
Bintang dan bulan menghiasi langit malam yang terbentang seakan-akan ikut bersorak bahagia menyaksikan resepsi pernikahan yang sudah disahkan secara hukum oleh Petir dan Vay.
Mewahnya resepsi itu tidak tanggung tanggung yang diadakan di salah satu hotel bintang lima. Relasi dan seluruh staf semuanya mendapat undangan.
Sang mempelai yang menjadi raja dan ratu satu malam ini, terlihat sangat berbahagia. Senyum keduanya selalu merekah indah. Serangkaian acara sudah ada yang terlewat, dan sekarang ini, Vay dan Petir di hadapankan oleh satu persatu tamu untuk menerima ucapan selamat.
"Akhirnya, perjuangan besar gue ada buktinya. Selamat ya." Purnama nekat hadir demi melihat kebahagiaan sang sahabat. Meskipun penampilannya masih dalam penyamaran, rambut palsu lurus sebahu berponi dora, kaca mata tebal bulat, tahi lalat mirip tompel di bagian pipi kiri dipadu riasan yang sangat menor, mirip wanita culun yang baru belajar dandan. Sangat mengecoh mata.
Ia memeluk hangat mempelai tersebut secara bergantian.
"Jasa lo akan terkenang di hati gue, Ama." bisik Petir sembari melepaskan pelukan mereka.
"Uda kayak pahlawan gue."
Petir dan Vay terkekeh melihat bola mata Ama berputar malas.
"Eh, Abang berikut Mami Papi gue duduknya di sebelah mana?"
Sedari tadi, Ama memang tidak melihat inti keluarganya. Di meja meja khusus sana hanya ada orang tua si kembar dan keluarga besar lainnya. Ama juga melihat keberadaan meja keluarga Abian berikut pria tersebut.
"Guruh tadi udah datang. Orang tua lo juga, tapi mereka pulang duluan karena kakak Ipar lu lagi kontraksi," terang Vay.
"Hah, Kak Nining mau membrojol? Lah, rencananya kan gua mau jadi yang pertama nyium dan bisikin tuh calon ponakan gue dengan mantra ajaib, biar gedenya nanti bisa keren kayak gue."
Vay refleks mengelus perutnya, speechless dengan kenarsisan Ama.
"Eh, Ama. Bukannya mau ngusir nih. Masalahnya, tuh lihat di belakang lo. Ngantrinya uda seperti kereta api."
Purnama segera mengikuti arah pandang Petir. Ia tertawa garing karena dirinya yang asyik
mengobrol, berujung membuat tamu lainnya mengantri. Ia pun turun dari panggung mempelai tersebut. Niat hati mau langsung pulang, ekor matanya malah mendapati Abian berjalan ke sisi ballroom menuju arah toilet. Seringai jahil mengembang manis di bibir merahnya.
Ama mengikuti Abian. Sampai bayangan pria itu tenggelam di balik pintu toilet. Setelah mengintip dan memastikan tidak ada pengguna lain kecuali Abian yang berdiri mantap membuang air dalam tubuhnya, ia pun bereaksi.
"Rasain pembalasan gue." Purnama meraih sapu yang kebetulan ada di troli kebersihan. Ia berniat mengganjel pintu agar tidak bisa terbuka dari dalam. Namun, ceklek. Pintu itu sudah terbuka duluan.
"Eh, lo mau apa?" Abian curiga wanita jelek di depannya sedang berniat jahat.
Purnama gelagapan. Namun sebisa mungkin ia mencoba menekan kegugupannya. Sampai kapan ia harus kabur terus dari pria ini? Hah, ia sudah bosan juga jadi pecundang.
__ADS_1
"Gue mau lo nggak gangguin lagi."
"Ama...?" Abian serasa bermimpi mendengar suara tak asing wanita itu.
Ama dengan berani membuka rambut palsunya. "Eum, ini gue. Dan maafkan kesalahan gue." Dengan rendah hati, Purnama meminta tulus.
"No! Nggak semudah itu, Babe!" Abian menyeringai. Dan segera mencengkeram pergelangan Purnama.
"Ah, sialan lo. Gue uda baik baik meminta maaf, tapi ini... Eh, lo mau bawa gue kemana?" Ama panik karena Abian menuju ke arah pintu darurat.
"Mau ngamar di lantai tiga ada kamar gue."
Bahaya! Ngamar katanya? Itu tandanya ia akan di anu anukan? Shittt...
"Tolong, dia mau nyulik gue." Padahal, tidak ada orang lain di area sepi itu. Ama sengaja berteriak untuk mengecoh konsentrasi Abian saja.
"Jangan berteriak, Ama. Gue__"
Bugh...
"Aaarggh..." Abian memegangi telurnya yang ngilu. Gadis licin itu menendangnya dan kabur lagi. Ia tidak bisa mengejarnya akibat rasa nyeri pada bagian adiknya.
***
Vay POV
"Ah... Uh..."
Beberapa bulan kemudian, kehamilan ku saat ini memasuki inti perjuangan yaitu detik detik akan melahirkan.
Di dalam ruangan persalinan, ada Petir di sisi kanan dan sisi kiri kepala ku ada Ayah yang ikut menemani masa masa perjuangan antara hidup dan mati ku.
Ayah ngotot masuk dengan alasan dia itu dulu tidak pernah ada untuk Bunda saat masa kehamilan dan masa perjuangan melahirkan ku, karena dulu katanya Bunda dan Ayah sempat berpisah lama. Kata ayah, dia ingin menebusnya melalui cucu pertamanya.
Dan aku sangat terharu ditemani dua pria penyemangat ku.
"Adu, Bapak - bapak, kalian saya ijinkan masuk bukan untuk mengganggu. Ini yang disuruh ngeden itu Ibu Vay, tetapi suara ngeden kalian mendominasi ruangan." Ibu Dokter bersungut sungut kesal pada Ayah dan Petir yang memang berlomba lomba menirukan orang yang hendak lahiran. Mungkin agar aku bisa bersemangat lagi.
Dan keduanya, hanya saling menatap sekilas. Seperti orang bisu, mereka tidak mau menjawab sang Dokter.
__ADS_1
"Abang, Ayah. Sakit sekali! Ini kapan keluarnya? Astagfirullah, Allahuakbar. Ayo keluar dong." Aduku dengan berlinang air mata. Sumpah ini sangat sakit. Bikinnya gampang dan enak, tapi keluarnya astagfirullahadzim.
Rasa perut ku di dalam sana seakan-akan ada yang mau meledak. Melilit dan entahlah. Susah untuk diberi untaian.
"Tahan ya, Sayang." Keduanya kompak sekali menjawab.
"Tarik nafas buang nafas..." Dua suster di bawa sana dan satu Dokter di tengah tengah kaki ku yang membuka lebar itu, sempat terlihat mengulas senyum tipis mendengar intruksi ayah yang sudah seperti petugas kesehatan saja.
"Sakit, Ayah... Arrghh..." Aku kembali menjerit sembari mengejan kuat kuat. Kedua tangan dua pria di sisi ku ini semakin erat menggenggamku seakan akan memberi kekuatan baru untuk mengejan kembali.
Dan oeee...oeee... Akhirnya aku bisa bernafas sedikit lega mendengar suara tangis bayiku. Untung aku masih kuat dan tidak pingsan. Ku rasakan Petir beberapa kali mencium kening ku. Dan ayah mendekat ke arah Dokter yang sedang mengurus bayiku.
"Selamat ya, anak ibu dan bapak laki laki." kata tuh Dokter. Lalu menyerahkan sosok mungil itu ke Petir untuk di adzani.
"Allahuakbar Allahuakbar..." Aku dan ayah kompak menangis haru mendengar Petir mengadzani anak kami. Pria yang menjadi suami ku pun itu terlihat menangis haru lalu mencium sekilas sebelum membiarkan kesempatan pada Ayah menggendong cucu pertamanya.
Ayah yang sudah puas menciumnya dan sudah memberi doanya, meminta izin sebentar ke Dokter untuk di perlihatkan ke keluarga ku di luar sana yang pasti pun harap harap cemas menunggu cucu permata mereka.
Mendapat izin, aku dan Petir masih bisa melihat dari pintu yang terbuka lebar, kalau Mama dan Bunda nampak jingkrak jingkrak bahagia ingin berlomba lomba menciumuinya. Opa dan Oma pun nampak bahagia. Lautan juga terlihat antusias mengantri ingin mencium nya.
"Buset deh, anak kita pasti uda bau jigong." kata ku lemah ke Petir.
Dia tersenyum geli sembari mengelus kening ku dan cup... dapat juga kecupan hangat. "Terimakasih ya, Sayang. Kamu memang hebat."
Ya jelas, semua wanita di dunia ini adalah manusia yang paling hebat. Bisa melakukan apapun, tidak seperti pria yang hanya bisa bikinnya saja tanpa merasakan arti sebuah perjuangan hamil dan tiba melahirkan.
" Bagaimana rasanya, Sayang? "
" Huawa... Sakit sekali." Aku menjawab dengan suara tangis.
"Bikin lagi, yuk."
Huhahuhahuahh...
Tamat...
***
Jangan lupa mampir di karya yang berjudul, "Sistem Anak Genius (Jadi Ibu Angkat Anak Jalanan) dan "ERIKA ( Wanita Yang Difitnah)" Masih on going dan salam sayang jauh untuk kalian. 😍😘😘
__ADS_1