Menculik Calon Istri Orang

Menculik Calon Istri Orang
Bab 32


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan menggunakan taksi, Petir dan Vay pun sampai di sebuah lokasi pemukiman warga kelas menengah.


Di depan mereka, ada kontrakan berpetak. Sejauh mata memandang, netra bule Vay disuguhkan jemuran jemuran bergantungan asal-asalan di depan unit masing masing. Kontrakan itu sepi karena penghuninya mungkin pada bekerja atau tidur siang.


Petir mengetahui air muka istrinya ini sedang bergulat batiin, jadi ia merasa tidak enak hati sendiri.


Sebagai seorang putri orang tersohor, pasti istrinya ini akan kaget mendapati kehidupan mewahnya hilang begitu saja setelah menikah dengannya.


"Maaf, Vay. Uang pribadiku memang cukup menyewa apartemen dalam satu bulan. Akan tetapi, buat makan sehari sehari kita pasti sedikit sulit kalau aku memaksa menyewa satu unit mewah. Jadinya, untuk sementara ini, ku harap kamu nggak keberatan jika kita tinggal di area sini dulu. Tapi kalau pun kamu nggak mau, aku akan menyewa apartemen sederhana untuk kita __"


"Ini itu menakjubkan, Sayang. I'm okay!" Demi membesarkan hati suaminya, Vay dengan lugas menerima kenyataan kalau sekarang ini ia bukanlah Anevay keturunan Abraham yang terkenal mempunyai perusahaan cukup diakui keberadaannya. Vay sekarang adalah hanya istri seorang Petir yang sedang diuji segala arah oleh Ayahnya. Insyaallah, ia akan berdiri di sisi suaminya, baik itu suka dan duka. Senang milik berdua, maka luka lara pun harus maju bersama sama.


"Terimakasih, Neng Bule ku." Petir tersenyum paksa sembari menyatukan jemarinya ke tangan Vay. Ia tau kalau istrinya ini hanya menghiburnya.


Dalam hatinya yang paling dalam, Petir berjanji akan berusaha sekuat mungkin untuk merubah hidup mereka dengan kata layak.


" Ayo!" ajak Petir. Vay mengangguk sembari mengikuti suaminya yang masih menggandeng tangannya ini.


Seorang ibu ibu bertubuh kurus yang menggunakan daster batik di padukan hijab jeblosan putih, kini menghampiri langkahnya. Petir yakin, Ibu itu pasti pemilik kontrakan yang sudah ia hubungi sebelumnya melalui chat.


"Maaf, Bu. Saya mau bertemu dengan pemilik kontrakan ini." Agar tidak salah, Petir lebih baik tidak menebak nebak dulu.


"Saya orangnya, Mas. Apa kalian suami istri itu yang memesan lewat chat satu jam yang lalu?"


"Betul, Bu. Saya Petir dan ini istri saya, Anevay," seru Petir memperkenalkan diri. Dan disambut ramah oleh pemilik kontrakan tersebut.


"Kalian boleh panggil saya ibu Juleha. Mari, Ibu antar sampai ke pintu kontrakan yang akan kalian sewa."


Sepanjang langkah itu, Ibu Juleha menjelaskan segala peraturan menyewa di wilayahnya.


Petir dan Vay setia mendengarkan. Pada umumnya, uang muka lah dalam satu bulan minimnya harus Petir bayar.

__ADS_1


"Saya akan bayar tiga bulan ke depan, Bu." Petir mengeluarkan dompetnya. Semua kartu kartu platinumnya sudah disita oleh Nata, tanpa sepengetahuan orang lain termasuk orang tuanya sendiri. Dan alasan mertuanya itu katanya, "Demi menghindari kecurangan. Bisa saja kamu memakai uang orang tuamu secara diam diam kan. Dan kalau itu terjadi, maka kamu gagal. Pecundang tetap saja pecundang!"


Kata kata provokasi mertuanya itulah yang harus ia buktikan, kalau ia bukanlah pecundang sejati. Ia akan melewati ujian tanpa kata curang dan suatu saat nanti, semoga Tuhannya menghendaki jalan kesuksesan yang mudah, meski tidak ada bantuan siapa pun.


"Baiklah, Mas. Ini kuncinya. Semoga betah dan rukun dengan tetangga tetangga lainnya."


Ibu Juleha sudah mengantongi uang merah merah pink dari Petir. Lembaran berharga itu hasil upayanya sendiri waktu dia berada di luar negeri. Demi membunuh nama Vay, Petir menjalankan study-nya sembari magang di suatu perusahaan. Ia memang tidak menggunakan gajinya waktu itu, sehingga sekarang ia bisa mempunyai pegangan yang bukan hasil pemberian orang tuanya.


Ceklek...


Huaccii...


Udara pengap nan berdebu, langsung menyerang hidung Vay yang sensitif saat baru saja pintu Petir buka. Wanita itu bersin bersin. Membuat Petir kasihan melihatnya.


"Kamu tunggu di luar aja dulu ya, biar aku bersihkan." Petir siap mendorong pelan bahu Vay yang sudah ia balik secara paksa. Tetapi kaki istrinya itu menahan di bawah sana.


"Elaah... Ini sih cuma kecil bagiku, Tir. Jangan manja manjain aku dong. Lebih baik ajarin aku menjadi istri yang mandiri." Vay memanyunkan bibirnya, protes. Suaminya ini sangat meremehkan dirinya rupanya. "Ingat ya, Vay ini bukan gadis manja." Vay mendengus pelan sembari mengikat tinggi tinggi rambut pirang alaminya yang langsung saja membuat Petir tergoda ingin mengendus wangi leher wanita itu yang sudah halal untuknya.


Sialan! Ancaman demi ancaman Nata terngiang lagi. Mertuanya itu memang niat sekali menyiksanya. Ya Tuhan, semoga Vay tidak minta jatah nanti malam dan seterusnya, sebelum ia sudah bisa membayar hutang akan penggagalan nikah Vay dan Abian yang ia lakukan waktu itu.


" Apa lihat lihat? Jangan minta jatah di siang siang bolong dan di tengah kontrakan berdebu." Vay menggoda Petir yang sedang melamun. Suaminya ini nyaris lupa berkedip sembari menatap penuh minat jenjang lehernya yang tadinya bermaksud akan bertempur dengan ruangan yang berdebu.


"Nggak lah, aku kan sedang dapat tamu bulanan." Hahah ... Petir tertawa akan candaan garingnya sendiri. Dalam hatinya, memperingati adik kecilnya yang malah on di bawah sana. "Sabar ya. Nyari kerja dulu. Awas kalau nakal."


"Huu... Banci aja nggak dapat tamu. Atau, aku dinikahi wanita jadi jadian, eum?" Vay dengan berani menunjuk area sensitif suaminya. Gadis ini memang tidak ada jaim jaimnya.


"Hey... Enak saja!" dengus Petir tidak terima.


Demi menghidari perbincangan yang semakin menjurus yang anu anu, Petir segera menyibukkan diri berkutat di ruangan sempit itu. Satu kamar, dapur sepetak yang terlihat dari pintu utama, berikut kamar mandi tanpa ada ruang makan. Sempit bukan?


"Aku mau bukti, Sayang."

__ADS_1


"Aww..."


"Hahahaha..." Vay terbahak bahak karena sudah membuat Petir menjerit kaget akan remasan dibokong suaminya ini.


"Vay...!"


"Apa?" tantang Vay.


"Nggak jadi deh. Yuk... Kita bersihkan semuanya."


Dan keduanya pun bekerja sama. Meski merasa capek, keduanya malah menikmati karena kebersamaan dan canda tawa mereka. Wajah Vay sampai berkeringat, begitu pun Petir. Tangan tangan mereka yang jarang kotor, kini sudah berdebu.


"Hufft... akhirnya bersih juga." Vay melenguh yang sudah berbaring di keramik putih.


Petir sendiri menyenderkan punggungnya ke tembok sebelah Vay rebahan. Perlahan, kepala Vay naik berbantalkan paha Petir.


"Apa kaki mu masih sakit?"


"Nggak. Ini sudah enakan." Petir berbohong demi tidak membuat Vay cemas. "Vay, aku boleh pinjam handphone mu? Mengingat kita akan mandiri, sebaiknya kita beli peralatan memasak."


Vay merogoh jeansnya. Sembari berkata, "Handphone mu kemana?"


"Ketinggalan di rumah, Mama." Kenyataannya, Nata pun menahan semuanya.


Hening, Petir menyibukkan berbelanja online dengan memilih magicom, kompor dan keperluan lainnya. Petir sengaja berbelanja di tokoh online yang alamatnya tidak jauh agar segera dikirim langsung hari ini juga.


"Ini uang belanja dalam satu minggu ini. Besok, aku akan mulai melamar pekerjaan. Doakan aku ya."


Mata Vay berkaca kaca. Sejatinya, Vay ingin sekali meraung raung protes di depan Ayahnya, tetapi melihat mata Petir yang bersungguh-sungguh dan gigih di depan semua keluarganya, ia pun hanya diam dan akan mempercayai suaminya. Di sini, hanya kesabaran, usaha dan waktu lah yang akan menjawab kegigihan suaminya.


"Aku juga akan bekerja," ide Vay. Mengingat dirinya punya keahlian khusus dalam teknologi, pasti banyak perusahaan yang tertarik menggunakan jasanya.

__ADS_1


__ADS_2