
Sudah satu pekan, Vay dan Petir menikmati hidupnya di pulau tersebut. Hari hari mereka selalu indah meski hanya berdua saja. Berjemur dan berenang di laut adalah aktivitas wajib mereka. Tak lupa main pasir serta lempar lemparan pasir basah pun jadi. Mereka sudah tidak ingat pulang.
Plaakkk...
Satu kepalan pasir basah, mendarat sempurna di wajah Vay dari lemparan asal asalan Petir.
"Lo mah bikin mata gue kelilipan!" 'Aku kamunya' dari mulut Vay, sudah ganti lagi Lo dan Gue. Gadis itu cemberut sembari mengucek matanya yang benar perih terasa.
"Duhhh... Maaf ya. Sini...!" Petir menuntun tangan itu ke bibir pantai. Masuk ke air dan berhenti di kedalaman pinggang Vay.
"Aku bersihkan." tawar Petir ingin mengambil air menggunakan kedua telapaknya. Tetapi Vay menahannya.
"Itu kelamaan...!" Katanya lalu dengan cepat menyelusupkan kepalanya ke dalam air. Vay membuka mata di dalam air. Ia langsung di suguhkan wajah Petir yang ternyata ikut menyelam. Mereka tersenyum simpul sembari berpegangan tangan, mesra.
Tangan bebas Petir pun beringsut menyentuh pipi Vay yang masih bertahan menyelam bersama. Dari pipi, kini tangan itu turun ke dagu. Kepala Petir kian maju. Lalu cup... Ciuman singkat jatuh di bibir Vay di dalam air. Setelahnya, kepala mereka pun muncul untuk mencari oksigen.
Vay tersenyum manis, begitu pun Petir.
"Love you..." bisik Petir. Vay yang no jaim jaim sama sekali, segera mengalunkan kedua tangannya di leher pria yang sudah membuat hatinya nyaman dan selalu berbunga bunga.
"Lovo you too..." sambut Vay dalam jarak satu jengkal wajah mereka.
Petir tersenyum nakal sembari menatap bibir ranum sang kekasih. Kepalanya ia miringkan demi mencari posisi nyaman. Dan keduanya kembali memadu bibir dengan alam sebagai saksinya. Kalau ada untaian mengatakan 'Dunia hanya milik berdua,' maka itulah yang Vay dan Petir rasakan. Sangat sangat manis kisah mereka saat ini.
"Aku sudah tidak sabar memiliki mu dalam arti seutuhnya, Vay." bisik Petir setelah pagutan mereka terlepas.
Vay tidak menjawab. Ia hanya tersenyum manis sembari melepaskan kalungan tangannya dari leher Petir.
__ADS_1
"Mau kemana?" Petir menahan pinggang basah itu saat Vay ingin keluar dari laut. Bagian depan mereka menempel satu sama lain. Vay merasakan ada yang keras dan tumpul di bawah sana mendesak. Ia bukanlah wanita naif yang tidak mengetahui kalau Petir sedang On saat ini.
Tidak mau menyiksa hasrat Petir yang ditahan tahannya, Vay dengan iseng mendorong dada polos Petir sebagai pengalihan hasrat yang mereka pendam satu sama lain. Meski lebih lama tumbuh di luar negeri, Vay tetap saja menjunjung tinggi adat istiadat ketimurannya. Pantang bobol sebelum dihalalkan.
"Hahahaha..." Vay tertawa sembari beringsut keluar dari air. Ia tidak peduli dengan Petir yang berhasil terjebur akan dorongan kerasnya tadi.
"Ish...reseh sekali!" Petir mengusap hidungnya yang perih karena ada air yang masuk. Ia pun menyusul Vay yang sudah duduk di bibir pantai. Membiarkan kaki itu terkena ombak kecil.
"Apa kamu lapar?" tanya Petir sembari duduk di sebelah wanita yang basah kuyup ini.
Vay menggeleng. Sejurus mengukir inisial namanya dan Petir menggunakan satu jarinya. Ada 'Love' di tengah tengahnya. Lalu, tulisan manis itu di sapu air yang terbawa ombak menyisahkan separuh gambar hati tersebut.
"Penghapus alami!" cibir Vay. Lalu menoleh ke samping. Di mana Petir menatapnya penuh kasih sayang.
"Apa?" tanya Vay dengan alis itu terangkat satu.
"Eum... Janji!" jawab Vay seraya mengangkat tangannya untuk menyentuh punggung tangan Petir yang masih berada di pipinya itu.
"Terbaik!" Petir kembali iseng. Ia menarik kuat hidung bangir itu, sampai memerah baru ia lepas.
"Sakit tau!" Beo Vay ingin membalas tetapi tangan Petir refleks menangkisnya.
"Nggak kena, bleee!" Petir memeletkan lidahnya.
"Ngalah dong! Sini ah, gue mau balas!" rengek Vay sampai ia berlutut karena gemas pada tangan Petir yang selalu menghadangnya. "Gue marah nih!"
Petir tersenyum, lalu segera memberi akses pada Vay. Ia ingin tau, apa yang akan dilakukan oleh wanitanya itu.
__ADS_1
"Silahkan dipukul!" tantang Petir namun tangan satunya segera memamerkan sebuah kalung berlionting bekas cangkang kerang unik yang baru ia tarik dari saku basahnya.
Auto Vay tidak jadi memikulnya. Mata indah itu berbinar suka pada hadiah Petir. "Wah... Indah sekali!" Vay mengambil kalung buatan Petir yang memang estetik itu.
"Kamu suka?"
"Sangat!"
Petir tersenyum lega. "Aku pakaikan!"
Vay mengangguk lalu memberikan kalung tersebut ke Petir. Ia pun membalik tubuhnya agar Petir mudah memakaikannya.
"Jangan dilihat dari segi recehnya. Tetapi ingat lah kalau aku tulus membuatnya." ujar Petir sembari memasang kalung itu.
"Eum... Berlian pun kalah!"
"Lebay..." Petir tersenyum geli karena sudah menggoda Vay lagi.
"Lo mah, bikin suasana buruk terus. Aneh deh!" protes Vay. Dari kecil pria ini selalu sukses membuatnya kebakaran jenggot dalam waktu tiba-tiba. Kadang manis, eh mendadak jadi monster nyebelin baginya.
"Eh, Vay... Ada helikopter!" Petir menelan kembali kata kata godaannya karena sudut matanya menangkap sebuah helikopter yang masih jauh di atas sana.
"Gue nggak percaya!" Vay enggan ditipu. Petir ini kan monster nyebelin. Jadi pasti hanya berbohong mengerjainya.
"Ihh, benar tau!" Petir sampai memaksa kepala Vay mendongak ke atas.
"Ehh.. Iya...! Waaahhh... Itu heli Opa Kemal!" Dari kejauhan saja, Vay bisa hafal transportasi udara milik keluarganya.
__ADS_1
"Aaaa, senang deh. Kita akan pulang, Petir! Bantuan sudah datang!" Vay tersenyum bahagia sembari berjingkrak jingkrak dengan kedua tangannya melambai ke atas, sebagai kode pada heli yang ada di atas sana.