik parfum vanila yang mendominasi bau matahari. Mirip aroma kecut tukang ojek aja. Atau hidungnya saja yang keterlaluan?


"Lo masih bernyawa kan? Atau lagi sekarat, Tir!"


Purnama lah pemilik aroma parfum berbau matahari itu. Ia datang menggunakan jaket ojol berikut helm yang masih terpakai di kepalanya sebagai obyek pelindung dari penyamarannya.


Sedari tadi, di luar ruangan ia sering mendapat tatapan aneh karena helmnya enggan terlepas dari kepala. Sudah sohib, sebab ia memang menjadi tukang ojol sebagai penyambung hidup di dalam pelariannya. Lebih baik ia berkerja banting tulang dari pada harus dinikahkan oleh Abian itu. Sialnya, kata kakaknya, Abian itu benar benar ngebet memburunya bagai wanita penyakitan yang harus dibasmi. Purnama auto ngeri.


"Gue lagi nggak mood, Bohay!" Petir berkata galau, sembari membuka mata. Lalu menoleh ke sosok tukang ojek di sebelahnya. "Ehhh... Buset!" kaget Petir. Jarum infus di tangannya sampai terlepas karena sontak ia bangun dan bahkan jatuh ke sisi brankar. "Lo siapa? Kok suara lo seperti Purnama?" Petir mengabaikan tubuhnya yang kembali sakit karena terjatuh barusan.


"Cih, dasar bapaknya bucin! Ini gue!" Karena merasa aman dari mata orang lain di ruangan itu, Purnama akhirnya melepas helmnya. Dan terlihatlah wajah yang sedikit memerah itu saking panasnya udara sembari memakai helm bak pendekar ninja.


"Gue jadi begini karena lo, Nyuk!" sungut Ama. Ia memang sengaja kemari hanya karena ingin meluapkan rasa emosinya ke sahabatnya ini.


"Kok gue?"


Plakk...


"Aduuuh..." Petir mengadu kesakitan, tangan Purnama ini sangat enteng. Main pukul saja lengannya yang masih ngilu memar memar.


"Kok lo mukul gue sih? Harusnya sih, cekek aja. Gue bosan hidup, Ama!"

__ADS_1


Hais... Niat hati mau mencaci maki karena awal hidup naasnya terjadi karena Petir, ia malah iba melihat pancaran patah semangat di diri Petir.


"Gue dipaksa melupakan Vay, Ama. Gimana gue nggak mau mati coba!" curhat Petir patah semangat.


Purnama benar-benar mengesampingkan kemarahannya, tidak tega menganiaya Petir yang sudah tersiksa. Lagian salah Petir juga sih, punya hati kok bucinnya keterlaluan. Ama ora sudi diberi hati murahan kayak sahabatnya yang gegana berat ini.


"Katakan ke gue, lo mau makan apa, biar muka ganteng lo nggak suntuk lagi?" Purmana itu tidak pandai merayu dan menghibur, jadi ia hanya menawarkan jasa ojolnya saja sebagai pelipur lara Petir. "Free semua deh!" hiburnya rela membuka dompet yang isinya cuma beberapa lembar saja. Tidak seperti dulu yang isi dompetnya selalu ada kartu berkilau, lembaran merah muda klinyis klinyis. Eh, sekarang boro boro macam itu, uangnya receh abis.


"Gue mau sate, nasi padang sambel ijonya yang banyak. Ayam betutu sama conro deh."


"Eh... Wujugile! Lo galau apa lagi lapar?" Purnama sempat melongo seperkian detik. Lalu menggeleng takjub mendengar menu menu yang diinginkan Petir.


"Dua duanya, Ama. Tapi kalau ada Vay sih, semuanya cerah seketika. Gue nggak akan galau lagi. Gue ingin tau kabar Vay, Ama. Pasti dia pun lagi bersedih deh."


Creet...


Ama tersenyum sembari menjentikkan jarinya tepat di depan hidung Petir. Angin jentikan itu saja, sampai ada yang berseliweran masuk ke lubang hidung Petir menggoyangkan bulu di dalamnya.


" Hehehe...!" Purnama nyengir mendapat delikan malas dari Petir. "Selama ada Ama, Tuan Raja Petir pasti akan bertemu sama Putri Anevay." Ama dengan lebay menirukan sesosok pengawal kerajaan yang memberi hormat pada rajanya itu.


"Bagaimana caranya, Ama?"


"Tunggu beres saja oke, Babe. Muaaaahh...! Hahahah..." Setelah memberi kissing jauhnya, Purnama pun pergi begitu saja sembari terbahak bahak dengan tangan memakai kembali helmnya.

__ADS_1


Petir melongo memandangi punggung si ojol cantik itu. "Apa yang akan dilakukannya?" lirihnya bertanya tanya. Tapi ia berharap Ama tidak membohonginya.


__ADS_2