
Braaakk...
Kerasnya bantingan pintu yang diakibatkan tangan marah Petir, membuat tetangga kiri dan kanan sedikit terusik, tetapi mereka enggan ikut campur dan kembali melanjutkan tidur masing-masing.
Vay hanya diam dan pasrah saat tangannya di tarik paksa dan kasar masuk ke dalam kamar. Ia paham kalau Petir patut marah karena langkahnya memang salah menerima tawaran balapan yang taruhannya adalah tubuhnya. Kalau ia berada di posisi suaminya, ia pun pasti akan marah besar karena tidak terima pasangannya amit amit... Akan terancam dimiliki orang lain meski satu jam apalagi waktu satu malam. Vay meringis ngeri, tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya kalau Dika atau pun Gege berhasil memenangkan pertarungan itu.
Oleh sebab itu, Vay akan menerima segala kemarahan atau hukuman apapun itu dari Petir. Mau ia dipukul atau sekedar diomelin, Vay akan suka rela menerimanya tanpa ada perlawanan. Biarkan emosi suaminya terlampiaskan supaya perasaan pria tercintanya itu plong, baru rencananya akan menjelaskan awal mulanya ia sampai terpaksa menerima tawaran gila Dika.
Vay hanya tidak mau pertengkaran hebat akan terjadi kalau kalau ia melawan kemarahan Petir dengan emosinya juga. Ibarat bensin tumpah lalu diperciki api dan pasti berkobar membakar segalanya. Ia tidak mau rumah tangganya yang baru seumur jagung harus hancur berkeping keping.
Bugh...
Tak terduga hukumannya. Suaminya ini mendorong tubuhnya ke kasur lalu dengan cepat menindihinya.
"Hemmppt..."
Sedikit kasar, Petir menikmati bibirnya dengan tangan nakal itu berkeliaran kemana mana menyentuh titik titik tertentu. Vay sampai cengap cengap seperti insang ikan yang kekurangan oksigen.
Durasi waktu pencurian nafas itu lumayan berlangsung lama. Meski sempat kesakitan karena Petir kadang kala menggigit gigit gemas bibirnya, Vay masih pasrah diam saja. Jantungnya semakin berdegub kencang mana kala suaminya ini akan melanggar persyaratan ayah nya untuk tidak menyentuhnya.
Vay bimbang, antara mengingatkan kekhilafan Petir atau harus diam dan menikmati saja? Jujur, meski sentuhan Petir mendominasi kasar, tubuhnya itu merespon yang 'iya-iya.' Jadi gimana dong? Rela diperkaos atau pukul saja kepala suaminya ini yang sekarang sudah tenggelam di belahan gunung 'himala-nikmatnya?'
"Aku sadar apa yang akan aku lakukan, Vay. Bukan khilaf atau istilah apalah itu. Persetan dengan persyaratan Ayahmu. Aku hanya tidak mau apa yang aku jaga baik baik, amit amit akan pergi dan meninggalkanku. Jadi, izinkan aku meminta hakku? Malam ini dan seterusnya, kamu seutuhnya milikku dan aku hanya akan rela berbagi kasih sayang hanya pada calon anak ku yang mulai malam ini akan tertanam. Paham, Vay," bisik Petir dengan nafas terengah engah layaknya habis lari maraton. Nafs*nya sudah di ubung.
" Oh," respon Vay dalam hati. Bukan khilaf kata suaminya. Baiklah, karena hasrat wanitanya juga sudah di atas awang awang oleh pancingan Petir yang nakal meraba sana dan sini, Vay pun mengangguk iya saja. Pasrah jikalau memang cara ini yang membuat emosi suaminya meredah yang sempat berapi api, maka Vay dengan suka rela memberi pelayanan terbaiknya meski malam ini adalah pengalaman pertamanya.
"Tetapi, kamu masih berhutang penjelasan padaku," sambung Petir yang masih di atas tubuh Vay dengan suara kian memberat dan terkesan seksi.
"Mau mengobrol atau memulai memakanku, eum?" ejek Vay karena ia merasa suaminya ini terlalu lama padahal ia tahu kalau adik Petir di bawah sana kian terasa keras menekan.
__ADS_1
Dan sat set sat set pun terjadi ... Alunan ah uh ah di kamar kecil itu mengalun indah nan panas. Mereka saling mengagung-agungkan nama satu sama lain. Dan... Sensor ajalah. Teeet!
***
Nyatanya, penjelasan yang Petir pinta dari Vay sampai pagi ini belum tercuat karena keduanya sampai tertidur kelelahan akibat pergulatan aduhai enak itu.
Sampai jam tujuh pagi ini, keduanya masih di balik selimut dengan keadaan kamar berantakan.
"Uh..." Vay melenguh. Ia pertama kali bangun dari tidurnya ketimbang Petir.
Sekedip, dua kedip dan ketiganya, nyawanya yang baru dalam alam mimpi sudah kembali ke dunia nyata yang mendapati bagian tubuh mulusnya bak macan tutul merah oleh kecupan cinta sang Suami yang ketagihan terus sampai jam mau masuk waktu subuh. Gila kan?
Cepat cepat Vay menarik selimut dan melilitkan kain itu ke dua pangkal ketiaknya, saat Petir pun sepertinya akan terbangun.
"Aaarggh..." Jeritan spontan Vay langsung menyadarkan Petir seratus persen. Pria itu langsung terduduk dan segera mendelik ke Vay. "Ada apa?" tanyanya dengan suara parau khas bangun tidur.
Vay menjerit karena gerakan tangan yang menarik selimut, berhasil meloloskan tubuh naked suaminya ini karena mereka memang berbagi kain itu sepanjang malam usai pergulatan semalam.
Vay yakin kalau wajahnya kini sudah memerah sekali. Saat kata tubuh terlontar, ia malah menunjuk dan menatap sekilas adik Petir.
"Hem... Bukannya semalam sudah kamu rasain, jadi kenapa harus malu malu." Petir dengan santainya berdiri dari ranjang dan mengambil kain bawahnya. Di depan mata Vay yang masih bertingkah malu malu seperti anak perawan, ia pun memakainya santai. Lalu kembali duduk di sisi Vay. Petir ingin tersenyum, tetapi mengingat Vay masih punya hutang penjelasan yang dibilang fatal kesalahan istrinya itu, sikap hangatnya pun ia sembunyikan.
"Cepat jelaskan tentang semalam!"
"Be-bentar. Aku mau mandi dulu __ aduh duh duh, kok sakit ya?" Vay yang ingin kabur karena masih malu, akhirnya kembali duduk. Bagian di bawah sana nyeri nyeri perih gimana gitu.
"Mau aku tiup?" tawar Petir berbaik hati. Mengerti sakit apa yang dirasakan Vay.
Vay melotot. Lalu mengusap wajah mesum suaminya sembari berdecak kesal. Meski mereka memang sudah menjadi satu, tetap saja Vay merasa malu apa lagi Petir sering ketahuan menatap belahan dadanya yang memang hanya tertutup separuh.
__ADS_1
"Ambil baju itu?"
"Nggak mau dan cepat berbicara!"
Hah... Mau tak mau Vay pun bercerita meski masih dalam penampilan berselimut memperlihatkan bahu nakednya yang tak ketinggalan mendapat kecupan kepemilikkan di sana.
Mulai dari guci itu pecah. Bertemu ayahnya. Ktp yang ditahan. Penjara sanksinya. Dan berakhir balapan liar semua Vay terangkan dan Petir tidak sama sekali memotong pembicaraannya.
Petir menghela nafas berat. Istrinya ternyata mendapat masalah besar tetapi ia tidak mengetahuinya. Cinta Vay pun sudah tidak ia ragukan lagi karena wanitanya ini lebih rela dipenjara dari pada balik ke rumah besar ayahnya.
Sekonyong-konyongnya, Petir beringsut memeluk Vay penuh kasih sayang. Lalu berkata, "Harusnya, masalah apapun itu kamu bicarakan padaku, Vay. Aku merasa, tidak berguna. Dan maafkan aku."
Vay membalas pelukan Petir sembari menggeleng pelan sebagai sanggahannya. "Aku tidak tega melihatmu semakin tertekan. Di sini, akulah istri yang sepertinya hanya menyusahkan mu, Bang. Selama ini, kamu sudah bekerja keras memenuhi kebutuhan hidup kita dengan cara banting tulang menjadi kuli bangunan __" Uops, keceplosan.
"Hah? Kamu mengetahuinya?"
Pelukan itu mengurai.
Vay mengangguk mengakuinya saja.
"Pasti kamu malu ya punya suami yang pekerjaannya sangat rendahan." Petir tersenyum pahit.
Vay menggeleng cepat. "Aku malah bangga. Karena itu adalah kasih sayangmu padaku, kamu sampai bekerja keras seperti itu. Namun di sisi rasa bangga ku, di dalam dadaku ada juga rasa nyeri yang susah di ucapkan. Aku tidak tega melihat mu memikul beban di bawah teriknya matahari,Bang." Suara Vay bergetar hendak menangis manakala mengingat waktu ia melihat Petir bekerja di proyek bangunan.
Petir kembali memeluk mesra Vay dan menenangkannya dengan cara mengelus elus punggung istrinya. "Mulai hari ini, jangan pikirkan lagi tentang masalah uang guci dan hal lainnya. Aku janji akan membereskannya."
Dengan cepat,Vay menarik tubuhnya dari pelukan itu. "Bagaimana kalau kita tagih uang hasil taruhan semalam saja __ adu, kok malah dipelototin sih, Bang?"
"Jangan ungkit ungkit balapan apalagi taruhan!"
__ADS_1
Vay men-zipper rapat rapat mulutnya. Ego laki laki memang setinggi langit. Meski berbicara soal uang besar, seorang laki laki sejati lebih rela kehilangan harta dari pada harga diri seorang istri di pertaruhkan. Ia paham maksud suaminya yang menolak uang tersebut yaitu penghinaan lagi dari ayahnya kalau sampai ketahuan asal usul uang tersebut dari taruhan uang vs tubuhnya.