Menculik Calon Istri Orang

Menculik Calon Istri Orang
Bab 9# Garis Tangan


__ADS_3

"Kamu pasti becanda kan, Lona?" tanya Vay ngeri mendengar persyaratan yang tak lazim itu.


Lona tersenyum ke Vay. Lalu berkata dengan tampan seriusnya. "Saya tidak becanda, Vay."


Petir dan Vay kompak menelan ludahnya masing-masing dengan susah payah. Mereka tidak mau terjebak di suku pedalaman itu. Titik.


"Kecuali..." Lona kembali berkata. Tapi ngegantung seperti jemuran.


"Kecuali apa?" Petir dan Vay antusias bertanya.


Lona si hitam manis itu kembali mengembangkan senyum ramahnya. "Kecuali kalian mengaku ke Yama, kalau kalian adalah pasangan suami istri. Orang yang sudah menikah dan datang berkunjung kemari, dianggap pembawa keberuntungan di suku kami." terang Lona apa adanya.


Vay dan Petir saling lirik. Lalu tatapan Petir kembali ke Lona lagi.


"Tapi, Yamamu sudah tau semuanya, kalau saya hanya pria 'bajingan' yang membawa kabur calon istri orang," papar Petir menyindir Vay yang mengakui hal tersebut di pinggir pantai tadi.


"Lebih baik kamu obati luka mu dulu. Hal ini, bisa nanti di bicarakan lagi." Lona yang mengetahui tatapan kesal Vay ke Petir, segera menengahi.


"Biar saya yang ngobati, Lona." Vay merebut ramuan tersebut di tangan Lona. Lihat saja, ia akan memberi pelajaran ke Petir. "Ayo, buka bajumu dan berbaringlah." kata Vay semangat.


Lona yang tidak mau melihat tubuh pria asing itu secara nyata, segera beranjak meninggalkan dua tamunya.


"Lo lagi nafs* ya?" goda Petir. Sejurus membuka bajunya.


Vay mendengus. Lalu menjawab, "Iya, gue nafs* banget ingin mencakar cakar kulit lo. Gara gara lo, kita terancam bahaya. Ihhhh, gue nggak mau terjebak di sini!"


Sebagai pelampiasan, Vay menempelkan obat tumbuk itu dengan cara kasar ke tubuh memar memar Petir. Pria itu meringis ringis dan sesekali mengadu sakit. Lona yang mendengar hal tersebut, mengintip di cela pembatas ruangan. Gadis suku itu tersenyum sembari geleng-geleng melihat tingkah pasangan di depan sana yang menurutnya lucu.


" Vay, pelan pelan dong, ah... "


"Oups, maaf!" ejek Vay tetapi tangannya setia sekali mengobati luka Petir secara kasar.


Petir yang sudah tidak tahan, segera menarik tubuhnya untuk duduk. Lalu dengan cepat, menarik tengkuk Vay. Dan... Cup... Hukuman manis menghinggapi bibir Vay. Lona segera berhenti mengintip. Gilaaa ya orang luar, batinnya speechless.


Vay yang terkejut sampai saat ini masih bergeming dengan jantung berdebar debar tidak karuan. Kesadarannya sama sekali belum balik sampai Petir sudah melepaskan ciumannya. Mata yang dilapisi bulu lentik itu, berkedip kedip di depan wajah Petir yang tersenyum manis padanya.


"Mau lagi?" bisik Petir menggoda. Cup... Kali ini pipi Vay yang mendapat kecupan secara tidak sengaja, karena ia monoleh ke samping di mana bibir Petir yang masih bergeming di dekat telinganya.


"Nye-nyebelin." maki Vay tergagap.


Lalu beranjak pergi meninggalkan Petir.


"Vay, jangan keluar rumah! Ini sudah gelap sempurna loh!" Petir bersusah payah berjalan mengekori Vay. Rasa sakit di sekejur tubuhnya, ia abaikan. Takut takut Vay melakukan hal ceroboh di daerah yang asing itu.


Tetapi, baru juga di ambang pintu. Vay sudah kembali bersama Pria yang di panggil Lona adalah Yama.


"Jangan keluar rumah di malam hari." Katanya dengan suara dingin nan datar.

__ADS_1


Petir kembali berjalan masuk setelah Vay sudah melewatinya. Di susul orang tua Lona. Tak lupa pintu rumah pun di tutup rapat rapat.


"Apa di sini nggak ada listrik?" tanya Vay seraya memperhatikan Lona yang baru muncul membawa sebuah cahaya api redup yang terbuat dari botol bekas.


"Tidak ada!" Jawab Lona singkat. Lalu duduk di dekat Vay. Sedang Petir bersama Yama Lona di bale bambu satunya.


"Bagaimana, Yama, urusannya sudah diselesaikan?" Lona membuka suara tentang pengkhianatan warganya sendiri.


"Yama dan lainnya sudah memberi hukuman mati untuknya."


Uhuuk Uhuuk... Vay terbatuk batuk mendengar jawaban tanpa beban Yama Lona. Ia malah tetiba teringat ucapan Lona tentang pernikahan. Gimana nasibnya kalau ia tidak mau di nikahkan oleh suku pedalaman ini? Apakah berujung dikubur hidup hidup? Duhhh... Seram.


"Dan kalian, apakah Lona sudah mengatakan syarat berada di suku kami?"


Nah kan... Vay dan Petir kompak saling pandang. Bibir terkunci rapat rapat. Tidak bisa membayangkan kalau mereka akan dinikahkan masing-masing bersama orang di suku itu.


Tok tok tok...


Selamat untuk sesaat oleh ketukan pintu. Lona segera beranjak membukanya.


"Dahen, silakan masuk!" kata Lona pada pemuda yang bersosok tinggi kekar.


Orang yang bernama Dahen, duduk di dekat Petir sembari menatap sejenak Vay dan Lona di seberang sana.


"Lona, dia siapa. Kok seram amat?" bisik Vay blak blakan. Gadis itu malah mengembangkan senyumnya.


"Dia namanya Dahen. Pemuda suku kami yang banyak disukai para kaum wanita."


" Kamu juga suka, ya?" goda Vay berbisik. Entah benar atau tidak, Vay melihat semrawut malu malu tikus eh kucing di pipi Lona. Fixed ini mah, Lona memang menaruh hati ke pemuda yang konon katanya ter-the best itu.


"Sikat dong, Lona. Jangan mau kalah sama wanita lain." Vay memprovokasi jahil. Mencari hiburan di tengah-tengah Kekalutannya, kan nggak ada salahnya.


"Maaf, Yama... Lona mau antar tamu kita ke kamar mandi."


Eh... Bohong aja gadis suku ini. Vay di tarik tarik oleh Lona. Di suasana gelap itu, Vay nyaris saja terbentur oleh penyekat ruangan. Apa sih maunya Lona ini? Ya ampun.


Sedang Petir, ia ingin sekali lenyap dari tengah tengah Yama Lona dan pria di sampingnya. Saat ia ingin beranjak, ia di tahan oleh suara datar Yama Lona.


"Saya hanya mau pindah duduk, Pak__"


"Panggil saya Yama saja."


"I-iya, Yama. Maksud saya, saya mau rebahan. Boleh saya istirahat di bale itu?" kata Petir sembari menunjuk bale kosong yang ditinggal Vay dan Lona. Sumpah, badannya itu terasa remuk. Tidur adalah obat dari kepenatan.


"Besok baru kita bicara lagi." Kata Yama mengerti keadaan tubuh Petir. Lalu kembali bercakap cakap serius bersama Dahen.


Sedang di ruangan yang menjadi kamar Lona, Vay di cerca pertanyaan oleh gadis suku itu.

__ADS_1


"Wahh... Jadi kamu melihat kami berciuman?" Antara terkejut plus lucu ke Lona yang penasaran rasa ciuman itu seperti apa katanya. Vay garuk kepala, lalu tersenyum penuh arti ke Lona.


"Benar kamu ingin merasakannya?" tanya Vay menggoda.


Lona diam sejenak dengan wajah merona. Untung kulitnya tidak putih seperti milik Vay. Kalau iya, maka fixed... Udang rebus pun kalah merahnya.


"Apa saya boleh belajar sama Petir? Kalau sudah lincah kan, saya bisa mempraktekkannya ke Dahen."


Eh eh eh... Enak saja sama Petir.


"Nggak, nggak boleh sama Petir." Vay menolak cepat tanpa sadar. Kini Lona yang tersenyum penuh arti.


"Kamu suka sama Petir ya?"


Duh, Vay kira si Lona orangnya polos. Tapi balik menyerang dengan godaannya.


"Apa sih. Ah... Kita kan lagi bahas Dahen Dahen itu."


Lona hanya tersenyum. Lalu menarik tangan Vay.


"Saya bisa baca takdir seseorang melalui garis tangannya loh. Apa kamu mau saya bacakan?" ujar Lona sembari mengelus tiga kali telapak tangan Vay agar melemas dan rileks. "Percaya atau tidak, itu terserah kamu."


"Masa sih? Itu tandanya kamu pun bisa membaca garis takdir mu dong?" tanya Vay meremehkan.


Lona tersenyum. "Sayangnya, aku tidak bisa membaca takdir diri sendiri. Tapi kalau kamu bisa, coba baca untuk ku." Dengan pasrah, Lona menjulurkan tangannya ke Vay.


"Yeakk.. Aku mana bisa. Kamu itu... Hehehe..." Vay tertawa garing. Tawanya yang samar samar itu masih bisa Petir dengar.


"Jadi, kamu mau nggak aku bacakan garis tangan mu? Anggap saja iseng iseng!" kata Lona.


Vay mengangguk. Lagian gratis ini. Anggap saja hiburan kegabutan.


"Rileks ya. Lemaskan otot otot tangan mu!" Lona sudah mulai menatap serius garis garis tangan Vay.


"Garis ini adalah kebahagiaan dalam hidup mu. Tapi... garis di dekatnya adalah lambang tantangan yang amat menyedihkan. Sakitnya akan melebihi kesedihan mu yang pernah dihancurkan oleh seseorang sebelumnya. Berlipat kali lipat kesedihan mu itu akan terjadi."


Vay termangu. Apakah kesedihan yang dimaksud Lona adalah waktu ia putus dengan mantannya yang bernama Cole itu. Memang hal itu menyakitkan dari peristiwa hidup masa lalunya yang lain. Tapi...


"Dan garis ini __" Lona tetiba terhenti karena Vay segera menarik tangannya. Padahal, garis tersebut melambangkan asmara Vay yang berliku liku.


"Aku ngantuk, Lona. Boleh aku tidur bersama mu di sini?" Vay mengalihkan permainan garis tangan itu.


"Benar nih, kamu nggak mau lanjut?"


"Aku ngantuk!" Vay merebahkan tubuhnya. Lona hanya mengedikkan bahu cuek.


"Aku akan menemui Yama ku dulu."

__ADS_1


Tidak ada jawaban dari Vay yang sedang memejamkan matanya dalam arti pura pura tidur.


"Lona bukan Tuhan, Vay. Rileks, ini bukan masalah besar dan ini hanya permainan. Jangan percaya!" rafalnya dalam hati.


__ADS_2