Menculik Calon Istri Orang

Menculik Calon Istri Orang
Bab 34


__ADS_3

Embun dan kabut pagi tersisih oleh sinar mentari cerah. Petir dan Vay menyambut hari ini dengan semangat penuh perjuangan.


"Vay, kita memang sudah halal untuk melakukan apapun di dalam kamar sempit ini. Namun Vay, aku belum ingin menyentuhmu karena aku saat ini memang belum layak meminta hakku."


"Apa maksudmu?"


"Sebelum aku membawamu keluar dari penderitaan ini dan sebelum aku menikahi mu secara resmi dengan restu ikhlas dari Ayahmu, aku merasa belum pantas memilikimu seutuhnya. Ku harap, kamu mengerti ku, Vay."


"Cukup sampai disini penjelasanmu yang terasa omong kosong alasannya. Aku paham maksudmu, ini pasti ada sangkut pautnya persyaratan egois ayah ku."


Saat ini, Vay sedang membantu Petir merapikan dasi suaminya. Dalam diam, ia mengingat obrolannya bersama Petir semalam sebelum mereka tertidur dalam perasaan berkecamuk masing-masing.


Vay ingin sekali menghampiri Ayahnya dan memprotes persyaratan egois orang tuanya itu. Tetapi ia berpikir panjang, kalau ia demo dan terus menampakkan diri di depan Ayahnya, maka pasti ia dan Petir akan dianggap kalah.


Semalaman Vay, membolak balik dirinya yang gelisah dan susah tidur hanya karena memikirkan jalan keluarnya.


Dan pagi ini, melihat wajah cerah sang suami yang sangat bersemangat mencari kerja dengan ijazah S2 karena memang ijazah S3-nya masih tergantung yang study-nya belum selesai, Vay pun memutuskan untuk mengikuti dan mengimbangi permainan ayahnya.


Ia ingin melihat suaminya berdiri bangga suatu saat nanti dan tentu saja ia akan setia menemani dan menyemangati setiap saat. Pada saat itulah, ia ingin berbangga di depan mata Ayahnya. Titik.


"Selesai!" Vay tersenyum manis setelah dasi itu sudah terpasang apik di kerah baju kemeja putih Petir, layaknya pelamar kerja pada umumnya.


"Doakan aku, Sayang. Semoga hari pertama, membuahkan hasil." Petir mengangkat dagu Vay, sehingga wajah indo istrinya mendongak sempurna. "Aku bersyukur mendapatkan mu!" Cup.... Satu kecupan mesra jatuh di bibir Vay. Lalu lanjut mengecup kening istrinya.


Wajah putih istrinya tersipu seketika. Petir merasa kecantikan Vay bertambah kalau wanitanya ini bertingkah malu malu.


"Hati hati di jalan."


"Eum... jaga diri di rumah."


Petir pun pergi setelah mendapat ciuman di punggung tangannya.


Sementara Vay, Wanita itu juga segera bersiap siap merapikan penampilan dirinya se-profesional mungkin. Ia pun ingin berjuang mencari pekerjaan seperti suaminya.

__ADS_1


***


Matahari semakin tinggi merangkak di atas sana. Teriknya serasa di atas kepala Petir dan Vay yang saat ini berada di lain tempat masing-masing.


Vay mendengus kesal. Begitupun Petir. Bagaimana tidak, mereka berdua sudah masuk ke perusahaan yang nyatanya ada pengumuman lowongan pekerjaan, namun setelah membaca CV-nya, mereka ditolak mentah mentah.


Bukan hanya satu, tetapi semua yang mereka singgahi, hampir responnya sama.


Apa yang salah? Nilai mereka luar biasa dalam bidangnya. Petir juga mempunyai piagam nyata sebagai penobatan lulusan terbaik sewaktu S2.


"Maaf, lowongan pekerjaan yang tertulis di depan sebenarnya sudah ada yang mengisi posisinya."


Dan banyak lagi alasan yang di dengar oleh Petir.


Di sisi Vay, saat ini masih bernegosiasi dengan HRD pria di depannya.


"Saya bisa menjadi ahli IT di perusahaan ini, Pak. Beri saya kesempatan untuk memajukan perusahaan."


Vay menyerah, dia balik ke rumah petaknya karena sudah berjanji pada Petir, ia akan menyambut suaminya itu dengan masakan pertamanya.


Sementara Petir, pria itu masih kekeuh memasuki gedung demi gedung untuk menawarkan CV nya yang sebenarnya aset besar karena kecerdasan anak sulung Langit itu tidak usah dipertanyakan lagi.


"Maaf, Pak. CV Anda memang tidak perlu dipertanyakan lagi. Tetapi jujur, saya sudah diperingatkan atasan untuk tidak menerima nama Anda."


Cukup!


Petir sudah yakin akan praduganya sebelumnya yang pasti ada campur tangan mertuanya itu yang sudah mem-blacklist namanya.


"Saya permisi!" Petir pamit dengan rasa kecewa. Ia ingin mengamuk. Tetapi rasanya juga kekanak-kanakan kalau ia memberi bogeman pada HRD - HRD yang ia temui. Mereka tidak bersalah. Mereka hanya mendapat titah atasannya.


"Bagaimana ini?" Petir kebingungan. Ia menaruh bokongnya duduk di halte. Panasnya udara serta asap polusi kendaraan, kini mampu membuat Petir melenguh capek. Baju putihnya hampir basah karena keringat. Untung ada jaket yang melapisi kemejanya yang berbau matahari sekarang.


"Kalau aku pulang tanpa kabar baik, pasti Vay akan sedih." Petir menangadakan matanya ke atas langit cerah. Pupilnya memicing melawan silaunya. Lama lama perih, bukan karena sinar itu menyakitinya tetapi ia hendak mengeluarkan air matanya. Bukan pula karena cengeng atau sudah menyerah yang perjuangan hidupnya ini baru dimulai, tetapi Petir hendak menangis karena takut Vay akan menyerah di sisinya.

__ADS_1


Ibarat kata, Petir bersedia menaiki bukit dan menyelami samudera, asalkan wanita yang ia cintai itu setia bersamanya.


"Ini bukan waktunya melamun dan meratapi nasib, Petir. Kalau pun di kantoran tidak ada yang menerimamu, maka pekerjaan lainnya juga masih banyak. Terpenting, hasilnya halal untuk Vay makan." Petir menyemangati diri sendiri. Ia pun kembali bangkit dan berjalan tanpa arah tujuan pasti. Tenggorokan yang kering, ia lawan. Tadi, ia sudah membeli air mineral berukuran kecil. Makan di warteg pun sudah. Mulai saat ini, ia harus prihatin.


Di sepanjang perjalanan, Petir melihat proyek gedung yang sedang dikerjakan para tukang tukang. Ada beberapa alat berat di dalam sana termasuk mobil molen yang sedang beroperasi mengaduk beton dalam skala besar.


"Apa di sana ada lowongan?" gumam Petir. Tidak ada lowongan berdasi, kerja pikul beban berat pun jadi. Toh, ototnya ini besar.


Baiklah, Petir memutuskan untuk mendekat ke arah pria yang ia tebak adalah mandornya.


"Permisi, Pak."


Orang berhelm kuning khusus proyek itu, menoleh ke sumber suara Petir.


"Iya?"


"Apa di sini, masih butuh tenaga kerja?"


Sang mandor meneliti terlebih dahulu penampilan Petir yang sepertinya tidak pantas untuk jadi kuli bangunan. Badan profesional bak atlet, kulit bersih dan rahang kokoh tampan. Harusnya, pria ini jadi model saja, batinnya dalam hati. Tetapi karena proyek memang deadline, ia pun mengiyakan.


"Alhamdulillah..."


Sang mandor tersenyum melihat secerca kebahagiaan di raut serta suara syukur Petir.


"Mulai lah bekerja. Bayarannya perhari atau perminggu, terserah para kuli saja. Dan kalau hari ini, saya hanya menghitung upah mu setengah hari karena sudah jam dua siang. Dan kadang kala, para pekerja sering lembur karena proyek memang sedang diburu waktu. Siap? "


" Siap empat lima. Heheh... "Petir menjawab sembari hormat ala ala ke tiang bendera.


Mamdor itu pun tersenyum. Lalu mengantar Petir ke bagian pekerjaannya.


Dan sepanjang hari itu, Petir bekerja keras. Inilah namanya kerja banting tulang sesungguhnya yang memang harus menguatkan tulangnya untuk memanggul semen dan alat campuran beton lainnya. Baju putih bersih berdasi yang Vay pasangkan tadi pagi, kini sudah berantakan. Dasinya pun ia kantongi sedari awal memegang pekerjaan berat itu.


Tak apalah hari ini bekerja berat lebih dahulu demi menyambung hidup dan agar dapur istrinya berasap. Selanjutnya, ia akan berpikir jalan keluarnya sembari bekerja di proyek tersebut.

__ADS_1


__ADS_2